Pendidikan yang Memanusiakan Itu Ada di PKBM

Oleh Astatik Bestari

MEPNews.id- PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan nonformal di masyarakat. Hal ini telah disebutkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pasal 26 ayat (4) menjelaskan bahwa, “Pelaksanaan satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.”

Sebagai lembaga pendidikan nonformal sebagian besar PKBM yang ada di Indonesia terpaku pada ayat (1) pasal 26 UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) ini , “Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.”
Gagasan yang menemptakan pendidikan nonformal sebagaimana ayat (1) ini telah mempengaruhi cara berpikir pengelola PKBM itu sendiri, termasuk saya. Sebagai pengelola PKBM BESTARI saya masih terpaku pada ide bahwa peserta didik di PKBM BESTARI adalah mereka yang tidak dilayani di sekolah formal karena berbagai alasan. Padahal ada pula PKBM yang memformat layanannya sebagai lembaga pendidikan pilihan di antara sekolah formal. Peserta didiknya lebih memilih sekolah di PKBM daripada sekolah formal, contohnya di PKBM Insan Cendekia Surabaya. Melalui informasi yang saya terima dari pengelolanya saya pahami bahwa PKBM ini telah menyesuaikan layanan pendidikannya sesuai ayat (2) “Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.” Menjadikan PKBM sekolah pilihan masyarakat adalah harapan semua pengelola lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal , berbakti kepada negeri ikut serta mencerdaskan bangsa dan mengantarkan masyarakat menggapai kesuksesan .

Memang tidak mudah membangun kesadaran mengelola PKBM agar lebih dipercaya masyarakat, berani keluar dari zona nyaman, mengubah cara pembelajarannya lebih kekinian menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Saya menyepakati saran sahabat-sahabat pengelola pendidikan non formal agar menyesuaikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, tidak hanya kaku memberikan materi pelajaran akademik yang metodenya itu-itu saja. Karena itu dalam kesempatan ini saya berterima kasih kepada Pak Nafik Palil ( The Naff), Pak Lukman Hakim ( Sekolah Dolan) dan Bu Ita Guntari ( PKBM Insan Cendekia) atas arahan dan masukannya atas pengelolaan manajemen lembaga PKBM BESTARI agar lebih baik yang saya terima pada kegiatan Konvensi Pendidikan V tahun 2017 tanggal 30 Desember 2017 di DPRD Pasuruan.

Dalam proses berbenah ini, saya coba paparkan beberapa hal yang telah dilakukan PKBM BESTARI dalam ikut serta berbakti di dunia pendidikan ini. Terpenting dari yang penting dalam gagasan pendidikan yang memanusiakan ini titik pointnya adalah peserta didik itu sendiri. Dalam pikiran saya bahwa suatu lembaga pendidikan dinilai memberikan layanan pendidikan yang memanusiakan jika lembaga tersebut memenuhi hak-hak kemanusian peserta didiknya dan anggota masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan. PKBM BESTARI berpedoman bahwa menerima anggota masyarakat dari kalangan apapun dan dari manapun tidak tembang pilih adalah bagian dari memenuhi hak-hak kemanusiannya. Oleh karena itu, sejak membuka pelayanan pendidikan kesetaraan pada tahun 2011, yang mengikuti pembelajaran Paket A, Paket B dan Paket C peserta didiknya bervariasi dari tingkatan status sosial ekonominya, background keluarga ( keluarga samawa dan keluarga broken home), peserta didik dengan semangat yang bervariasi (belajar rendah, semangat belajar sedang , semangat tinggi), peserta didik dengan permasalahan sosial ( terlibat penggunaan Napza, married by accident, mantan preman). Sebagai ketua pengelola PKBM BESTARI, saya berpikir jika mereka tidak diterima di sekolah formal apakah kita tega mereka tidak terdidik sepanjang hidupnya?

Dengan pertimbangan kemanusiaan inilah tak jarang pengurus PKBM dan tutor tidak saja aktif mengajar di kelas, tapi kami bersatu kompak mengajak mereka belajar lebih serius di PKBM BESTARI. Sebagian mengajak mereka yang putus sekolah dengan cara bertamu dari rumah ke rumah. Upaya memanusiakan manusia dalam dunia pendidikan, kami lakukan pula dengan bekerjasama dengan kepala sekolah, guru BP dan guru mata pelajaran untuk mengidentifikasi peserta didiknya yang drop out dengan berbagai alasan, bekerjasama pula dengan kepada desa dan tokoh masyarakat serta anggota masyarakat yang perduli dengan pendidikan agar semua yang tidak terlayani di sekolah formal bisa sekolah secara bermartabat di PKBM BESTARI.

