Pendidikan dan Kejujuran

Catatan Oase :

isa

M. ISA ANSORI

MEPNews.id — Malam ini, Jum’at ( 6/4/2018 ), saya diajak oleh SBO TV untuk membahas pelaksanaan UNBK SMK 2018. Beberapa catatan disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Jatim, bahwa kesiapan pelaksanaan UNBK bisa dibilang sudah siap 100 %. Ditambah lagi disebutkan bahwa pengawasan UNBK juga dilakukan dengan menggunakan CCTV. Nah dari sisi tehnologi dianggap memgalami ” kemajuan “. Berkaitan dengan upaya upaya yang dilakukan, saya mengapresiasinya.

Bagi saya ada hal yang janggal, yaitu persiapan yang dianggap sudah 100 % dan pengawasan ujian dengan menggunakan CCTV. Yang pertama tentang persiapan yang sudah selesai 100 % , menurut saya ini adalah sebuah optimisme yang berlebihan, karena persiapannya mengindikasikan sangat sempurna. Tapi apa faktanya demikian? Saya kira juga tidak selalu, karena dari beberapa laporan yang masuk, ternyata masih dijumpai hal hal yang justru membebani masyarakat. Sebagai contoh di sebuah sekolah di Jatim, masih dilaporkan dalam pelaksanaan UNBK, walimurid dibebani biaya sebesar kurang lebih Rp.600.000. Tentu ini mengindikasikan ketidak siapan pemerintah menyediakan fasilitas pelaksanaan UNBK. Karena jujur harus diakui bahwa yang membutuhkan UNBK 100 % adalah pemerintah, bukan masyarakat. Mengapa masyarakat harus jadi korban dari ketidak siapan ini?

Yang kedua, Pengawasan yang menggunakan CCTV, tentu ini juga sangat mengusik rasa kemanusiaan saya, mengapa anak anak harus dicurigai tidak jujur? Padahal kita sudah bersepakat bahwa UNBK ini bisa mengantisipasi ketidak jujuran, nah kenapa pengawasannya justru swmakin diperketat dengan bantuan tehnologi CCTV, belum lagi dibeberapa sekolah, sebelum memasuki ruang pelaksanaan UNBK anak anak harus diteror oleh pemeriksaan sekujur tubuhnya yang dilakukan sekolah dengan menggunakan alat deteksi.

Bagi saya dua hal diatas memberi kesan bahwa pendidikan kita mengalami kegagalan dalam mengajarkan kejujuran. sekaligus ini juga memberi pesan bahwa proses pembelajaran, dilakukan dengan tidak jujur, sehingga ada ketakutan yang kita bangun anak anak akan berlaku tidak jujur. Para pelaku pendidikan kehilangan rasa percaya dirinya dalam membangun kejujuran melalui pendidikan, sehingga anak anak harus diawasi secara ketat dengan bantuan teknologi.

Pengawasan CCTV Mengindikasikan Gagalnya Pendidikan Menyemai Kejujuran

Dikehidupan anda, Dalam asumsi anda, kira kira siapa yang harus diawasi? Kenapa dia harus diawasi? Tentu anda akan bersepakat bahwa mereka yang harus diawasi adalah mereka yang diduga akan melakukan hal hal yang tidak baik. Nah.. Dalam kaitan UNBK, tentu yang diawasi adalah murid. Mengapa murid harus diawasi? Karena diduga murid akan melakukan ketidakjujuran.kalau begitu Siapa yang salah?

Pendidikan Adalah Menanamkan Kebaikan

Pendidikan adalah sebuah pekerjaan mendidik, pekerjaan merubah keadaan subyek didik yaitu murid. Perubahan yang diharapkan adalah perubahan sikap dan perubahan pikir kearah yang lebih baik. Sehingga sejatinya pendidikan merupakan pekerjaan menyemai kebaikan termasuk didalamnya adalah perilaku kejujuran.

Sayangnya, pendidikan kita dalam perkembangannya terdistorsi dengan makna persekolahan. Sehingga seolah tugas pendidikan adalah milik persekolahan. Persoalannya kemudian muncul, ketika sistem persekolahan menentukan yang dianggap baik itu kalau nilai nilai mata pelajaran memenuhi rumusan ketentuan ketuntasan minimal. Sehingga akhirnya semua proses diarahkan untuk pemenuhan KKM. Padahal tidak semua murid mampu melakukan pemenuhan tersebut.

Harus disadari bahwa setiap anak memiliki perbedaan kecerdasan dan keunikan. Sehingga menyeragamkan kecerdasan dan keunikan adalah sebuah tindakan yang menyalahi kodrat kemanusiaan. Pada titik kesalahan inilah ketidakjujuran dimulai. Guru akhirnya menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat pemenuhan nilai yang dianggap baik dan tuntas.

Mengembalikan Martabat Pendidikan

Pendidikan merupakan pekerjaan memuliakan manusia menjadi manusia. Hal yang paling mulia dalam sebuah proses pendidikan adalah memuliakan murid dengan keragaman yang dimiliki. Memuliakan mereka dengan keragaman yang dimiliki itu berarti bahwa proses proses yang dilakukan seharusnya mengarah pada menumbuh kembangkan apa yang menjadi sisi tajam pada diri anak. Asahlah pisau pada sisi tajamnya, begitu kata bijak.

Ujian nasional atau UNBK yang ada saat ini, bagi saya merupakan sebuah tindakan merendahkan martabat guru dan pendidikan. Mengapa?
Kalau kita taat terhadap undang undang, maka didalam undang undang sistem pendidikan nasional kita yang berhak melakukan evaluasi pada murid adalah gurunya. Nah dalam ujian nasional dengan sederet bentuk yang ada jelas menempatkan guru hanya sebagai penonton ketika anak anaknya sedang menjalani ujiannya. Wajarlah kemudian dalam situasi seperti ini guru mengalami kecemasan, apalagi dengan muridnya. Pada kondisi cemas inilah yang seringkali mengalami dorongan untuk menghalalkan segala cara agar kecemasannya bisa teratasi.

Menghapus ujian nasional terpusat dengan mengembalikan ujian diserahkan pada sekolah adalah cara meninggikan kembali martabat pendidikan dan martabat guru. Lalu apa yang diharus dilakukan? Menurut saya hal yang paling mungkin dilakukan adalah ujian nasional didelegasikan kembali kepada para guru disekolahnya masing masing, kalau toh tidak memungkinkan, buatlah ujian yang mendekatkan antara murid dengan gurunya pada level yang lebih sempit, misalkan setingkat kabupaten kota. Pusat hanya sekedar menentukan standar soal dan capaiannya, sedangkan cara dan bentuknya diserahkan pada sekolah dan gurunya. Nah disinilah kejujuran semua akan diuji.

Sabda Rasulullah SAW: “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan.

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat berakhir pekan dan menjalani altifitas yang menyenangkan dan diberkahi Allah.. Aamiien.

Surabaya, 7 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Facebook Comments

POST A COMMENT.