Fakta, Fiksi, Komitmen Dan Kecelakaan Berpikir

Catatan Oase  :
isa

M. Isa Ansori Pegiat Psikologi Komunikasi, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

MEPNews.id —- Seringkali kita melihat bahwa anak anak kalau perutnya lapar maka dia akan menangis,  atau juga seringkali kita mendengar bahwa para guru kita kalau mengajar seringkali menggunakan pola satu arah. Peristiwa periatiwa diatas merupakan suatu fakta.

Fakta (bahasa Latin: factus) ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia atau data keadaan nyata yang terbukti dan telah menjadi suatu kenyataan. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data
Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak (umum) sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya.
Kita semua tentu juga pernah mengalami masa masa sebagai anak anak. Seringkali kita didengarkan oleh orang tua atau guru kita perubahasa ” Rajin Pangkal Pandai dan Hemat Pangkal Kaya “. Peribahasa itupun juga mewarnai perjalanan hidup kita ketika kita melewati masa masa belajar,  bahwa kita semua mempunyai cita cita  kelak akan jadi apa. Coba amati ketika para guru TK menanyakan kepada anak anak, ” kelak kalau sudah besar,  cita citanya  akan menjadi apa anak anak? “, “Saya jadi dokter bu,  saya jadi polisi bu,  saya jadi guru,  dan lain lain sederet keinginan anak anak kelak ketika mereka besar “. Apa yang menjadi cita cita anak anak itu selanjutnya diikuti oleh sebuah aktifitas yang mengarah untuk mewujudkan cita citanya. Nah sederet  periatiwa yang merupakan cita cita anak anak dan akan dilustrasikan dengan cara mencapainya adalah sebuah  cerita fiksi.Suatu peristiwa yang belum terjadi,  tetapi kalau syarat syarat terjadinya bisa kita penuhi,  maka cerita fiksi itu akan menjadi fakta.
fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya.
Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi. Dengan demikian, fiksi umumnya tidak diharapkan untuk hanya menampilkan tokoh yang merupakan orang nyata atau deskripsi yang akurat secara faktual. Alih-alih, konteks fiksi, yang tidak persis berpatokan pada dunia nyata, secara umum dipahami sebagai sesuatu yang lebih terbuka terhadap interpretasi.
Fakta dan fiksi adalah dua hal yang memang berbeda,  mereka  berada dalam ruangnya masing masing,  tetapi bila syarat  syarat bertemunya dipenuhi,  maka bukan tidak mungkin antara fakta dan fiksi menjadi sesuatu yang saling bertautan. Misalnya kalau anda belajar rajin,  maka anda akan bisa mencapai apa yang anda cita citakan. Akan menjadi ” kecelakaan pikir ” ketika antara fakta dan fiksi dielaborasi menjadi sesuatu yang dimaknai fiktif dan tak bisa dibuktikan.
Masa masa anak anak yang saya lewati dulu,  saya sering berada disebuah langgar untuk mengaji. Seringkali saya mendengarkan cerita dari para ustadz nasehat dan cerita tentang perjalanan para nabi dan kisah kisah moral yang terjadi pada zaman para nabi. Yang masih bisa saya ingat adalah cerita tentang kisah seorang sahabat nabi yang hanya karena mengabaikan perintah orang tuanya,  maka disaat menghadapi sakratul mautnya sampai sampai akan dibakar oleh Nabi,  karena si ibu tak mau memaafkannya. Kata Nabi : Daripada kelak nanti dibakar dengan api neraka,  maka lebih baik dibakar dulu didunia,  agar kelak Allah bisa memaafkannya “. Singkat cerita akhirnya dengan berlinang air mata,  si ibu memaafkan putranya yang sedang menghadapi  sakratul mautnya,  dan akhirnya menutup mata dengan khusnul khotimah menyebut kalimat komitmen Syahadat. Nah sahabat nabi yang baik dan rajin beribadah itu bernama Al Qomah.
Pada peristiwa itulah kemudian nabi mengeluarkan statemennya bahwa :
Maka, Rasulullah melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau menshalatkannya dan menguburkannya,
Lalu, di dekat kuburan itu beliau bersabda, “ Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertobat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridhanya, karena ridha Allah tergantung pada ridhanya dan kemarahan Allah tergantung pada kemarahannya “.
Kisah kisah yang disampaikan  itulah yang kemudian  membentuk komitmen para santri agar kelak memperlakukan orang tua dengan baik terutama ibunya,  kalau ingin menjadi manusia yang mulia.
Nah kawan… Sejatinya rangkaian semua peristiwa dalam kehidupan merupakan sebuah kombinasi antara sebuah  nalar kreatif yang dibentuk  karena  kemampuan melihat peristiwa masa depan. Kemampuan melihat apa yang terjadi pada masa depan  merupakan sebuah  kecerdasan merangkai peristiwa dan melihat fakta fakta yang terjadi. Sebuah peristiwa masa depan apapun bentuknya akan bisa terjadi,  bila syarat syarat terjadinya bisa dipenuhi. Anda akan menjadi dokter,  kalau anda rajin,  anda belajar dan anda diterima di fakultas kedokteran.
Sejatinya tak ada yang aneh dalam merangkai masa depan, tentu bagi mereka yang mempunyai kecerdasan bernalar. Karena masa depan akan bisa terangkai hanya dengan mereka yang mempunyai kecerdasan   merangkai pernik pernik peristiwa fakta yang terjadi saat sekarang. Mereka itu disebut sebagai  ulul albab.
” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal “
” (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka “. ( Q. S.  Ali Imran : 190 – 191 )
Assalamualaikum  wr wb.. Selamat  pagi,  selamat berakhir pekan,  selamat  menjalani aktifitas yang cerdas dan senantiasa diberkahi Allah… Aamien.
Surabaya,  14 April 2018

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.