Persepsi, Pengalaman Masa Lalu dan Shut Down

Oleh: M. Isa Anshori

MEPNews.id – Setiap orang pasti mempunyai masa lalu. Masa lalu adalah bagian dari proses yang kita jalani hari ini dan masa yang akan datang. Pengalaman masa lalu akan memberi kesan kepada kita dan akan tersimpan dalam memori. Begitulah Freud menyebutnya sebagai hal yang tersimpan dalam alam bawah sadar dan akan semburat lagi ketika menemui momentum yang tepat.

Pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori setiap orang akan mempengaruhi cara orang melihat orang lain. Sebagai contoh, kalau kita pernah mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan di terminal, akan muncul dalam persepsi kita kecurigaan kepada orang lain akan terjadinya perlakuan yang kurang menyenangkan ketika kita berada di terminal. Begitu pula ketika kita pernah melakukan sesuatu yang kurang baik pada masa lalu.

Hal ini tentu akan membangun persepsi kekhawatiran terhadap anak-anak ketika mereka menginjak usia seusia kita saat menjalani hal yang kita anggap kurang baik itu. Persepsi akan membangun kewaspadaan kita  terhadap anak-anak kita. Nah, kewaspadaan itu lah yang kadang selanjutnya menuntun kita pada perlakuan yang akan kita berikan kepada anak-anak kita.

Seringkali orang mengukur orang lain sebagaimana dirinya sendiri, karena setiap orang punya kecenderungan mempersepsikan orang lain seperti pengalaman yang dia lakukan. Kalau kita mencurigai orang lain akan berbuat tidak baik, ada kemungkinan kita pernah berbuat tidak baik. Kalau kita terhadap anak-anak sangat percaya, bisa diduga kita dulu adalah anak yang bisa dipercaya orang tua.

Melepaskan Diri Dari Persepsi Masa Lalu
Meski setiap orang dalam hidupnya tak bisa dijauhkan dari pengalaman masa lalunya, tapi akan menjadi hal yang membahagiakan kalau setiap orang berupaya mengubah pemahaman masa lalunya ke arah yang lebih baik dan optimis. Sehingga, rasa bahagia dan nyaman akan mewarnai kehidupan.

Melepaskan diri dari persepsi masa lalu yang kurang baik adalah upaya membangun kesan kepada diri bahwa setiap orang pada dasarnya adalah baik, sehingga akan memberikan rasa percaya kita kepada orang lain, meski kewaspadaan tetap harus kita jaga.

Bagaimana Cara Yang Dilakukan

Setiap keluarga dan orang tua serta setiap sekolah dan guru adalah simbol tempat dan pelaku terjadinya proses membangun kepercayaan. Seringkali kita sebagai orang tua maupun guru menasehati anak-anak harus jujur dan bertanggung jawab. Kadang juga dalam menasehati anak-anak dengan menyelipkan pengalaman masa lalu kita agar anak anak bisa menjadi lebih baik dan waspada.

Menanamkan keprcayaan kepada anak adalah upaya melepaskan diri dari pengaruh masa lalu, terlebih pengaruh masa lalu yang kurang baik. Itu lah yang saya meyakini tidak akan selalu berbanding lurus pengalaman orang tua akan menjadi takdir bagi anak anaknya.

Dalam kisah-kisah di dalam Al Qur’an, banyak digambarkan bagaimana hubungan keturunan tidak berbanding lurus dengan takdir yang diterima anak. Nabi Ibrahim adalah putra dari pemahat berhala dan sekaligus menjadi sesembahannya. Nabi Ibrahim justru sebaliknya. Ia justru mengajak tidak melakukan persembahan kepada berhala. Bahkan, dengan logika yang dia bangun berdasarkan wahyu, Ibrahim berkata kepada orangtuanya dengan santun, “Bagaimana berhala bisa menolong kita, sementara dia menolong dirinya sendiri saja tidak bisa.” Masih banyak lagi kisah yang digambarkan Allah dalam Al Qur’an tentang kesudahan kaum berkaitan dengan apa yang mereka lakukan.

Berupaya  melakukan yang kita anggap baik dalam hidup, meski itu kecil dan sederhana,  merupakan upaya melepaskan diri dari masa lalu. Dengan upaya itu, kita akan melakukan proses edukasi kepada orang lain agar bisa menjadi lebih baik. Sehingga, yang akan ada adalah kepercayaan terhadap orang lain. Sikap seperti ini juga akan melatih diri untuk ihlas dan bisa menerima realita, bahwa apa yang terjadi pada kita hari ini adalah rencana Allah yang tentu harus dipercaya sebagai bentuk kasih-sayangNya.

Kalau yang kita alami hari ini adalah nikmat, maka akan menjadikan diri kita lebih bersyukur. Sebaliknya, kalau itu ujian kehidupan, kita akan lebih bisa menerima dan ikhlas. Karena kita percaya bahwa Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan ujian hari ini kita yakini sebagai rencana baik Allah kepada kita.

Shut Down
‘Shut down’ adalah peristiwa putusnya koneksi perangkat komputer kita secara mendadak. Seringkali proses itu terjadi secara tiba-tiba dan kadangkala kita belum siap. Seringkali, karena ketidaksiapan itu, apa yang kita tuliskan kemudian menjadi hilang mendadak.

Dalam kehidupan, peristiwa mendadak seringkali terjadi. Kalau kita tidak siap, maka peristiwa itu akan menimbulkan kepanikan. Bisa kita bayangkan kalau peristiwa mendadak itu berupa kematian.

Apa yang akan kita rasakan?

Karena sayangnya pada harta, jabatan dan keluarga, kalau tidak diimbangi dengan pemahaman bahwa apa yang diberikan kepada kita hari ini adalah titipan, maka kita akan tidak siap menerima kenyataan mendadak itu. Kalau memahami itu semua adalah amanah dantitipan, maka kita akan merasa lebih siap dan tenang menghadapinya. Kita meyakini itu bukan milik kita, itu hanya titipan yang suatu saat akan diminta kembali oleh yang menitipkan.

Nah, kawan… Peristiwa mendadak dalam hidup adalah keniscayaan. Maka, penting bagi kita mempersiapkan diri pada hal-hal yang sejatinya akan terjadi secara mendadak. Allah mengingatkan kepada kita bahwa “Sesunghuhnya akhir itu lebih baik daripada awal.”

Pesan yang bisa kita tangkap adalah selalu berupayalah menebar kebaikan. Sekecil apapun perbuatan itu, harus tetap kita rawat dan kita sebarkan, sehingga keberadaan kita terasa kemanfaatannya di sekitar orang orang yang berhubungan dengan kita. Diharapkan, kebaikan yang kita semai menjadi bekal menghadapi hal-hal yang mendadak pada hidup ini.

“Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.” Maka, menjadi “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bisa berbuat baik kepada orang lain.”Semoga saja kita ditakdirkan mendapatkan akhir kehidupan yang baik… Aamiin

Penulis adalah:

  • Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya
  • Anggota Dewan Pendidikan  Jatim
  • Sekretaris  Lembaga Perlindungan Anak Jatim

Facebook Comments

POST A COMMENT.