Menakar Kesiapan PKBM dalam Membangun Peradaban yang Lebih Santun

MEPNews.id- Dinamisnya perkembangan teknologi telah memacu mobilitas semua orang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan ragawi maupun rohani. Tentu saja, dalam setiap produk hasil pemikiran manusia yang berupa teknologi maupun jenis produk lain apapun itu ada yang berdampak positif ada pula yang disalahgunakan sehingga berdampak negatif.

Sebagaimana dibahas dalam kajian keilmuan yang mengaitkan dampak teknologi dalam kehidupan manusia adalah dampak yang mengarah pada perubahan prilaku dan pola pikir manusia, sehingga untuk menyeimbangkan dinamisnya kemajuan teknologi juga berubahnya corak jaman karena beranekaragamnya prilaku hidup yang dapat mencabut akar budaya dan moral bangsa , maka dari itu, pendidikan di PKBM ( Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) harus berkomitmen mendukung pembangunan karakter yang lebih baik dan santun.
Segenap kompen di dalam PKBM mulai dari pengelola, pendidik dan peserta didik perlu memiliki komitmen bahwa PKBM mampu mewujudkan manusia yang berkepribadian baik dan berahlaq mulia. Sebagaimana kita ketahui bahwa penyelenggaraan PKBM sebagai satuan pendidikan nonformal dan informal melayani pendidikan bagi masyarakat sesuai UU Sisdiknas 2003 tentang posisi pendidikan nonformal di antara penyelenggaraan pendidikan formal Bagian Kelima pendidikan Nonformal Pasal 26 (1)Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Maka, pendidikan di PKBM meskipun berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat seharusnya memiliki kontribusi nyata dalam menyikapi dinamika kehidupan tidak saja menyokong kebutuhan peserta didik pada ranah kebutuhan materiil seperti pemberian materi pelajaran skill dan ilmu pengetahuan tapi urgent diberikan pendidikan yang mengarahkan mereka pada pola prilaku dan mind set yang mengedepankan ahlaq mulia.Memang yang berlangsung di tengah masyarakat bahwa peserta didik nonformal di PKBM adalah mereka yang terhalang masuk pendidikan formal karena urusan kemampuan berpikir, dan atau kemampuan dana pendidikan dan atau kesempatan belajar yang terbatas, ada pula yang terhalang masuk pendidikan formal karena tidak memenuhi syarat masuk pendidikan formal ( karena batas usia yang sudah lewat misalnya) . Hal ini berbeda dengan peserta didik formal yang dapat dipastikan ketika mereka belajar di pendidikan formal sudah jelas memilki komitmen belajar dengan seperangkat keharusan yang tentunya mereka siap menaatinya. Mereka datang untuk mendaftarkan diri, mau berpakaian seragam yang telah ditentukan, masuk tiap hari rata rata 6 jam sehari dan komitmen komitmen lainnya. Kenyataan bidang garapan yang memiliki perbedaan cukup jelas antara formal dan nonformal ini menjadi tantangan yang bagi pengelola PKBM agar pendidikan yang dikelolanya tetap menghasilkan lulusan yang berdaya saing tidak saja pada tuntutan kebutuhan di dunia kerja yang mengedepankan kehebatan penguasaan ilmu pengetahuan namun juga berkontribusi nyata membangun manusia seutuhnya, manusia yang berharga karena memiliki prilaku yang mulia dan pola pikir yang baik di samping skill mereka yang mumpuni.

Anggota masyarakat yang datang ke PKBM untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan skill tertentu atau bahkan cuma butuh ijazah dan atau justru PKBM yang mengajak anggota masyarakat agar sekolah di PKBM umumnya pribadi -pribadi yang bersesuaian kemauannya dengan UU Sidiknas yang telah disebutkan di atas. PKBM bagi mereka dinilai selalu mampu memenuhi kebutuhan mendesaknya untuk terjun di tengah masyarakat ikut berproses memberdayakan diri .

Kita tidak bisa pungkiri, peserta didik di PKBM pada umumnya adalah anggota masyarakat yang memilki sejumlah alasan yang menyebabkan mereka tidak bisa bersekolah di sekolah formal. Di antara mereka ada yang drop out dari sekolah formal karena motivasi rendah, anak dari keluarga broken home, mungkin juga korban bullying, bisa jadi mereka menaggung akibat dari pergaulan bebas sehingga sekolah formal
terpaksa mengeluarkan mereka, menyerahkan kembali amanah pendidikan kepada orang tuanya. Walaupun demikian memang ada pula anggota masyarakat yang tidak masuk dari semua kategori -kategori itu, mereka terhalang masuk sekolah formal karena usia yang tidak sesuai, pada umumnya sudah lewat usia sekolah .Lalu apakah cukup PKBM mendidik mereka dengan materi pelajaran yang mana hasil belajarnya tertuang dalam catatan raport semester saja ? Menjejali mereka dengan bermacam macam ilmu pengetahuan dan skill mempresentasikan PKBM sebagai lembaga bimbingan belajar, memberikan pendidikan untuk menyokong penguasaan materi di sekolah padahal PKBM adalah satuan pendidikan yang setara dengan sekolah formal yang memiliki fungsi melaksanakan pula pendidikan karakter.