Warga yang kami identifikasi agar mau bersekolah, ada yang menerima dengan baik namun ada pula yang melakukan penolakan . Ada yang didukung penuh oleh keluarganya ada pula yang tidak begitu diperdulikan oleh keluarganya secara intensif. Ada pula yang menyadari bahwa pendidikan sebagai modal dalam meraih sukses yang perlu dilalui melalui proses yang diatur dalam standar proses pendidikan kesetaraan, ada pula yang sekedar ingin dapat ijazah.

Saya kira sama juga dengan sekolah formal, adakalanya ada peserta didik perlu kunjungan rumah karena sering tidak masuk sekolah, ada pula yang perlu terus diberi motivasi dan di arahkan . Semua kami lakukan dengan niatan agar mereka lebih terdidik dan berahlaq baik, wajar jika kami tidak putus asa di tengah keletihan orang tua dan keluarganya . Secara rinci kira kira saya petakan cara kerja PKBM BESTARI dalam melayani pendidikan di tengah masyarakat sebagai berikut.

1. Identifikasi calon peserta didik
Sudah saya jelaskan sekilas bahwa identifikasi ini dilakukan oleh pengurus PKBM, dan bekerjasama dengan lembaga, instansi dan tokoh masyarakat. Sehingga tugas kami merasa diringankan oleh mereka. Lembaga pendidikan yang kami ajak kerjsama adalah lembaga pendidik yang berada di sekitar PKBM BESTARI. Peserta didik yang sudah tidak punya semangat belajar dan terancam drop out atas kemauannya sendiri akan diarahakan kepala sekolahnya ke PKBM BESTARI. Para alumni yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang sekolah formal diarahkan pula ke PKBM BESTARI untuk mengikuti jenjang Paket C.
Adapun kerjasama dengan guru BP dan guru mata pelajaran biasanya anak yang sudah memiliki permasalahan di sekolah secara spesifik. Misalnya atas kriteria-krieteria yang ditetapkan oleh sekolah, ia tidak layak naik kelas namun sebenarnya memungkinkan ia naik kelas di sekolah lain, namun komitmen untuk sekolah lebih giat dan ajeg dilakukan seminggu penuh tidak dapat ditepati oleh peserta didik ini. Ada pula guru yang kami ajak kerjasama mengarahkan sekolah di PKBM BESTARI karena peserta didiknya malu kembali ke sekolah tersebab lamanya menderita sakit sehingga absen ke sekolah berlarut- larut.Ada pula yang diselamatkan jenjang belajarnya oleh gurunya karena ia putus sekolah atau dikeluarkan oleh sekolah karena dampak dari pergaulan bebas ( married by accident). .Kerjasama dengan guru BP dan guru mata pelajaran ini sifatnya kerjasama antar personal tidak terkait dengan lembaganya.

Sedangkan dengan pemerintah desa , PKBM BESTARI sudah bekerjasama selama tiga tahun ini dengan desa Pakel kecamatan Bareng. Warga desa Pakel patut bersyukur karena kepala desanya secara aktif mengidentifikasi warga yang belum tuntas wajar dikdas 12 tahun , tiap tahun untuk direkomendasikan sekolah di PKBM BESTARI, bahkan pada tahu pelajaran 2017-2018 ini kepala desanya menyediakan mobil siaga desa untuk alat transportasi berangkat sekolah ke PKBM BESTARI. Kerjasama dengan desa lainnya juga pernah terjalin baik saat PKBM BESTARI menyelenggarakan pendidikan keaksaraan fungsional .

Kerjasama dengan tokoh masyarakat dan warga masyarakat lainnya antara lain ketika mereka mengetahui ada anak usia sekolah atau mereka yang belum menuntaskan wajar dikdas 12 tahun akan diarahkan ke PKBM BESTARI. Dengan dan tanpa dampingan orang tua dari calon peserta didik ini, mereka ringan tangan membantu mendaftarkan yang bersangkutan ke PKBM BESTARI.

Semua yang bekerjasama dengan PKBM BESTARI sebagaimana yang saya sebutkan itu, tidak terlebih dulu terikat oleh perjanjian yang menguntungkan secara materi atas upaya yang sudah mereka lakukan. Jadi, bukan lembaga pendidikan saja yang bisa mewujudkan pendidikan yang memanusiakan, tapi semua yang perduli dengan keberlangsungan pendidikan orang lain memiliki peran penting , tentu saja dalam konteks ini adalah yang dialami PKBM BESTARI.

