Proksemik Keindonesiaan Kita

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Proksemik adalah ilmu yang mempelajari tentang jarak komunikasi, Dalam kaitan dengan jarak tersebut, Edward T Hall membaginya ke dalam 4 jenis, Yaitu : jarak publik, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab.

Jarak yang dibuat individu menunjukkan tingkat keakraban yang terjadi di antara mereka. Misalnya, ada suami istri berjalan berdekatan, kita langsung berasumsi bahwa mereka adalah pasangan yang harmonis. Namun ketika kita melihat mereka berjalan agak berjauhan, maka kita berasumsi bahwa mereka sedang dalam kondisi yang kurang harmonis.

Jarak juga menentukan persepsi kita mengenai sikap lawan bicara ketika ia membuat jarak saat berkomunikasi. Sebagai contoh, ketika seorang teman mengajak kita berbicara namun dengan jarak agak jauh atau dibatasi oleh sesuatu, maka kita akan menganggap dia adalah pribadi yang tidak terlalu terbuka dan sedikit preventif.

Namun, ketika lawan bicara kita duduk bersebelahan dengan kita, maka kita beranggapan bahwa dia sangat terbuka dan mampu menciptakan suasana yang nyaman saat berbicara. Cara seseorang mengatur ruang juga mempengaruhi persepsi kita mengenai pribadi lawan bicara kita.

Memotret Jarak Keindonesiaan Kita

Setiap hari hampir saya baca muatan di media sosial yang kurang lebih isinya saling melemahkan sebuah entitas kelompok. Setiap yang berbeda dianggap sebagai kelompok yang sah untuk dimarjinalkan. Bahkan instrumen negara yang seharusnya netral dan melindungi setiap warganegaranya menjadi bagian dari gerombolan yang melemahkan. Kita tak pernah tahu siapakah yang menyiram air keras diwajah Novel Baswedan, sampai sekarang aparat tak berkutik menemukan pelakunya, kita juga tak pernah tahu siapa pembuat chat mesum yang diarahkan kepada Ulama besar HRS, Kita tak pernah tahu juga siapa sejatinya dibalik isu orang gila dan kegilaannya ketika membunuh dan melukai para Ulama. Tapi tak berlaku bagi sebaliknya, kelompok penista ulama dan penghina agama dibiarkan merajalela…ketika negara membangun proksemi dengan entitas muslim, negara mulai mengangkara.

Berhentikah pada instrumen negara? Ternyata juga tidak, kelompok masyarakatpun mulai membangun proksemi yang sama karena diajari oleh negara. Rakyatpun tak malu berpola. Siapapun yang tak sama dianggap sengketa. Tak malu pula membangun silogisme yang salah, sehingga fitnah merajalela. Hadirkah negara? Ternyata tidak, karena negara sudah mengambil jarak dengan warganya.

Negara kehilangan arah, kebhinekaan dijadikan alat untuk membinasakan, nasionalisme agama yang semetinya dipelihara, ternyata dinista. Nasionalisme dan agama dipisah, sehingga tak boleh bicara tentang negara dan pembangunan ahlaknya, karena yang dilakukan oleh agama dibaca sebagai pola kelompok halusinasi yang tak nyata. Dosa tak ada, neraka surga adalah fatamorgana, karena hidup itu adalah saat ini, dan nanti itu tak ada.

Antara hati dan akal warganya dibuatkan jarak menganga, sehingga warga tak punya kuasa atas dirinya, yang ada bagi Rakyatnya adalah bagaimana bisa bertahan diantara kesusahan yang ada. Sebagian mereka memanipulasi kemiskinannya dengan retorika kata. Padahal sejatinya merana, mengapa? Karena memang akal budinya telah sirna. Mereka menjadi tak peka, karena jiwa telah terjajah dengan suapan fatamorgana. Kenaikan disamakan dengan harga permen, sungguh suatu perumpamaan tak bernalar, padahal sekolah saja minta disubsidi, kesehatan menggunakan fasilitas negara, …. ah ketika terjadi proksemi antara akal dan hati manusia angkara.

Mengapa Proksemi Bisa Terjadi?

Ketidakmenyatunya jiwa dan raga, akal dan rasa serta pikiran dan hati, merupakan penyebab ketakmampuan manusia mengolah rasa dan akal budinya. Sehingga kepekaannya menjadi sirna, yang ada adalah nafsu angkara yang membara. ketika agama suda tak dipercaya, maka kebudayaan tampil sebagai penguasa, penguasa jagad pikir dan perilaku manusia. Kebudayaan harus menjelma menjadi penengah, yang membimbing negara memadukan lagi antara akal dan rasa, dalam bernegara , negara mesti harus merekatkan kembali gagasan nasionalisme dan gagasan agama dalam bernegara.

Merekatkan Kembali Jarak Melalui Kebudayaan

Jarak sosial kita bernegara telah tersekat sekat menjadi pekat, terpisah diantara strata yang dicipta, sehingga rakyat tak akan pernah bisa duduk sejajar dengan penguasa. Ketika akal dan budi berjarak dengan negara, maka tak segan untuk serakah, menebar jala angkara terhadap kekayaan negara, korupsi merajalela, kekayaan alam dinista demi sebuah kuasa yang serakah. Hukum dijarah, politik menjadi panglima, benar bisa salah, dan sebaliknya salah bisa benar.

Kebudayaan sejatinya hadir dalam rangka mengasah akal budi dan rasa manusia. Sehingga sejatinya dalam pandangan kebudayaan, manusia itu sama, yang membedakan diantara mereka adalah kehalusan rasa dan akal budinya dalam memperlakukan manusia.

Kebudayaan menjadi instrumen penengah ditengah kuasa yang pongah. Ibarat sebuah barang Kebudayaan adalah benda mati yang tak punya makna, kebudayaan akan bermakna ketika berada ditangan mereka yang berjiwa merdeka.

Kerja kebudayaan hakekatnya kerja mengembalikan harkat dan martabat manusia sesungguhnya, kerja memerdekakan jiwa. Kebudayaan tak mengenal jarak antara, kebudayaan hanya mengenal bahwa kita semua sama, kita hanya dibedakan seberapa besar kemanfaatn kita ditengah keberadaan masyarakat. Kebudayaan akan selalu berkarya dan menjadi pencerah, melalui pertemuan arus kebudayaan menjadi bangsa yang bermartabat, indonesia kelak akan menjadi bangsa yang besar dan berdaulat atas tanah dan airnya.

Disinilah hakekatnya bahwa kebudayaan berupaya selalu merekatkan antara nasionalisme yang beragama, karena nasionalisme tanpa agama, ibarat perhiasan bagus ditangan kera yang serakah, tak terlihat indahnya yang tampak adalah kerakusan dan keserakahan yang dipelihara.

” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Pendidikan Berbudaya Dicipta

Sekolah sebagai ladang persemaian budaya, nampaknya perlu dicipta, sekolah tidak hanya mengaksara kata, sekolah mesti menjadi medan merangkai makna menjadi langkah nyata. Guru dan orang tua semestinya menjadi punggawa bagi mendekatnya jarak antara kata dan makna menjadi langkah. Akhirnya ditangan para guru dan orangtua, lilin harapan menyemai makna dirangkai dalam jiwa anak anak yang merdeka, sehingga kelak akan ada Indonesia yang bermartabat dan berharga diri yang sejati, tak lagi menjadi jongos dinegeri sendiri.

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat memulai hari baru dengan aktifitas baru yang lebih baik dan bermanfaat… Aamien

Surabaya, 2 April 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.