Tinggalkan Facebook; Jadi Segar atau Stres?

MEPNews.id – Terlepas dari skandal pencurian data pribadi di Facebook beberapa saat lalu, sejumlah orang sudah ada yang meninggalkan atau gabung kembali ke media sosial itu dengan berbagai alasan. Nah, jika ada yang ingin detoks media sosial, juga silakan saja.

Ada studi terbaru yang menunjukkan, meninggalkan Facebook dapat mengurangi kadar kortisol yakni hormon kunci yang terkait stres. Namun, manfaatnya tidak begitu jelas. Berhenti dari jejaring sosial juga terbukti mengurangi rasa kenyamanan. Setelah periode tes lima hari meninggalkan Facebook, sebagian besar relawan penelitian dengan senang hati utak-atik medsos lagi.

David Nield dalam ScienceAlert edisi 4 April 2018 mengabarkan, peneliti dari Australian Catholic University dan University of Queensland di Australia menyebut hasil yang beragam itu mengindikasikan sesekali puasa Facebook adalah hal terbaik untuk kesehatan secara keseluruhan.

“Pengguna aktif Facebook terkadang merasa besarnya informasi sosial cukup menganggu mental. Maka, sesekali libur Facebook-an dapat memperbaiki kondisi tertekan ini. Setidaknya, dalam jangka pendek,” tulis para peneliti dalam laporan yang diterbitkan di Journal of Social Psychology.

Namun, dengan hanya 138 responden penelitian dan lima hari tes, tentu terlalu riskan untuk membuat generalisasi luas tentang lebih dari 1 miliar pengguna Facebook. Yang menarik dari penelitian ini adalah beberapa poin tentang efek situs media sosial terhadap kita; efek yang kita sadari dan yang terjadi secara tidak sadar.

Sebagai contoh, pengukuran saliva dari orang-orang yang libur Facebook-an menunjukkan kadar kortisol turun. Tetapi, para relawan penelitian tidak melaporkan merasa stres mereka berkurang. Mungkin ini pertanda jejaring sosial mendorong perubahan biologis yang belum kita ketahui.

Dalam penelitian, para responden penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok puasa Facebook lima hari. Kelompok lain menggunakan Facebook sebagaimana biasa. “Saat responden menunjukkan perbaikan kondisi stres fisiologis karena meninggalkan Facebook, mereka juga melaporkan perasaan kenyamanan yang rendah,” kata psikolog Eric Vanman dari University of Queensland. “Ada yang mengaku merasa lebih tidak puas dengan hidup, dan berharap melanjutkan aktivitas di Facebook lagi.”

Vanman mengatakan, perasaan terputus dari hubungan sosial karena puasa Facebook bisa mengarah ke perasaan kenyamanan lebih rendah sebagaimana yang dilaporkan. Lepas dari Facebook sementara waktu memang baik untuk menghindari kelebihan informasi, tetapi juga memutus sementara hubungan dengan teman-teman. Dengan kata lain; mungkin kita bisa hidup tanpa Facebook tapi kita jadi susah hidup tanpanya.

Yang perlu diingat, jejaring sosial berskala besar baru ada sekitar tahun 2000-an. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana akses instan ke ratusan teman itu bisa mempengaruhi kesehatan mental dan bahkan fisik kita.

Penelitian pada 2015 menemukan, berhenti Facebook membuat orang lebih bahagia karena terus mengamati medsos bisa mengganggu pola tidur. Namun, pada saat yang sama, medsos bisa membuat kita tetap berhubungan dengan keluarga dan teman-teman dan mempertahankan ikatan emosional.

Vanman mengatakan tahu banyak tentang orang yang sering ‘cuti’ dari Facebook. Penelitian itu sendiri juga didorong oleh kebiasaannya istirahat Facebook secara teratur. Sebagian dari kita tampaknya juga terperangkap dalam siklus yang berulang.

“Tampaknya, orang-orang berhenti karena terlalu stres. Tapi mereka kembali ke Facebook setiap kali merasa tidak nyaman karena terputus hubungan dari teman-teman,” kata Vanman. “Beberapa saat kemudian, mereka menjadi stres lagi. Jadi, mereka harus istirahat lagi. Begitu seterusnya.” (*)

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.