Mendampingi Anak dengan Karakter Beranjak Remaja

Oleh: Vivi Dinatya Swatyani, S. Psi, M. Psi

MEPNews.id —- Memiliki anak laki-laki itu berarti mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab (karena mereka sebagai calon Imam dalam keluarga kelak), melatih untuk lebih tangguh terhadap tantangan hidup, berani mengambil resiko serta kreatif dan inovatif di tengah gempuran persaingan zaman now. Di zaman yang sudah mendekati akhir ini semua dituntut serba cepat, tepat dan cerdas jika tidak ingin tergerus oleh kecanggihan teknologi yang konon katanya akan menggantikan sebagian dari tenaga manusia. Wow sedasyat itukah masa depan yang harus dihadapi generasi mendatang?

Kedua anak laki-laki saya, SonShine number 1 and Sonshine number 2 (begitu saya menyebutnya sebagai bentuk panggilan spesial dari ibu kepada anaknya) besok mendapatkan “Job ngamen” alias manggung bersama grup band nya yang terbentuk dari suatu ekstrakurikuler di sekolah (kebetulan anak pertama dan anak kedua satu sekolah) untuk sebuah acara Sweet Seventeen di Hotel Swiss Bell Inn Juanda, yang artinya itu bertepatan dg Hari Ibu dan HUT ayahnya (22 Desember).

Jauh sebelumnya, mbarep saya sudah meminta pertimbangan:” gimana ya ma, acaranya itu kok pas sama hari ultah papa?” Tanya nya dengan penuh selidik karena khawatir saya akan bilang tidak dan kecewa. Karena biasanya kami sekeluarga pasti keluar sekedar makan malam sederhana di hari-hari yang kami anggap istimewa dalam keluarga kami.
Agak lama juga saya menjawab dengan berpura-pura sibuk menatap layar handphone padahal pikiran melayang dengan mencari-cari jawaban yang tepat demi kebaikan kami bersama. Akhirnya dengan berat hati saya menjawab,” ya sudah nggak apa-apa nak, do it”. Walaupun terbesit rasa sedikit kecewa begitu, tau lah bagaimana perasaan saya saat itu.

Kemudian saya berpikir, saya harus belajar,,, ya belajar!!! Saya belajar ikhlas merelakan bahwa “this is the time”, ini mungkin waktunya perlahan “bounding” antara ibu dan anak perlahan mulai ada jarak. Bukan dalam arti jarak yang buruk, namun jarak yang memang sudah sepatutnya terjadi bila anak-anak mulai beranjak dewasa. Saya ingat ilmu Psikologi yang saya dapatkan saat kuliah dulu, bahwa pada akhirnya sebuah rumah akan merasakan “sarang kosong” atau Empty nest, seperti induk burung yang ditinggal anak-anaknya ketika mereka sudah bisa terbang. Saya belajar “melepaskan” dalam arti mengajar kemandirian dan mengajarkan mereka untuk mengambil keputusan. Saya tau persis anak-anak pun berat awalnya karena takut mengecewakan orang tuanya, untuk melewatkan our special moments.

That’s what life must going, dengan bertambahnya usia bertambah pula kedewasaan mereka dalam berpikir dan bertindak. Biarlah mereka mencari tau bagaimana uang itu dihasilkan, walaupun mungkin dengan meminta pada kami, pasti akan terpenuhi. Tapi hidup mengajarkan bahwa usaha akan mendapatkan hasil, dan sepadan dengan apa yg sdh mereka kerjakan. Sudah beberapa kali sebetulnya mereka “ngamen” di Cafe dalam kota, dan saya secara diam-diam melihat mereka tampil. Biar mereka belajar untuk bekerja sejak muda, tapi tetap saja sekolah adalah prioritas utama.

Bukankah hidup ini adalah sebuah perjalanan? Sebagai seorang musafir dalam kehidupan, bukankah kita kerap mengalami ajaibnya hujan pelangi? Namun tentu kerap pula terperosok dalam parit berlumpur sebagai pelengkap dari perjalanan kita? Sebetulnya sebuah perjalanan tidak akan pernah menemukan titik kembali yang sama, justru disitulah uniknya. Dulu kita pernah mengalami, Kini waktunya mereka.

Go for it my SonShine, dinner event Hari Ibu bisa kita rayakan tiap hari, tetap tidak mengurangi kesan itu sendiri. Karena sebetulnya bukan hari spesialnya dan bukan pula menu hidangan yang kita santap hari itu, namun kebersamaan kita yang berbalut rasa kasih dan sayang, tertawa lepas dan kebahagiaan yang terpancar dari dalam diri itulah inti dari bounding itu sendiri, itulah keluarga yang sejati.
Kejar dan raih impianmu sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Jadikan bakat bermusikmu sebagai nilai tambah dari personal branding mu.
Make your parents proud of you 👍🏻👍🏻💖💝

Vivi Dinatya Swatyani, S. Psi, M. Psi
Pengasuh Empat Orang Anak Yang Beranjak Remaja

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.