Aneh, Mau Bayar Mahal demi Makanan Tak Sehat

MEPNews.id – Orang bersedia dan rela membayar lebih untuk makanan yang tidak sehat ketika benar-benar mengidamkannya. Bahkan, orang bersedia membayar secara tidak proporsional untuk porsi lebih besar dari makanan yang sangat diinginkan.

Simpulan itu didapat dari penelitian tentang hambatan menjalani hidup sehat yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS) dan dirilis di ScienceDaily edisi 2 April 2018.

“Hasil penelitian kami menunjukkan, bahkan saat orang sudah berusaha keras makan lebih sehat, nafsu untuk makan makanan tak sehat dapat menutupi pentingnya kesehatan. Makanan yang menggoda tapi tidak sehat dinilai relatif lebih tinggi daripada pilihan yang lebih sehat,” jelas Anna Konova, peneliti pasca-doktoral di Pusat Ilmu Syaraf di New York University (NYU) yang juga penulis utama penelitian.

“Nafsu keinginan, yang terlanjur meresap dalam kehidupan sehari-hari, mungkin menyenggol pilihan kita dengan cara sangat spesifik yang membuat kita seolah memperoleh hal-hal baik di masa lalu –bahkan jika hal-hal di masa lalu itu mungkin sudah tidak lagi konsisten dengan tujuan kesehatan kita saat ini.”

Dalam penulisan laporan penelitian, Konova dibantu Kenway Louie asisten profesor penelitian NYU, dan Paul Glimcher profesor sekaligus direktur Institut Studi Interdisipliner tentang Pembuatan Keputusan di NYU.

Saat ini, semakin besar minat beberapa sektor –antara lain; pemasaran, psikologi, ekonomi, dan kedokteran– untuk memahami bagaimana keadaan psikologis dan kebutuhan fisiologis mempengaruhi perilaku kita sebagai konsumen. Perhatian khusus adalah pada nafsu keinginan; yang lama dikenal sebagai keadaan pikiran yang berkontribusi terhadap kecanduan dan dalam beberapa tahun terakhir berkontribusi pada gangguan makan dan obesitas. Namun, para peneliti mencatat masih sedikit yang diketahui tentang nafsu keinginan ini dan dampaknya terhadap pilihan atau perilaku.

Para ilmuwan di NYU melakukan serangkaian eksperimen dengan menanyai responden seberapa banyak mereka rela membayar makanan tertentu setelah mereka terlanjur bernafsu menginginannya. Pertanyaan ini untuk melihat perbedaan signifikan dalam keinginan terhadap makanan tertentu sebelum dan setelah terpapar pada makanan yang diidamkan.

Hasilnya menunjukkan, responden bersedia membayar lebih untuk makanan ringan yang sama persis jika mereka baru saja terpapar pada makanan itu dan diminta mengingat kenangan khusus saat mengkonsumsinya. Kondisi ini terjadi bahkan saat responden penelitian sedang lapar sebelum dan setelah terpapar makanan yang diiddamkan itu. Kondisi ini menunjukkan nafsu keinginan dan kelaparan adalah hal yang berbeda.

“Dengan kata lain, nafsu ingin makan Snickers sebenarnya tidak membuat Anda lapar; itu justru membuat Anda menginginkan Snickers secara khusus,” jelas Louie. “Ada juga efek spillover saat hal itu diterapkan, sampai taraf tertentu, ke makanan serupa yang para reponden tidak pernah terpapar (misalnya, coklat, kacang, dan permen batangan karamel lainnya).

Selain itu, para peneliti menemukan efek lebih kuat –yakni perubahan lebih besar dalam kesediaan membayar lebih atas makanan yang diidamkan responden– bahkan ketika makanan tersebut lebih tinggi kalori, lebih tinggi kandungan gula/lemak, antara lain cokelat batangan atau cheese puff, daripada pilihan makanan yang lebih sehat.

Akhirnya, eksperimen mengungkapkan hubungan antara nafsu keinginan, porsi, dan harga. Artinya, orang bersedia membayar secara tidak proporsional untuk ukuran porsi yang lebih besar dari makanan yang sangat diidamkan. “Tampaknya nafsu keinginan ini bisa meningkatkan atau melipatgandakan nilai ekonomis dari makanan yang diidamkan,” kata Konova.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.