Meruwat Raga Merawat Jiwa

Catatan Oase ::
IMG-20180331-WA0160

M. Isa Ansori

MEPNews.id —- Adakah diantara kita yang tak pernah melakukan kesalahan?  Jewabannya pasti tidak ada,  setiap kita pasti pernah melakukan kesalahan. Entah kesalahan itu disengaja atau tidak.
Kesalahan adalah sebuah penanda tentang ketidaksempurnaan manusia. Dengan kesalahan itu pulalah maka ada kewajiban bagi kita semua untuk belajar. Sebagaimana ketika Tuhan memerintahkan kepada Rasul Nya untuk ” Membaca “.
Membaca dalam pengertian yang lebih luas tidak hanya dimaknai hanya sekedar membaca buku,  tapi juga bisa berarti mengamati segala hal yang terjadi disekitar kita lalu melahirkan sebuah kesimpulan. Misalnya mengapa seringkali terjadi penyimpangan perilaku dikalangan pelajar kita?  Atau mengapa korupsi tak henti henti padahal ancaman hukumannya sangat berat?  Mengapa  juga peredaran narkoba tidak semakin surut, padahal tindakan tegas terhadap pengedar narkoba juga sudah sering dilakukan?. Nah sederet pertanyaan pertanyaan  tersebut  merupakan bagian dari membaca situasi. Sehingga  setelah  itu pasti melahirkan sebuah aktifitas mencari tahu dan melahirkan sebuah  kesimpulan.
Meruwat Diri
Kesimpulan atas sebuah peristiwa  akan melahirkan cara. Sebagaimana  tradisi jawa,  bila dirasakan mengapa hidup ini kok seringkali mendapatkan musibah,  lalu ada pertanyaan kesalahan apa yang telah dilakukan?
Atau mengapa hidup ini kok terasa sulit sekali,  apa yang menjadikan hidup ini terasa sulit? Dalam tradisi jawa maka akan melahirkan sebuah peristiwa,  peristiwa itu disebut dengan  ” ruwatan “.
Ruwatan adalah sebuah sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Sehingga diharapkan  dengan ruwatan,  segala sesuatu yang menjadi penghalang takdir baik akan bisa disingkap dan dijauhkan. Ruwatan atau Buang sengkolo dapat membuang energi negatif dalam tubuh dan akan menggganti energi positif, karena energi yang kotor dapat mempengaruhi pola hidup manusia.
Dalam ruwatan tradisi jawa disyaratkan menggunakan kain morry,  kain yang biasa digunakan untuk membungkus mayat,  bunga setaman dan air yang diambil dari tempat tempat  yang dianggap suci. Selain itu mereka yang diruwat dilarang menggunakan aksesoris keduniaan seperti cincin,  kalung dan lai lain.
Meruwat diri adalah sebuah upaya menyingkap hambatan hidup dengan jalan melepaskan diri dari hal hal yang bersifat kebendaan dan materialis,  semua  dipasrahkan kepada Tuhan. Kepasrahan itu menjadi simbol totalitas manusia meleburkan diri pada jalan ” Tuhan “. Meruwat diri juga merupakan pertanda upaya menjadikan hidup tertib dengan  segala  bentuk yang dipersyaratkan. Dalam tinjauan Islam itulah yang disebut  dengan jalan Taqwa.
Memelihara Raga
Menjalankan aktifitas hidup dengan  menjadikan diri tertib sesuai dengan syariat merupakan upaya merawat diri agar menjadi total dalam menjalankan hidup. Nah itulah yang disebut kesadaran diri menyatu dengan kehendak. Dalam tradisi jawa disebut dengan ” Manunggal “.
Sebagai  pertanyaan pengingat mengapa bangsa ini diuji oleh Tuhan secara bertubi tubi,  bencana silih berganti,  hutang tak pernah berhenti,  korupsi melanda negeri,  busung lapar terlihat nanar, kebohongan memenuhi  ruangan berindonesia kita,  fitnah  merajalela,  merasa paling baik dan paling Indonesia dan sederet kesombongan merajalela. Hukum diabaikan,  tajam kebawah,  tumpul  keatas dan kesamping,  ambisi dan serakah menjadi  budaya dan sederet kecongkaan menjelma.
Nah bukankah itulah yang ditunjukkan oleh Iblis ketika Tuhan memerintahkan kepada seluruh penghuni surga untuk menghormati  manusia bernama Adam. Ketika semua tunduk dan menghormat atas dasar kepatuhan pada Tuhan,  Iblis menunjukkan jati dirinya sebagai mahluk yang merasa paling layak dihormati,  sehingga tak perlu menghormat dan menyalahkan perintah menghormat. Saat itulah Tuhan menjatuhkan takdir Nya kepada iblis sebagiamana yang diminta. Menjauhkan diri dari kemenyatuan dengan  Tuhan adalah wujud dari kehinaan.
Nah kawan… Kalau setiap upaya mengingatkan dibalas dengan kebencian,  kalau setiap kritik membangun dibalas dengan penangkapan,  kalau setiap upaya baik dilakukan selalu dbalas dengan meniadakan  dan kesombongan,  maka disaat itulah kehinaan  akan menghinggap.  Nah saat itulah kita sedang mengintimi iblis.
“Aku lebih baik darinya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad: 76)
Iblis telah menyatakan pembangkangannya dan mengumumkan penentangan dan kedustaannya. Dia menyombongkan diri atas perintah Tuhannya dan menolak untuk bersujud kepada Adam. Maka Allah pun menghukum dan menyiksanya atas penentangannya. Allah berfirman, “Maka keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk. Sesungguhnya kutukanku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS. Shad: 77-78)
Inilah permintaan iblis ketika dikeluarkan dari surga sesuai dengan firman Allah Ta’alla. Iblis meminta kepada Allah agar ia diizinkan untuk menggoda manusia dan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Dengan permintaannya ini, iblis juga melakukan berbagai tipu daya dan rayuannya agar manusia mau mengikutinya, sehingga nanti di akhirat ia memiliki banyak teman untuk ditempatkan di dalam neraka. Lalu Allah berkata kepadanya, “Tempuhlah jalan yang telah kamu pilih dan berjalanlah dalam kesesatan yang telah kamu inginkan!”
 Assalamualaikum  wr wb… Selamat pagi, Selamat berakhir pekan dan menjalankan aktivitas  aktivitas yang  berkah,  semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai hamba yang sederhana dalam sikap dan tidak berlebih lebihan… Aamien
Surabaya,  15 April 2018
M.  Isa Ansori
Pembelajar budaya,  Anggota  Dewan Pendidikan Jatim,  Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.