2. Kegiatan pembelajaran
Dinamika proses pembelajaran di PKBM BESTARI juga penuh tantangan. Mulai dari tantangan berupa kondisi dan cuaca yang sering menjadi alasan tidak dapat hadir di kelas baik tutor maupun peserta didiknya, juga tantangan dari dalam diri peserta didik itu sendiri ( motivasi rendah), kesibukan kerja atau kesibukan rumah tangga adalah alasan rutin yang sering kami jumpai. Mereka yang memilki pekerjaan yang mapan, misalnya pamong desa dan PNS dengan golongan kepegawaian rendah justru yang lebih rajin belajar saat jadwal pelajaran dengan metode tatap muka. Sedangkan peserta didik dari kalangan buruh sejenis out sourching tidak tertib saat belajar. Ketakutan dipecat dari tempat kerjanya adalah alasan utama. Ada pula yang tetap rajin dalam pembelajaran tatap muka, ia tidak bisa mengikuti ujian karena baru saja dapat pekerjaan yang ia harapkan. Untuk hal ini, kami tetap menghormati keputusannya. Kami berharap ia terus sukses dalam karier kerjanya. Ada juga anak-anak drop out karena dikembalikan oleh pihak sekolah akibat dampak pergaulan bebas, atau anak yang hidup dari keluarga broken home, kebingungan memilih antara ikut ayah atau ibunya sehingga sekolahnya jadi terganggu , saat belajar di PKBM BESTARI lebih serius. Bahkan tak jarang ia membawa anaknya ( peserta didik yang married by accident) . Ia juga mampu menjadi ketua kelompok dalam kegiatan diskusi kelas lalu memprestasikannya di depan kelas. Sedikit saya bercerita tentangnya. Suatu hari saya sempat memujinya .
“Sampean pinter, mengapa sampai tidak lanjut sekolah? ” Ia menjawab hanya dengan senyum , senyum malu. Lalu saya tanya lagi
“Suami sampean itu ketemunya bagaimana awalnya?” Ia senyum lagi dan menjawab singkat.

“Teman sekelas saya, Bu” Kira-kira serupa itu juga ketika saya ingin tahu latar belakangnya hingga sampai belajar di PKBM BESTARI. Komitmen kami dalam melayani pendidikan kesetaraan dan pendidikan nonformal lainnya tidak pernah mempersoalkan apa saja sisi tidak baiknya dari mereka, sebaliknya kami utarakan hal-hal baik yang membuat mereka percaya diri bergaul dengan teman-temanya di PKBM dan bebas beraktivitas positif di tengah masyarakat. Ini nampak dalam chat-chatnya di WAG PKBM BESTARI , tak satupun memandang rendah satu sama lain. Sedangkan perlakukan kami kepada anak yang terganggu belajarnya karena dampak mengkonsumsi narkoba atau sejenisnya, kami berusaha tlaten mendampingi belajar, termasuk menjemputnya di rumah untuk belajar di PKBM BESTARI di kelas yang terdekat dengan rumahnya ( PKBM BESTARI memilki 2 kelompok belajar. 1 tempat di PKBM BESTARI itu sendiri, 1 lainnya bertempat di di desa lain ). Anak ini sering merasa tidak punya teman, pindah sekolah formal sampai 3 sekolah yang berbeda, termasuk sekolah di Bali. Wajahnya yang selalu nampak lelah namun taat dan patuh dengan tutornya menyemangati kami untuk terus mendampinginya. Pada ujian nasional gelombang pertama tahun 2016-2017 ia tidak lulus karena ketinggalan satu mata pelajaran, kami sudah menjemputnya, saat itu juga kekak kandungnya mencari dan mengantarkan ke tempat ujian dalam waktu yang mepet dengan batas pengiriman naskah ke sub rayon. Atas kegagalan ujian nasional di gelombang pertama ini, saya jadikan pelajaran untuk mendampingi lebih intens saat ujian gelombang dua pada bulan Oktober 2017 lalu. Karena team lapangan pengurus PKBM BESTARI sudah menyerah untuk mengawal proses menuju ujian nasional gelombang 2 ini, saya sendiri yang mendampinginya. Seminggu sebelum ujian nasional saya temui orang tuanya. Hari- hari ujian nasionalpun saya pantau, mulai dari mengingatkan kakaknya untuk membagunkan dia lebih pagi, menjemputnya dan menunggunya selesai mandi dan sarapan pagi lalu berangkat menuju lokasi ujian nasional/ UNBK saya jalani selama 3 hari UNBK Paket B ini. Saat UNBK berlangsung ia sempat tidur juga, ini karena pola tidur yang tidak tertib, begitu cerita keluarganya kepada saya. Cerita tentang proses membimbing dan membina peserta didik PKBM BESTARI tentu ada juga yang lainnya. Kami selain ada tantangan dari dalam diri peserta sendiri, ada pula orang tua yang tidak begitu perduli dengan anaknya, sehingga yang mengantarkan daftar ke PKBM BESTARI tetangganya yang kebetulan murid saya waktu masih sekolah MTs dulu. Anak yang didaftarkan ini tinggal kelas karena alasan yang menurut aturan sekolahnya pantas tinggal kelas ( tingkat kehadiran yang rendah di kelas), lalu ia pindah ke PKBM BESTARI . Tak cukup mendaftarkan, ia pula yang saya hubungi saat anak yang diantar daftar ini tidak hadir pada pembelajaran tatap muka. Alhamdulillah belakangan ini sekitar bulan Oktober 2017 orang tuanya bisa dihubungi dan diajak komunikasi terkait keaktifan anaknya sekolah di PKBM BESTARI.

