8 Temuan Ilmiah Diabetes Ini Perlu Dicermati

MEPNews.id – Memang, kita belum sepenuhnya yakin berapa penyakit yang dicakup dalam label ‘diabetes’. Yang pasti, tubuh mengalami masalah kelebihan kadar gula darah sehingga kondisi seriusnya membutuhkan perawatan sehari-hari. Yang juga pasti, jutaan orang di seluruh dunia mengalami masalah ini. Untungnya, para ilmuwan sudah bekerja keras menemukan obat, perawatan baru, dan manajemen yang lebih baik. Signe Dean & Mike McRae, dalam ScienceAlert edisi 2 April 2018, merangkum beberapa perkembangan terbaru berikut ini.

  1. Implan penghasil insulin terbuat dari sel punca

Pada 2017, dimulai uji klinis bagi perangkat ViaCyte PEC-Direct; implan berukuran kartu kredit yang mengandung sel-sel penghasil insulin dari sel punca. Penelitian sebelumnya menunjukkan implan ini dapat matang dan berfungsi di dalam tubuh pasien. Bersama dengan kohor relawan yang memulai pengujian pada Januari 2018, penelitian baru bisa segera membawa kabar apakah teknologi ini dapat membantu penderita diabetes tipe-1.

  1. Sel-sel beta baru

Diabetes tipe 1 berkembang ketika sistem kekebalan tubuh menghabisi sel-sel beta penghasil insulin di pankreas. Ternyata, selama ini ada jenis lain dari sel beta belum matang yang bersembunyi di pankreas. Para ilmuwan berpikir, mungkin ‘sel beta perawan’ ini bisa digunakan untuk mengembalikan fungsi pankreas.

  1. Obat tekanan darah

Obat takanan darah yang masuk dalam daftar esensial Organisasi Kesehatan Dunia ini dapat memiliki manfaat lain; memblokir molekul yang diimplementasikan dalam respon autoimun yang dapat menyebabkan diabetes tipe-1. Senyawa obat methyldopa ini sudah berkhasiat mengobati tekanan darah tinggi wanita hamil dan anak-anak. Tinggal dipastikan apakah ia bisa membantu mengurangi insiden diabetes dengan cara tertentu. Obat itu sudah digunakan, dan tidak sekadar terjebak di lab.

  1. Transplantasi unik

Seorang wanita penderita diabetes tipe 1 berat bisa menjalani hidup normal setahun tanpa suntik insulin, berkat transplantasi eksperimental. Dokter menanam sel-sel yang bisa memproduksi insulin ke dalam membran lemak di rongga perutnya. Keberhasilan ini membuka jalan menuju lebih banyak orang menerima pankreas buatan.

  1. Diet ekstrem

Uji klinis terhadap 298 relawan di Inggris pada 2017 menemukan, program manajemen diet intensif dapat meringankan diabetes tipe-2 bagi yang bisa menurunkan berat badan dalam jumlah signifikan. Dietnya berat. Relawan dibatasi hanya 850 kalori per hari selama tiga sampai lima bulan. Kebanyakan relawan hanya mengkonsumsi sup dan shake sehat. Setelah itu, boleh makan lebih banyak. Penelitian 2017 terhadap tikus di Amerika Serikat juga menunjukkan, diet rendah kalori membantu membalikkan kondisi gula darah mereka.

  1. Lensa kontak pemantau glukosa

Sampai bisa mendapatkan obat tepat, kita selalu butuh memantau kadar glukosa darah yang berantakan. Salah satu caranya adalah dengan lensa kontak pintar yang bisa memeriksa kandungan glukosa dalam air mata. Jika kadar glukosa berlebihan, lensa kontak ini berubah warna. Teknologi ini tidak perlu tindakan invasif untuk mengambil sample darah.

  1. Hindari merasa kesepian

Meski sudah ada daftar berbagai faktor genetik dan gaya hidup yang memengaruhi daya tahan tubuh terkait insulin, masih banyak yang harus dipelajari. Penelitian yang diterbitkan akhir 2017 terhadap hampir 3.000 subjek usia 40 hingga 75 menemukan, ada hubungan signifikan antara isolasi sosial dengan diabetes tipe-2. Belum jelas bagaimana pengaruh hubungannya, tetapi rasanya memiliki beberapa orang lain di rumah atau dalam kelompok sosial dapat membuat perbedaan lebih baik.

  1. Ikan gua di Meksiko berevolusi diabetes

Hewan warna pucat dan tanpa penglihatan yang biasa disebut ‘ikan gua dari Meksiko’ ini malah berevolusi menghasilkan versi baru reseptor insulin yang membuat lebih sulit bagi hormon untuk mengikatnya. Saat resistensi insulin bisa menjadi kabar buruk bagi manusia, ini justru bukan masalah bagi ikan. Tampaknya, ikan hidup di tempat tanpa cahaya ini telah mengembangkan fitur lain untuk membantu mengimbangi tingginya glukosa dan berkurangnya insulin dalam darahnya. Maka, dengan mempelajari biologi hewan, dapat membantu menyoroti bagaimana diabetes berevolusi pada manusia. Bahkan mungkin mengarah ke perawatan model baru.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.