Kebo Nyusu Gudel dalam Era Milenial

Oleh Astatik Bestari

MEPNews.id- Minggu 15 April 2018 saya membuat status facebook bertopik jual beli online. Dalam status tersebut saya sertakan 2 foto kegiatan pembelajaran Paket C mata pelajaran ketrampilan fungsional yang baru saja kami selesaikan saat itu. Status facebook ini mendapat tanggapan komentar dengan titik berat pada pembelajaran di Paket C, tentang kelas yang super sederhana, tentang kontra pendapat dengan status saya ketika saya bandingkan dengan pembelajaran sekolah formal dan yang terkahir tentang gaya komunikasi generasi era milenial. Berikut ini status facebook yang saya maksud
Pertemuan sore tadi, kami diskusi tentang jual beli online dalam materi pelajaran ketrampilan fungsional.

“Apa beda COD ( Cash On Delivery) dengan DO ( Delivery Order) ya?” saya melempar tanya ke forum diskusi

“Kalau COD itu bisa janjian di tengah tengah antara tempat tinggal penjual dan pembeli. Sedangkan DO , pembelinya nunggu di rumah. ..” ini jawaban Yusuf sang ketua kelas.

“Kalau DO itu biasanya spesifikasi pada makanan” ini pendapat Aisyah yang sudah menjalani bisnis online.

Dari bahasan DO dan COD , pindah topik ke penjualan sistem dropship dan reseller. Peserta didik yang biasa saya panggil Vero menyajikan tema online ini menjelaskan bisnis online dalam sistem reseller pakaian dan make up. Lagi lagi saya tanya

“Pelaku dropship/ dropshiper itu bayangan saya pasti ndak bisa menyakinkan pembelinya kalau barang yang ditawarkan itu bagus atau tidak…”

“Dropshipernya ya beli contoh barangnya dulu sebelum dijual, Bu. Harus berkorban untuk hal itu” ini jawaban ketua kelas lagi.

“Iya, namanya mereview barang” timpal Aisyah.

“Oiya, bagaimana mengetahui kalau barang yang dijual itu benar benar original bukan KW karena ada saja barang yang dijual ternyata palsu. Firda bisa jawab?”

Saya tunjuk peserta didik yang pernah presentasi jual beli make up online

“Dilihat ada BPOM nya atau tidak , Bu” Firda itu cantik dan pembawaannya energik, tapi kalau urusan bicara ia malu. Seperti menjelaskan make up yang ori dan KW.

Bahas BPOM, kami tergiring ke masalah proses perizinaan BPOM lalu berlanjut Go Food yang diPHP, packing barang untuk dikirim ke pembeli dan lain lain.

Ada yang mengatakan jual beli online itu tidak capek, ada yang mengatakan yang tidak capek pembelinya, penjual onlinelah yang capek: capek packing, capek kirim barang ke kurir, capek kirim resi ke pembeli.

Dalam hati, saya berdecak kagum kepada mereka, mereka benar benar generasi milenia, paham ini itu yang difasilitasi perkembangan teknologi.
Paket C dan Paket B bisa berdiskusi panjang lebar begini karena ada kesmpatan dan bebas memilih ketrampilan yang mereka tekuni.

Ayooo…sekolah Paket A,B atau C di PKBM BESTARI

Dari komentar- komentar status tersebut ada komentar yang cukup menarik (menurut saya) karena fokus menyoal jual beli online dan prilaku generasi milenial.
Nama akunnya Jafar Sodiq, berkomentar seperti ini
“Era milineal dimana ruang tidak lagi jadi syarat mutlak membuka lapak bagi yang pengen sukses”. Saya pikir dan juga saya saksikan dari para pelaku bisnis online memang pendapat tersebut benar sekali. Lalu saya respon komentarnya
“Begitulah” Singkat, karena memang tak perlu ada yang disangkal dan ditambahi. Lalu akun tersebut berkomentar lagi
“Namun ada kewaspadaan yang sharusnya makin diperhatikan, generasi milineal makin tergerus dari ajaran moral dan etika, utamanya etika berkomunikasi”. Well, saya setuju juga dengan komentar tersebut. Tanggapan saya saya tulis begini
“Menarik ini. Saya terkadang merasa risih dengan komunikasi yang dianggap lumrah padahal kurang etis.Mulai dari sapaan, cara menanggapi proses transaksi dan pasca transaksi.” Rupanya ini menjadi bahasan yang patut dipertajam, akun tersebut berpendapat lagi
“Komunikasi memang soal rasa tidak semata logika, sedangkan era melinial lebih memupuk logika yg kadang sedikit mengesampingkan rasa”
Saya menimpali komentar tersebut
“Adakalanya, manusia era milenial belajar berkomukasi dari mencontoh gaya komunikasi komunitas social media yang ia ikuti, bukan pada kepantasan adat dan etika budaya yang berlaku di lingkungannya yang sudah terbangun lama dan dianggap sebagai moral. Gaya komunikasi yang digunakan sering seolah sebagai trend, padahal tak enak dirasa”. Lalu akun tersebut memberi kesimpulan
“Ini mungkin yg akhirnya jadi kenyataan, ‘kebo nyusu gudel’, karena generasi old mesti ngangsu kaweruh pada generasi now”.

“Wah, memang iya! Saya merasakan banyak belajar dari generasi milenial ini, nampak pada diskusi kelas Paket C tersebut. ” Saya membenarkan pendapat tersebut seratus persen dalam hati dan saya tulis singkat dalam komentar saya
“Well … Sangat mathuk” ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.