Tanah Surga

husen 2Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id – Siapa yang tidak bangga melihat orang-orang dari golongan apa saja senantiasa rutin berada di dalam majelis ilmu? Semakin banyak majelis ilmu, semakin alhamdulillah. Jika kebetulan saudara seiman kita lihat-lihat kok tidak datang, fikiran baik sangka akan menerawang: “Ah, mungkin ia sedang rutin di majelis ilmu yang lain.”

Di samping itu, saking banyaknya majelis ilmu, mungkin dalam 7 hari ada 7 kelompok majelis ilmu dalam satu daerah. Ledekan-ledekan kecil yang mungkin menohok hati atau bahkan terkadang mengoyak perasaan mungkin akan mulai berkurang. “Ngapain mencari ilmu jauh-jauh? Kalau jauh itu namanya rekreasi!”

Saya sendiri terkadang jauh-jauh rekreasi untuk mendatangi apa yang oleh kebanyakan orang lazim disebut majelis ilmu. Dari Banyuwangi, saya terkadang ke Jombang, ke Surabaya, pernah juga dua kali ke Jogja, dan satu kali di Jakarta tahun 2007, tapi justru saya datang dengan niatan rekreasi. Saya tidak sedang berfilosifis bahwa sebaiknya niat yang asli cukup Allah Sang Maha Kekasih saja yang tahu. Perkara dari niat rekreasi lalu saya mendapatkan ilmu serta mendapatkan pinjaman uang, misalnya, ya amat, sangat, alhamdulilah sekali.

Ngapain susah-susah, kalau banyak yang bisa dibuat mudah?

Ada seorang dosen yang tatkala menguji skripsi cuma tanya: “Sebutkan urutan nama stasiun dari kota tempat tinggalmu hingga ke kota kampus tercintamu ini.”

Setelah dengan agak terkejut dan terpaksa jawab saja karena toh yang menyuruh dosennya, si mahasiswa kemudian balik iseng-iseng tanya karena penasaran: “Kenapa bapak tanya nama-nama stasiun?”

“Ilmu kamu sudah banyak. Saya hanya ingin menguji kepekaan sosial kamu melalui urutan nama-nama stasiun yang kamu sebutkan itu,” jawab si dosen, gampang dan nggak ribet.

Ada seorang penikmat kopi hitam berujar, “Jadi, ayo kita senantiasa memperbanyak diri untuk selalu bergembira.”

“Kok bergembira? Kenapa nggak bersyukur?” ndilalah ada yang menggoda nyeletuk tanya seperti itu.

“Waduh, bersyukur itu jatah kata-kata para ustadz. Ntar kita dibilang pengajian dan sok alim. Mending bergembira saja deh. Hati seneng meski sekedar bisa ngopi dan tagihan kredit masih belum jelas bisa bayar apa enggak,” jawab si penikmat kopi hitam dengan gampang saja, dan asal bunyi saja.

Ada pasangan suami istri yang menempati rumah sekenanya bersama seorang anak. Dengan gampang sang suami memotivasi istrinya, “Bayangkan sekarang kita hidup di Kanada. Jadinya ya kita wajib sangat ber-alhamdulillah kebagian nasib rumah se-ngawur ini…”

Apa saja benar. Apa saja tidak ada yang salah. Koes Plus bernyanyi: “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

Sangat benar Koes Plus itu. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Bahkan saking suburnya tanah negeri kita ini, kejahatan yang ditancapkan segera menjelma kebaikan yang begitu sangat memancar hingga menjadi tokoh dan pahlawan; cukup dengan dimasukkan ia sekali dua kali ke sel tahanan penjara.

Begitulah tanah surga. Selalu membahagiakan dan tak pernah mengenal rasa putus asa sama sekali. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.