Merenda Mutiara Nusantara

Catatan Oase  :

MEPNews.id —- Kisah peperangan bisa saja terus dikenang, tetapi tujuan dari setiap perjalanan apapun adalah terciptanya hidup yang nyaman dan mampu berdamai dengan sejarah. Luka yang menganga semestinya tak bisa dibiarkan, harus dijahit menjadi sebuah permukaan yang utuh, sehingga bisa menjadi kesatuan yang utuh. Ibarat membangun mahligai diperlukan upaya rujuk. Bukankah jargon jargon yang sering diucapkan adalah NKRI harga mati?

Anomali Sikap

Menjadi aneh ketika teriakan NKRI harga mati lalu diselingi dengan menempatkan diri pada posisi yang tak tertandingi. Sehingga mengakibatkan lupa diri. Sehingga nampak keberjarakan antara hati dan pikir.

Keberjarakan itulah yang mengantarkan sebagian kita menjadi bangsa yang disorder. Bangsa yang kehilangan ruh akal budinya. Bangsa yang gemar menjungkirbalikkan nilai nilai. Pentas penjungkirbalikan fakta dan kejujuran menjadi tontonan, tak ada kata malu, yang ada saya harus menang. Seolah semuanya mengalami gangguan dalam mengelola jiwanya.

Lihatlah pentas retorika yang dimainkan hari ini, tak ada kejujuran, yang ada saling melemah kan dan saling menjatuhkan. Bukankah UUD 1945 mengatakan ” bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat yang sebesar besarnya “. Nah apa yang terjadi? Rakyat tak berdaya dibuai dengan retorika semu yang tak kunjung ketemu. Orang berilmu tak banyak lagi yang ” ngelmoni ” ilmunya. Dalil dalil pengetahuan yang tak berpihak, dibajak, demi memuaskan hasrat syahwat yang tak terawat.

Menjadikan Kebudayaan Sebagai Panglima

Apa yang bisa diharapakan dari situasi yang anomali seperti ini? Ketika tubuh sudah berjarak, maka tak ada lagi kekuatan untuk merekat. Karena hati dan pikir telah kikir akan fakir. Kebudayaan adalah olah rasa yang menumbuhkan sebuah cipta dan karsa serta rasa. Kemampuan mencipta dan merasa adalah sesuatu yang mahal bagi negeri ini.

Agama semestinya menjadi polisi moral bagi hasrat yang tak terawat, mengalami nasib yang tak baik ditangan mereka yang berjiwa pelik. Agama dinista, agama diperkosa, agama dikerdilkan dengan akal serakah. Sehingga ada upaya menghilangkan agama dari proses proses membangun manusia berbudaya. Kemanakah sila Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa?

Diperlukan upaya mengembalikan marwah bangsa yang berjiwa. Setidaknya kalau tak bisa berharap kepada mereka yang berkuasa maka kebudayaan harus memulainya dari yang bisa. Lapang jiwa dan memerdekakan raga adalah sebuah keniscayaan menuju manusia berbudaya.

Memulai Dari Sekolah

Sekolah setidaknya bagi saya merupakan ladang yang paling memungkinkan menjadi persemaian kebudayaan. Karena disekolahlah keterukuran perubahan bisa dipertanggung jawabkan. Sekolah mesti harus memanusiakan. Karena dengan meperlakukan sesuai dengan kodratnya, setiap anak akan terdidik menjadi manusia yang berbudi luhur dan welas asih terhadap lingkungannya.

Sekolah tak perlu lagi harus bicara tentang sesuatu yang istimewa, bangsa ini butuh langkah nyata. Merenda Nusantara dengan aksara cinta.

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Bait bait cinta adalah bait bait bait indah dalam kata, sekolah mengharmonikan dalam langkah. Kalau ada kawan kita yang sakit, tak cukup dengan kata ” kasian ” tapi diperlukan langkah gerak mengunjungi si sakit. Setiap selesai melakukan proses pembelajaran baik guru dan murid saling mengucapkan terima kasih, adalah hal kecil dan sederhana. Banyak hal kecil dan sederhana bisa dilakukan oleh sekolah, tapi percayalah dengan langkah langkah kecil itu kita bisa mengembalikan marwah Indonesia yang terjarah.

Dari hal hal kecil disekolah, fondasi bangsa tertata, saling menghormati, gotong royong, saling menghargai, peduli dan lain lain bisa ditata. Sehingga rekonsiliasi bangsa bisa dimulai dari mereka.

Gagasan rekonsiliasi kebudayaan adalah sebuah keniscayaan untuk merenda kembali Indonesia dengan bait bait aksara cinta..semoga saja.

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi.. Selamat beraktifitas… Semoga kebaikan yang berkah kita dapatkan. Aamiien.

Surabaya 27 Maret 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.