Mengamputasi Empati

isaOleh: Isa Ansori

MEPNews.id – Menurut Anda, apakah manusia akan bisa hidup tanpa bantuan oran lain? Jawabannya tentu bisa. Banyak contoh klasik. Misalnya, Tarzan. Dia bisa hidup di hutan tanpa bantuan orang lain. Tapi, pertanyaan selanjutnya, apakah perilaku Tarzan kemudian memgambarkan perilaku manusia yang utuh? Ternyata Tarzan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia. Tapi Tarzan punya kelebihan mampu berkomunikasi dengan hewan yang ada di lingkungan hutan.

Ada dua hal yang bisa kita lihat dari cerita klasik tersebut. Pertama, lingkungan sangat berpengaruh terhadap cara hidup kita. Kedua, kesesuaian lingkungan menjadikan kita bisa menempatkan diri pada perilaku budaya lingkungan itu. Biji yang baik akan tumbuh dengan baik di mana pun dia ditanam. Jangankan di tempat yang subur, di tempat yang kering pun dia bisa tumbuh –meski butuh perjuangan lebih besar.

Nah, kembali pada pertanyaan di atas. Manusia akan bisa berkembang dan tumbuh dengan baik apabila dia hidup di tengah lingkungan manusia. Pertumbuhan dengan baik itu juga dipengaruhi situasi lingkungan. Peribahasa bijak mengatakan, “Kalau ingin wangi maka bergaulah dengan penjual  parfum. Kalau ingin bau amis maka bergaullah dengan penjual  ikan.” Atau kata bijak lain, “Asahlah pisau dari sisi tajamnya, jangan asah dari sisi tumpulnya.”

Kemampuan Merasakan Apa Yang Dirasakan Orang Lain

Pernahkah Anda bermain puzzle? Dalam permainan itu tentu Anda ingat perubahan posisi puzzle akan berpengaruh pada posisi puzzle yang lain. Hidup dalam lingkungan bersama orang lain tentu bisa diibaratkan kita adalah satu petak puzzle dan sedang memainkan peran puzzle agar bisa pada posisi yang benar. Kesalahan menempatkan diri pada posisi yang tepat akan berdampak pada sulitnya posisi puzzle yang lain berada pada posisi yang tepat. Maka, dalam hidup, kita tidak bisa berpikir hanya kepentingan sendiri. Di saat kita berpikir untuk kepentingan sendiri, saat itu lah kita telah mengamputasi kepentingan orang lain.

Kemampuan merasakan dan memahami kepentingan orang lain itu disebut empati. Dalam empati dituntut kemampuan melibatkan perasaan orang lain. Sehingga, empati akan menjadi pengendali kita dalam bersikap dan bertutur. Empati lah yang bisa menjadi alarm bagi setiap apa yang akan kita kerjakan.

Empati mencakup respon tersendiri terhadap perasaan orang lain, antara lain; rasa kasihan, kesedihan, rasa sakit. Empati memainkan peranan penting dalam berbagai bidang ilmu; kriminologi, psikologi, fisiologi, pedagogi, filsafat, kedokteran, psikiatri, dan lain-lain. Dalam empati terdapat rasa keterlibatan emosional seseorang terhadap realitas yang mempengaruhi orang lain lain.

Seseorang bisa berempati pada orang lain dengan cara memberikan kontribusi untuk memahami emosi orang lain dan berkomunikasi dengan sesama manusia. Tanpa bicara, empati pun bisa dipahami satu sama lain. Dengan ketidaksepakatan pun empati akan muncul. Empati bisa muncul dari pesan verbal dan non-verbal dalam ‘membaca’ atau pemahaman dari orang lain.

Membuka Diri Sebagai Upaya Menempatkan Diri

Self Disclosure (membuka diri) merupakan upaya pengungkapan reaksi dan tanggapan orang lain tentang situasi yang dihadapi. Dalam self-disclosure juga akan terjadi pemberian informasi yang relevan  tentang peristiwa masa lalu untuk pemahaman masa depan.

Membuka diri berarti juga membagikan kepada orang lain tentang perasaan terhadap sesuatu yang telah dirasakan atau dilakukannya, atau pemberitahuan tentang perasaan seseorang terhadap kejadian-kejadian yang baru disaksikan dan dirasakan. Membuka diri sejatinya akan menempatkan diri kita pada posisi yang tepat ketika bersama orang lain.

Membuka diri juga berarti bahwa seseorang menaruh perhatian pada perasaan dan terhadap kata-kata atau perbuatannya. Rela menerima pembukaan diri dan rela atau mau mendengarkan reaksi atau tanggapan terhadap situasi yang dihadapinya sekarang maupun terhadap kata-kata dan perilaku yang ditampilkannya.

Membuka diri bisa digambarkan sebagai sebuah proses  menjadikan diri mampu berperan pada posisi yang tepat sehingga tidak mengamputasi perasaan kita dalam memahami orang lain.

Nah, Kawan… Sejatinya di mana saja kita berada, kemampuan kita memahami perasaan dan kepentingan orang lain merupakan kebutuhan dasar penting dalam membangun relasi. Apalagi kalau kita hidup dalam sebuah kelompok yang mempunyai tujuan.

Di dalam hidup berkelompok, atau orang sering menyebutnya sebagai organisasi, harus dipahami bahwa ada tujuan kelompok yang harus dicapai dengan cara-cara pribadi yang kita lakukan. Itu artinya dalam menyampaikan pesan-pesan berkaitan dengan kepentingan kelompok, kita harus bisa menempatkan diri pada kepentingan kelompok di atas kepentingan ego. Meski kita juga harus menyadari kadangkala saking bersemangatnya kita dalam memperjuangkan kelompok maka kita lupa apa yang kita lakukan justru akan menghambat capaian kepentingan kelompok.

Membuka diri dan menumbuhkan kemampuan memahami orang lain akan mendorong kita lebih terjaga dalam bersikap dan bertutur, karena kita sanggup menahan diri dan menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan diri.

Akhirnya, dalam hidup kita tidak bisa selalu mengikuti kata hati kita, apalagi kalau kita berada di tengah banyak orang atau kita menempatkan diri pada kehidupan berkelompok. Mengutamakan kepentingan  kata hati tanpa mau peduli terhadap kepentingan dan perasaan orang lain juga akan memengganggu kepentingan yang lebih besar, akan menjadikan kita sebagai orang mengamputasi perasaan empati.

Keadaan empati, atau pemahaman empatik, merupakan cara untuk memahami kerangka acuan internal lain dengan memaknai komponen emosional yang dikandungnya, seperti yang dirasakan orang lain. Dengan kata lain, menempatkan diri di tempat lain, seperti “seolah-olah menjadi.” sehingga kita lebih bisa berhati-hati dan menahan diri.

“Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

“Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bagus qadha-nya.” (HR. Bukhari No. 2305, Muslim No. 1601, dari Abu Hurairah)

Maksud qadha adalah yang paling konsisten menepati kebenaran yang wajibkan kepadanya. (Ta’liq Mushthafa Al Bugha, 2/809)

Facebook Comments

POST A COMMENT.