Antara Zonasi dan Tri Sentra Pendidikan

Oleh: Endang Puji Astutik

MEPNews.id —- Tahun pertama diberlakukan sistem zonasi, kasihan lembaga sekolah yang ada dikota. Mereka sampai kekurangan murid. Karena selama ini sekolah terbanyak khususnya SMA ada di kota. Dengan diberlakukan zonasi ini, SMA yang dianggap favorit yang biasanya pendaftarnya sangat banyak sampai harus ada yang tereliminasi sekarang malah kekurangan, karena antara jumlah sekolahan dan calon murid tidak berimbang. Anak luar kota juga kuatir bila sudah daftar ke kota dan tidak diterima maka akan mendapatkan sekolahan yang tidak diinginkan.

Setiap kebijakan baru pasti ada plus minusnya. Tak terkecuali sistem zonasi ini, yang pinter dicampur dengan yang biasa. Anak banyak tingkah berbaur dengan yang alim. Semua tidak boleh dibedakan. Semua dianggap sama. Tujuannya mungkin baik, tidak ingin mendiskriminasikan anak didik. Tapi benarkah itu bisa bertambah baik? atau malah sebaliknya. Ada satu kasus, seorang anak yang prestasinya bagus kemudian dia dipindah di kelas yang mayoritas anaknya bandel-bandel. Maksud hati guru, anak yang berprestasi tersebut bisa mempengaruhi anak yang biasa-biasa saja. Tetapi kenyataannya anak yang pintar tersebut bukannya berhasil mempengaruhi yang biasa saja akan tetapi malah sebaliknya.
Menurut tri sentra pendidikan, kemajuan atau berhasilnya pendidikan dipengaruhi 3 hal yaitu keluarga, lingkungan dan masyarakat.
Dari tri sentra pendidikan itu saja sudah bisa dilihat, dari keluarga yang baik tetapi tidak didukung dengan lingkungan yang baik maka keberhasilan akan sulit diraih.
Demikian pula sistem zonasi ini.
Anak berkemampuan biasa dicampur dengan yang luar biasa tentu sang guru akan mengalami kendala dalam memberikan pelajaran, belum lagi muridnya. Yang cepat menangkap pelajaran bisa segera berjalan jauh, yang biasa bagaimana, yang dibawah rata-rata bagaimana?
Mendidik anak dengan bermacam-macam tingkat kemampuan harusnya beda perlakuan juga.
Anak cerdas akan cepat menerima pelajaran, akan tetapi yang sebaliknya? Hem…bisa bikin sang guru cepat botak.

Tentang pergaulan, anak yang di rumah mendapat pengasuhan baik tentu beda juga hasilnya dengan anak yang kurang pengasuhan, dari cara bicara dan tingkah laku sangat jauh beda.
Kalau sang anak baik bisa pengaruhi yang kurang baik maka akan jadi bagus hasilnya. Tapi kalau sebaliknya?

Dalam menghadapi dan menangani setiap anak dengan berbagai latar kemampuan dan pergaulan yang berbeda tentu dibutuhkan cara yang berbeda pula.

Jangan sampai dengan adanya sistem zonasi ini malah membawa dampak yang kurang baik bagi anak yang luar biasa menjadi biasa-biasa saja. Dan yang biasa tetap biasa-biasa saja.

Bojonegoro, 5 April 2018

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.