Muadzin di Telinga Bayi

Cerpen Achmad Munif

MEPNews.id — Fauzan tersentak dari lamunan ketika ada suara orang mengucapkan salam dari luar. Anak muda itu bangkit dari kursi melangkah ke pintu. Di depannya seorang lelaki tak dikenal tersenyum ramah. Laki-laki tak dikenal itu mengacungkan jari telunjuknya.

“Saudara Fauzan?”

“Ya, saya Fauzan. Tapi banyak orang memanggil saya Zan saja. Dan saya suka panggilan itu. Bapak?”

“Saya Wahab Wibisono. Tapi panggil saja Wahab. Saya suka panggilan itu.”

“Apa yang bisa saya bantu , Mas Wahab?”

“Begini saudara Zan, saya diminta ketua Takmir di masjid desa kami untuk meminta anda datang.”

“Untuk?”

“Saudara ikut saya saja. Nanti ketua takmir sendiri yang akan menjelaskannya. Demikian pesan beliau.” Fauzan masih bertanya-tanya di dalam hati ketika memasuki mobil yang menjemputnya. Setelah mobil melaju sekitar setengah jam mereka sampai di sebuah masjid yang tampaknya masih baru. Fauzan heran, sebab yang dikatakan masjid desa oleh penjemputnya itu ternyata sebuah masjid yang sangat besar dan megah. Di halaman masjid sudah menunggu beberapa orang yang tampak sedang bicara-bicara. Ada sekitar 5 orang yang ada di halaman itu. Mereka berebut membukakan pintu mobil bagi Fauzan. Laki-laki muda itu merasa tidak enak juga disambut demikian rupa. Menurutnya terlalu ramah. Fauzan merasa terlalu muda untuk diperlakukan seperti itu.

“Saudara Fauzan, silakan, silakan.”

Mereka berganti-ganti menjabat tangan Fauzan. Mereka kemudian masuk ke dalam kantor takmir di sebelah masjid yang tidak kalah bagusnya. Di dalam meja di kantor itu, sudah tersedia beberapa gelas minuman dan beberapa piring makanan kecil. Fauzan diminta duduk di antara tuan rumah. Mereka bicara ke sana ke mari. Seseorang yang mengenakan baju batik warna coklat cerah dan memakai pecis hitam yang rupanya ketua takmir membuka percakapan yang lebih serius.

“Begini saudara Fauzan. Masjid ini baru saja diserahkan kontraktornya kepada kami kemarin. Hari ini bakda Ashar nanti masjid ini akan diresmikan bapak Bupati. Bersama anggota takmir dan para jamaah bapak Bupati akan shalat jamaah Ashar. Kami membutuhkan seorang muadzin. Kami mendengar kabar suara saudara Fauzan seorang muadzin dengan suara emas.”

Fauzan memandang satu persatu orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Kami berharap saudara Fauzan mau menolong kami.”

“Lho apakah di sini tidak ada muadzin, bapak-bapak?”

“Muadzin banyak, tapi tidak seorangpun yang mempunyai suara seindah suara saudara. Kami anggota takmir ingin sebelum bapak Bupati shalat di masjid ini bisa mendengarkan suara adzan yang istimewa merdunya. Agar bapak Bupati punya kesan istimewa terhadap masjid kami ini saudara Fauzan. Setelah kami mengadakan survei lebih sebulan, kami berkesimpulan hanya suara anda yang bisa menggetarkan hati bapak Bupati.” ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.