Ketika Si Sodron Bertanya Tentang Harga Diri

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Sabtu siang kemarin ( 24/3/2018 ) disebuah diskusi kecil yang saya lakukan bersama beberapa kawan, Bayu dan Diki, kami mencoba menterjemahkan makna harga diri. Saya mulai dengan cerita tentang Sodron, meski sudah tidak lagi bisa dibilang muda, tapi Sodron mau melakukan apapun secara halal demi menghidupi keluarganya.

Suatu saat saya memberanikan bertanya kepada Sodron tentang aktifitasnya selain bekerja menafkahi keluarga. ” Saya ini selain pekerjaan yang saya lakukan seperti ini, serabutan, yang penting saya tidak mengganggu dan merepotkan orang lain, Cak! “, Ungkap Sodron. ” Saya juga banyak bergaul dengan teman teman melakukan aktifitas sosial dan kemasyarakatan, tapi saya juga berupaya menjaga aktifitas sosial itu tidak menjadikan mereka yang saya bantu kemudian repot memberikan sesuatu kepada saya, kasian mereka, meski mereka tidak lagi bisa dibilang miskin, tapi mereka sedang menghadapi masalah, apalagi terhadap mereka yang miskin “, terang Sodron dengan nada yang sangat datar.

Sambil menghela nafas datarnya, Sodron melanjutkan ceritanya, ” Cak, meski kehidupan saya seperti ini, pas pasan, tapi satu hal yang paling saya takuti adalah orang tidak percaya diakibatkan sikap saya yang tidak konsisten, misalnya suatu saat saya mengatakan bahwa saya tidak akan mengambil sepeserpun dari apa yang saya lakukan ketika membela masyarakat, tapi tiba tiba saya bisa meminta sesuatu dengan dalih yang saya minta itu untuk membantu mereka , meski mereka tidak keberatan, bagi saya itu akan memberatkan, karena mereka harus mencarikan “, Ujarnya.

Ditengah – tengah diskusi kami bertiga itu, Lalu Bayu mencoba memberi ulasan tentang sikap Sodron, ” Kalau begitu yang dimaksud dengan Sodron tidak merepotkan orang lain, tidak mau mengganggu orang lain, meski hidupnya juga pas pasan dan tidak menentu, dia tidak akan meminta bayaran terhadap orang susah yang dibantunya, kecuali memang itu pemberian yang semestinya, asal syaratnya tidak merepotkan pemberi, takut kehilangan kepercayaan orang lain, Apakah itu semua bisa dikatakan sebagai harga diri Sodron? “.

Diki mencoba memberi penjelasan, ” Saya kira apa yang dilakukan oleh Sodron adalah sebagian kecil dari sesuatu yang disebut dengan menjaga diri dari penilaian orang lain yang tidak baik, masih banyak hal hal kecil tapi bernilai tinggi menjaga diri dari kejatuhan penilaian terhadap kita yang dilakukan oleh orang lain, kita selalu menilai orang sebagaimana yang kita lakukan sendiri, kadang kita sering mengukur orang lain, seperti kita mengukur diri kita, seolah apa yang dilakukan orang lain, seperti yang kita lakukan sendiri “, ujar Diki. ” Sehingga kadang apa yang kita lakukan, meski baik, seringkali dipersepsikan menjadi sesuatu yang tidak baik, ya karena mungkin mereka sering melakukan hal yang tidak baik dalam aktifitasnya bersama orang lain “, urai Diki dengan nada menahan emosi.

Sambil sesekali bergurau untuk mencairkan suasana, saya mencoba memberikan joke joke kepada Bayu dan Diki, agar tidak terlalu serius dalam menjalani diskusi, sebab akan mengganggu emosi kita. Saya sampaikan ke Mas Diki, meski apa yang diuaraikan tadi baik, kalau disampaikan dengan nada yang tinggi, maka bisa terkesan kurang baik, sehingga pesan kebaikannya tidak tertangkap.

Mendengarkan keterangan atau kalau boleh disebut simpulan sementara yang dilakukan oleh Mas Diki dan Mas Bayu, saya mencoba memberi uraian sedikit sebagai penguat keterangannya. Sikap dan cara kita berkomunikasi dengan orang lain kadang kadang juga bisa menjatuhkan harga diri. Sikap dan cara bergaul kita dengan orang lain, juga bisa menjatuhkan harga diri. Kalau begitu ” harga diri ” itu apa ya?

