Menulis Itu Memberi, Benarkah?

Oleh: Aang Fatihul Islam)*

MEPNews.id —- Sebagaimana yang kita tahu bahwa memberi itu merupakan perbuatan yang mulia karena dengan adanya uluran pemberian dari kita, orang lain akan merasa bahagia atau paling tidak orang lain akan merasakan manfaat dari pemberian kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Di dalam mindset orang secara umum memberi itu adalah memberikan sesuatu kepada orang lain berupa barang yang nampak secara fisik misalnya memberikan uang, buku, hadiah dan lain-lain. Akan tetapi pernahkan terbesit dibenak kita bahwa aktifitas menulis merupakan aktifitas memberi. Kenapa bisa begitu?
Dalam konsepsi kacamata sastra ada dua pegangan seorang penulis yaitu ‘worldview’ dan ‘welstanchaung’, ‘worldview’ merupakan pandangan penulis terhadap dunia atau lingkungan atau apapun yang mengkonstruksi penulis sedangkan ‘welstanchaung’ merupakan misi penulis untuk merubah sesuatu atau masyarakat lewat tulisannya. Dengan kata lain seorang penulis akan melewati aktifitas maramu pandangannya terhadap segala sesuatu yang bersentuhan dengannya kemudian menyajikannya dalam bentuk karya tulis, tentunya karya ini tidak akan lepas dengan tujuan penulis untuk merubah masyarakat lewat tulisannya. Siapakah sasaran penulis tersebut? Tidak lain adalah para pembaca. Kita bisa melihat sejarah bahwa banyak pembaca yang merasakan manfaat dari apa yang dibacanya. Misalnya Sigmund Freud banyak membaca karya sastrawan akhirnya memahami psikologi manusia dan menelurkan teori psikoanalisa (psychoanalysis), Aristoteles merevitalisasi teori ‘Mimesis’ Plato menjadi ‘Mimesis Creatio’ setelah membaca buku ‘Republic’ dan membuat buku berjudul ‘Poetic’. Kalau dalam konteks Indonesia misalnya membaca buku Pramudya Ananta Toer kita akan mendapatkan banyak nilai sejarah, budaya, sosial dan sebagainya. Ketika membeca buku-buku Gus Dur kita akan mendapatkan banyak wawasan tentang konsepsi keislaman dan Keindonesiaan (Islam Nusantara), pemikiran yang moderat, toleran, dan sikap yang adil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketika seorang pembaca mendapatkan sesuatu dari karya yang dibaca berarti dia telah diberi dan yang memberi adalah penulis. Pemberian ini tidak dalam bentuk barang yang nampak secara fisik akan tetapi dalam bentuk tulisan yang akan dibaca. Inilah yang kemudian menggelandang saya untuk menyimpulkan bahwa menulis adalah memberi. Sesuatu yang diberikan penulis kadang berdampak langsung, atau mungkin tidak secara langsung akan tetapi dalam kurun waktu yang agak lama. Pemberian itu menggeliat dalam alam pikir pembaca merasuk dalam segala komponen membentuk bangunan pengetahuan atau bahkan ilmu pengetahuan yang semakin kuat. Mencipratkan letupan-letupan cahaya yang terus berpijar dalam jiwa menebarkan energi positif dan mengejahwentah dalam tindakan. Dengan demikian menulis adalah memberi, dan memberi adalah bagian dari ibadah, selama tulisan itu bermanfaat secara positif terhadap pembaca. ***
Penulis merupakan Ketua Lingkar Studi Santri (LISSAN) dan Dosen STKIP PGRI Jombang*

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.