Mau Pencet Jerawat? Menurut Sains, Jangan!

MEPNews.idJerawat memang menjengkelkan. Gatal, panas, sakit, nyeri, dan sangat mengganggu. Wajah yang mulus jadi ternoda oleh penampakan jerawat. Terus, bagaimana? Haruskah dipencet keluar isinya? Kenapa nantinya keluar jerawat lagi?

Michelle Rodrigues, Dokter Kulit di RS St Vincent di Melbourne, Australia, menulis untuk The Conversation yang diterbitkan ulang ScienceAlert 25 Maret 2018, menyarankan jangan memencet. Menurut sains, itu bukan solusi terbaik dan bahkan dapat membuat kulit jadi lebih buruk.

Jerawat adalah salah satu kondisi peradangan kulit yang paling umum pada remaja. Lebih dari 80 persen remaja bergulat dengan jerawat. Meski demikian, jerawatan juga dapat terjadi di usia lebih dewasa karena sejumlah alasan. Misalnya karena ketidakseimbangan hormon androgen.

Saat ini, dokter dan ilmuwan masih butuh banyak riset untuk memahami sepenuhnya penyebab jerawat. Pada dasarnya, kelenjar minyak di dasar folikel rambut dalam kulit, mengeluarkan minyak untuk melumasi permukaan kulit dan rambut. Semua bagian tubuh, kecuali telapak tangan dan kaki, mengandung kelenjar minyak.

Dulu, jerawat dianggap akibat kurangnya penumpahan normal pada sel-sel kulit yang melapisi folikel kelenjar minyak. Ini dianggap menyebabkan penebalan kulit dan pembentukan komedo kecil (berkepala hitam atau putih). Namun, ada pergeseran pemikiran dalam beberapa tahun terakhir. Jerawat sekarang dilihat sebagai gangguan inflamasi kulit saja.

Lalu, mengapa tidak boleh memencet jerawat?

Jerawat itu seperti kantong kecil di bawah kulit yang mengandung minyak, bakteri, dan radang. Dengan memencetnya, kandungan ini dapat turut terdorong ke kulit di sekitarnya sehingga memperburuk masalah. Ini juga dapat menyebabkan infeksi dan penggelapan warna kulit di daerah itu. Yang lebih parah, peradangan bisa makin buruk sehingga kelak menimbulkan jaringan parut ketika jerawat mereda. Tidak seperti jerawat, jaringan parut ini lebih permanen.

Jika tahan untuk tidak memencet, jerawat biasanya sembuh dalam waktu satu minggu atau lebih tanpa meninggalkan bekas jaringan parut. Isinya yang berwarna ‘putih’ juga menghilang dengan sendirinya atau secara spontan pecah sendiri saat sudah matang.

Jika jerawat terlalu besar dan memerlukan perawatan mendesak, dokter kulit dapat membuang isinya dengan cara aman. Dokter bisa memberi obat atau injeksi untuk mengurangi peradangan pada jerawat dalam satu atau dua hari. Tapi, jika jerawatnya muncul setiap bulan, harus dicari penyebab yang lebih serius.

Jika ingin menghindari jerawat, berikut ini beberapa tips agar memiliki kulit lebih sehat dan lebih cerah:

  • Makan makanan sehat dan seimbang tapi rendah gula. Silakan makan kacang, polong-polongan, ikan, daging, buah, dan sayuran. Sejumlah uji coba mendukung manfaat diet dengan beban glikemik rendah untuk pasien jerawatan. Ada penelitian yang menunjukkan risiko tinggi jerawat akibat sering konsumsi susu, tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikannya. Dianjurkan untuk menyimpan catatan harian untuk melihat makanan apa saja yang langsung memperburuk jerawat. Hindari makanan itu jika perlu.
  • Hindari scrubbing, cleansing, dan exfoliating secara berlebihan. Jerawat tidak terjadi karena akumulasi kotoran pada kulit dan tidak bisa hanyut begitu saja. Menggunakan banyak produk aneh-aneh justru dapat meningkatkan iritasi kulit dan kekeringan kulit sehingga memperumit masalah.
  • Pilih cleanser, pelembab, dan tabir surya yang bebas minyak –biasanya diberi label ‘non-comedogenic; pada kemasannya.
  • Pilih produk sikat rambut berbasis silikon daripada yang berminyak. Produk sikat rambut berminyak bisa menambah minyak dan lemak yang menumpuk di kulit, sehingga memperburuk jerawat.
  • Jika jerawat terlanjur muncul, cobalah menahan dorongan nafsu untuk memencetnya!

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.