Harga adalah sebuah nilai yang punya ukuran, seperti berapa harga barang, Harga itu ditentukan oleh kualitas barang yang kita buat, lalu orang lain membuat penilaian, sehingga timbullah kesepakatan, nah kesepakatan itu yang disebut dengan harga. Kalau itu berkaitan dengan kualitas seseorang, maka akan disebut dengan harga diri. Nah apa yang dilakukan oleh Sodron merupakan bagian dari cara dia membangun harga dirinya. Sehingga meski Sodron hidupnya pas pasan harga dirinya dia tidak mau merepotkan dan merugikan orang lain, dia menjaga kepercayaan orang lain kepada dirinya dengan sikap dan lakunya, sehingga tidak mudah dia menilai orang lain dengan cara yang tidak baik, karena apa yang dilakukan Sodron adalah hal hal yang baik dan positif.

Sambil membuka referensi tentang perilaku, supaya kelihatan agak akademis, saya mencoba menjelaskan teori tentang apa saja yang mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam ilmu psikokogi intrapersonal, disebutkan bahwa perilaku seseorang itu dpengaruhi oleh tiga hal, yaitu, pengalaman, bacaan dan lingkungannya. Pertama, Pengalaman seseorang akan cenderung terbawah digunakan untuk menilai perbuatan orang lain, karena dianggap mempunyai kedekatan, itulah yang disebut dengan respon of similarity. Misalkan kalau orang tersebut biasa menolong orang lain atau ketemu siapapun selalu mendapatkan imbalan, akan ada kecenderungan dia akan menilai orang lain seperti apa yang dilakukan. Kedua, bacaan seseorang juga mewarnai pemahaman dan cara berpikir seseorang dalam melihat sebuah persoalan. Kalau kita suka baca novel detektif, setiap peristiwa akan coba kita kaitkan dengan pemahaman kita sebagai detektif yang sedang mengurai sebuah persoalan. Kita akan coba rangkai peristiwa demi peristiwa untuk mendapatkan simpulan. Ketiga adalah lingkungan. Lingkungan juga mempunyai andil mempengaruhi perilaku seseorang. Kalau kita sering berkumpul dengan mereka yang cenderung berhati hati dalam mengurai persoalan, maka kita juga terpengaruh cara berpikir yang hati hati, kalau kita sering bergaul dengan mereka yang cenderung melanggar norma, maka sedikit banyak kita akan menganggap sebagai sebuah kewajaran ketika kita melanggar norma yang berlaku. Kata bijak mengatakan kalau anda ingin wangi, maka dekatlah dan bergaullah dengan penjual parfum.

Freud mencoba menjelaskana dalam psiko analisisnya memang ada kecenderungan orang puas dengan menilai orang lain dengan caranya sendiri, mereka menemukan kepuasan ketika membuat penilaian terhadap orang lain seperti apa yang dia lakukan. Itulah yang disebut dengan ” id ” yang menampakkan insting hewaniah, selalu ingin dipuaskan. Selanjutnya untuk mendapatkan kepuasan diri manusia memilih cara bagaimana mendapatkan kepuasan sebagai sebuah pilihan kesadarannya. Itulah yang disebut dengan ” ego “. Nah ketika pilihan kesadaran itu dilakukan , maka ” Super ego ” manusai menjadi pengingat, apakah yang dilakukan itu baik atau tidak, itulah yang sering kita sebut dengan hati nurani.

Seringkali kita jumpai orang menilai orang lain hanya untuk memuaskan dirinya, sehingga yang semacam itu kalau dilakukan tanpa kesadaran yang baik, penilaiannya akan cenderung tidak baik, dan itu yang disebut dengan berjalannya nafsu hewaniahnya, tanpa dibimbing oleh kesadaran yang baik serta hati nurani yang benar.

Harga diri kira kira seperti itulah, kata orang Jawa ” Ajine Rogo Soko Busono “, Kehormatan diri tergantung dari apa yang kita pakai, sehingga bisa dimaknai apa yang tampak oleh orang lain dari kita, itulah yang akan dinilai, sehingga kita mesti harus berhati hati dalam bersikap, bertutur, dan berperilaku terhadap diri dan orang lain. Begitulah saya mencoba menutup keterangan saya dalam diskusi kecil ini.

” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat berkumpul bersama keluarga dan beraktifitas dengan berkah, semoga kita menjadi hamba yang selalu bersyukur.. Aamiien

Surabaya, 25 Maret 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Penulis buku perubahan perilaku ” Berhentilah Sekolah, Mulailah Belajar “, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Pengajar di SSTT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.