Berguru Kepada Nabi Yusuf Alaihissalam

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Nabi Yusuf alaihissalam yang tampan, saat kecil, menceritakan kepada Ayahandanya bahwa dia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan rembulan, terlihat kesemuanya itu bersujud kepada Yusuf alaihissalam. Oleh Ayahanda dipesankan untuk merahasiakan mimpinya tersebut.

Kemudian oleh saudara tirinya Nabi Yusuf dijebak, disuruh buka baju, ditutup matanya, diajak main petak umpat, yang kemudian dijatuhkannya Yusuf ke sumur. Pakaian Yusuf diberi lumuran darah hewan, disampaikanlah kabar berita ke Ayahandanya bahwa Yusuf saat bermain di hutan diterkam binatang buas, hanya pakaian berlumuran darah inilah yang tersisa.

Nabi Ya’qub selaku Ayahanda Nabi Yusuf menangis sedih. Kelak Ya’qub harus menanggung kesedihan yang teramat dalam dan panjang atas kehilangan Yusuf putra terkasihnya ini.

Kemudian Yusuf kecil ditemukan oleh pedagang kehausan yang hendak mengambil air dalam sumur tersebut. Diangkatnya timba sumur, dan terkejutlah mereka tatkala dilihatnya ada sesosok anak kecil yang mungil dan berbinar tampan, yang tentu saja diselamatkan Allah meski telah terjebur sumur. Dan lantas, karena ketampanannya, Yusuf kecil pun dibawa ke istana, untuk dijual, tentunya harganya mahal.

Singkat kata, dengan proses yang panjang, hingga Yusuf difitnah telah memperkosa Zulaikha istri Sang Raja, sampai dipenjara, dan bebas setelah berhasil menafsirkan mimpi Sang Raja, melihat 7 domba gemuk-gemuk dan 7 domba kurus-kurus yang berarti bahwa akan ada 7 tahun musim panen dan 7 tahun musim panas gagal panen, saat panen hendaklah menyisihkannya untuk persiapan 7 tahun musim paceklik. Lantas dengan konsep seperti itu diangkatlah Yusuf sebagai Perdana Menteri.

Tepat sesuai ramalan Nabi Yusuf, dan terjadilah musim kemarau panjang yang menyebabkan gagalnya panen, sehingga karena hanya kerajaan yang telah menyisihkan hasil panen, seluruh warga masyarakat kerajaan diberi jatah makanan pokok oleh kerajaan.

Sampai juga akhirnya sebelas saudaranya Yusuf, yang tatkala kecil membuangnya kedalam sumur, ikut antri jatah makanan, dan Yusuf tahu sebelas saudaranya itu, dan Yusuf memberikan jatah makanan kepada mereka semua.

Tentu karena penulis adalah raja, maka penulis tulisan ini segera memproyeksikan renungan dari yang ia tulis ini kepada kekuasaan dan kemandirian:

“Kalau kelak kita telah sukses mampu hidup mandiri, sudah tak lagi hidup menggantungkan diri kepada orang lain, sudah mempunyai modal dan kekuasaan. Lantas terhadap saudara-saudara kita yang dulu pernah menginjak kita, bahkan pernah telah nyata-nyata membuang kita ke lembah sumur kehidupan kehancuran ekonomi yang maha sengsara dan sebagainya itu, akankah begitu kita mandiri dan berkuasa kita akan membalas dendam kepada mereka? Ataukah kita akan mengikuti jejak suri tauladan Nabi Yusuf alaihissalam yang tak dendam sedikit pun kepada sebelas saudaranya yang telah membuang ia kedalam sumur tatkala ia masih kecil?”

Kenapa mesti proyeksi hikmahnya mesti kesitu? Apakah penulis tulisan ini sedang diam-diam memiliki dendam tertentu, sehingga sebenarnya tulisan ini merupakan rangkaian curhat dari betapa beratnya muatan dendam di hati penulisnya sendiri? Apakah aslinya penulisnya sedang jengkel dan marah? Apakah penulisnya benar-benar sedang ikhlas lillahi ta’ala me-warning kita semua dan khususnya dirinya sendiri agar hendaknya jangan sampai menjadi pribadi yang pendendam?

Wallahu a’lam. Kalau penulisnya sendiri yang ditanya ya nggak akan ngaku kenapa kok tiba-tiba mengajak kita semua berguru kepada Nabi Yusuf alaihissalam? Kok bukan Nabi Shaleh? Atau Nabi Idris? Jangan-jangan penulisnya ini hanya kejar tayang atau belagak pilon atau belum ngopi ataukah ingin rasanya mengungkapkan bahwa dalam tahun-tahun politik menghadapi kemungkinan kalah menang Pilkada, Pileg, Pilpres kedepan ini nanti, hendaknya jangan sampai ada dendam diantara kita? Hanya yang nulis dan Allah yang tahu. (Banyuwangi, 12 April 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.