Menyinggung pendidikan karater di sekolah, marilah kita ingat kembali hal -hal terkait pendidikan karakter ini. Kebetulan saya pernah berkesempatan mengikuti sosialisasi yang diselenggrakan dinas pendidikan propinsi Jawa Timur mewakili peserta dari unsur PKBM. Menurut hasil sosialisasi pendidikan karakter ini, saya rangkum pemahaman saya bahwa pada dasarnya pendidikan karakter berpijak pada prinsip-prinsip mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter; mengidentifikasi karkter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan prilaku; menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter; menciptakan komunitas sekolah yang memiliki keprdulian; memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunujukkan prilaku yang baik; memilki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses; mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para peserta didik; mengfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama; adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter; mengfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter; mengevaluasi karakter sekolah fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.

Selanjutnya, Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah dilakukan secara terpadu melalui tiga jalur, yaitu:pendididkan karakter secara terpadu melalui pembelajaran, pendidikan karakter secara terpadu melalui manajemen sekolah, dan pendidikan karakter secara terpadu melalui ekstra kurikuler .

Pendidikan karakter secara terpadu melalui pembelajaran yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasi nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan pesrta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya prilaku.

Adapun pendidikan karakter secara terpadu melalui manajemen sekolah berbentuk kegiatan pendidikan karakter yang terpadu dengan manajemen sekolah antar lain berupa pelanggaran tata tertib yang berimplikasi pada pengurangan nilai dan hukuman/pembinaan; penyediaan tempat-tempat pembuangan sampah; penyelenggaraan kantin kejujuran.Penyediaan kotak saran; penyedian sarana ibadah dan pelaksanaan ibadah misalnya sholat ashar /dhuhur berjama’ah ; salim-taklim (jabata tangan) setiap peserta didik bertemu para warga sekolah.

Pendidikan karakter secara terpadu melalui ekstra kurikuler karena fungsi kegiatan ekstra kurikuler sebagai fungsi pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab social peserta didik; fungsi rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan; fungsi persiapan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karier peserta didik.
Dari sekilas paparan sosialiasi pendidikan karakter di atas, ada beberapa hal yang konteksnya berbeda dengan PKBM sebagai sekolah nonformal, namun esensi pendidikan karakter masih bisa dilaksanakan di PKBM. Terlebih peserta didik PKBM yang memiliki kekhasan dari anggota masyarakat yang terhalang masuk di sekolah formal sebagaimana sudah dipaparkan di atas tentunya diperlukan kesiapan dan komitmen lebih agar peserta didik benar-benar menjadi manusia yang berguna di tengah masyarakat karena mereka berilmu dan berahlaq mulia.

PKBM masih punya banyak ruang dan kesempatan mendukung peradaban lebih santun melalui pelaksanaan pendidikan karakter dalam bentuk penciptaan suasana belajar yang memunculkan prilaku-prilaku baik peserta didik, pendidik dan pengelola PKBM, ada jadwal untuk melaksanakan kegiatan sholat berjamaah, ada aturan secara tertulis untuk disiplin dalam belajar, seperti datang lebih awal atau tepat waktu saat pembelajaran di PKBM, berpakaian sopan dan pantas digunakan saat belajar . Pendidik atau tutor mengingatkan dengan baik dan telaten, tidak bosan jika ada peserta didik yang datang terlambat, melontarkan kata-kata tidak baik, dan lain sebagainya. Selain pendidik, peserta didik juga diajak berperan menjadi sahabat baik yang perduli dengan teman-teman lainnya. Bekerjasama dalam menyelesaikan tugas belajar di PKBM baik dalam kegiatan diskusi kelas maupun tugas mandiri. Sangat mungkin pula PKBM mendorong peserta didik untuk memiliki keperdulian sosial yang baik, dengan mengajak mereka melakukan bakti sosial, saling mengunjungi jika ada peserta didik yang sakit atau sedang menyelenggarakan hajatan. Hal-hal sepele ini cukup berarti bagi mereka untuk menumbuhkan prilaku saling menghargai, menghargai sesama itu wujud dari ahlaq baik. Kita bisa menghargai orang lain ketika kita sedang berinteraksi dengan mereka, dan interaksi itu ada ketika kita kenal dengan mereka. Dalam konteks PKBM kita masih menjumpai peserta didik yang tidak saling kenal, karena mereka datang ke PKBM cukup untuk duduk di kelas dan mendengarkan tutor menjelaskan pelajaran. Lebih parah lagi, ada juga peserta didik yang tidak kenal dengan tutornya . Pendidikan di PKBM itu sepertinya akan bermakna dan terasa ruh pendidikannya jika mampu memberi kontribusi nyata dalam menciptakan peradaban yang baik. Peserta didiknya tidak saja jadi konsumen pemakai hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi , tapi mereka juga mampu mengubah dunia dengan ahlaq mulianya. Di saat banyak pribadi yang materialistis, egois dan mengutamakan gaya hidup hedonistik sebagai dampak dari globalisasi, PKBM sepatutnya bisa menjadi pengendali prilaku -prilaku negatif dari dampak globalisasi ini. Anggota masyarakat akan mengetahui bahwa PKBM memang lembaga pendidikan yang mampu mendidik masyarakat bukan lembaga yang didatangi anggota masyarakat untuk sekedar memperoleh ijazah yang mafhum diketahui mereka dengan jalan yang cukup mudah.

Astatik.
Ketua PKBM BESTARI Jombang Jawa Timur

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.