Kisah singkat lainnya, tentang anak yang dikenal bandel oleh lingkungannya, ibunya pro aktif mendaftarkan sampai ikut mengawasi proses belajar anaknya. Suatu kali saat kelompok kelas yang di PKBM BESTARI dan kelompok yang di desa lain saya gabungkan, bebrapa peserta didik di kelompok belajar di tempat lain ini membicarakannya .

“Tibak-e si Fulan ( bukan nama aslinya) sekolah Paket C …” saya yang mendengar hal ini agak heran, ada apa dengan si Fulan ini, kok sampai ada yang keheranan begitu? Selidik punya selidik ada yang bercerita bahwa ia pernah tidak baik prilakunya yang meresahkan masyarakat.

Dengan dinamika tantangan seperti itu, saya memberi himbauan kepada para tutor agar tak lupa memulai belajar dan mengakhiri belajar saat mengajar dengan berdoa, diniati agar ilmu yang diterima peserta didik bermanfaat. Ini upaya kami selain mendampingi sebagaimana saya paparkan sebelumnya. Tak lupa kami juga memberi bimbingan moral dan etika. Kami ajak berjamaah sholat Ashar, kami beri contoh menulis pesan tertulis untuk izin tidak dapat hadir dalam pembelajaran yang sopan yang disampaikan melalui WA atau SMS atau inbox facebook. Berbusanapun kami arahkan yang sesuai dan pantas dipakai untuk sekolah, peserta didik muslim yang suka mengenakan sarung, kami himbau untuk berbaju muslim dan berkopiah. Meskipun lembaga kami di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat pesantren, kami tetap terbuka kepada peserta didik non muslim. Tidak ada aturan dalam lembaga kami untuk berjilbab kepada peserta didik putri yang muslim apalagi kepada mereka yang non muslim yang penting berbusana yang merepresentasikan bahwa mereka pelajar. Kami berharap mereka merasa kebebasannya dihargai. Mereka juga selalu kami bimbing untuk saling menghargai kawannya, baik secara prilaku maupun ucapan, terlebih ada kelompok peserta didik dari daerah yang dikenal mudah tersulut emosi hingga menyebabkan tawuran warga.
Kami juga membiasakan disiplin waktu. Tutor hadir tepat waktu di kelas, jika tutor berhalangan hadir, kami sudah punya tutor pengganti, jadi kehadiran mereka di kelas benar -benar berguna. Pernah saya posting foto di facebook tentang kehadiran tutor saat hujan lebat dan membawa anaknya dalam tugas mengajar ini. Hal ini demi komitmennya mengajar para peserta didik di PKBM BESTARI. Untuk memotivasi peserta didik agar rajin belajar, pada tahun ini kami berlakukan pemberian beaya siswa.
Proses identifikasi dan proses belajar seperti yang saya paparkan ini, bagi lembaga PKBM BESTARI adalah upaya membantu anggota masyarakat yang tak terlayani di sekolah formal, bisa tetap sekolah secara bermartabat di sekolah nonformal PKBM BESTARI. Kalau mereka bisa dan mau mengubah perilaku belajarnya juga prilaku moralnya lebih baik, mengapa tidak dibantu? Apapun halangannya, kami selalu berharap apa yang kami upayakan ini dimudahkan oleh Allah SWT. Kami tidak tembang pilih dalam menerima peserta didik, semua yang datang ke PKBM BESTARI dan yang diajak PKBM BESTARI untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun kami bimbing agar menjadi insan terdidik dan memiliki skill, minimal perubahan prilaku sehingga mereka layak masuk dunia kerja , bisa menolong ekonomi dirinya dan keluarganya dan bisa meraih sukses lebih besar pada tahapan hidup yang mereka lalui. ***

Facebook Comments

POST A COMMENT.