Menangani Anak Galau Saat Pilih Jurusan

khusnaOleh: Khunatul Mawaddah

MEPNews.id – Sudah seminggu ini rumah saya penuh anak-anak SMA. Kadang lima anak, kadang sepuluh anak, bahkan pernah sekelas penuh. Biasanya, aktifitas mereka belajar kelompok. Itu karena anak kedua saya sejak SD memang sering mengajak kumpul teman-temannya belajar di rumah. Tentu saya senang karena rumah jadi ramai dan dinamis saat ada aktivitas belajar.

Mereka anak-anak pintar dan tergolong kreatif. Karena rumahnya jauh dari kota, mereka membuat janji tidak segera pulang namun singgah dulu di rumah terdekat dari sekolah; dan itu rumah yang anak saya tinggali. Saya, sebisa mungkin, selalu siapkan makanan ala kadarnya untuk mereka agar betah dan semangat menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Perilaku anak saya dengan teman-temannya ini membuat saya merenungkan pengalaman pribadi saat masih sekolah. Karena posisi saya di asrama putri, maka saat ingin bertemu teman putra untuk sekedar sharing saja harus melalui prosedur lumayan ketat. Padahal, anak-anak yang belajar di sekolah umum bisa kapan saja –asal ada kesempatan– saling bertemu dan bisa saling diskusi.

‎Nah, kali ini saya melihat teman-teman anak saya sedang ngumpul di rumah dengan tampang lebih serius. Rupanya, mereka janjian untuk online bersama browsing perguruan tinggi. Karena sudah gagal di jalur undangan, termasuk anak saya, maka mereka mengamati seluruh universitas di negeri, mengkaji jurusannya, status akreditasinya serta prestasi dan urutan ranking-nya. Saya mendengar obrolan mereka begitu jeli. Samar-samar saya lihat mereka membahas profil kampusnya, kegiatan organisasinya, dan lain-lain. Wah detail banget.

Saya menangkap semacam kegalauan pada masing-masing anak. Satu sisi, mereka pingin kumpul. Sisi lain, ada keinginan dan minat yang berbeda sehingga pilihannya harus pisah. Saya turut merasakan bagaimana pada usia pra-dewasa ini mereka saat harus menentukan pilihan, saat harus mengusir ketakutan karena harus berpisah dengan orang tua serta teman karibnya.

Dalam kondisi seperti ini, sudah saatnya bagi para orang tua untuk lebih mengintensifkan hubungan komunikasi dengan anak. Pada masa-masa seperti ini, anak-anak memasuki usia puber yang butuh ketenangan sekaligus dorongan untuk mandiri dalam menentukan pilihan.

Anak-anak sedang konsentrasi tentang pilihan kampus dan jurusannya. Orang tua perlu menerawang kemampuan finansial dan lain-lain untuk mendanai. Semua itu harus dikomunikasikan dengan baik agar kegalauan anak-anak bisa segera sirna. Apa lagi, saat ini anak-anak masih menunggu UNAS. Tentu suntikan moril dan perhatian dari keluarga menjadi sangat penting.

Semoga bermanfaat.

Facebook Comments

POST A COMMENT.