Balada Negeri Terjarah

Catatan Oase :

MEPNews.id —– Seharian ini saya bersama beberapa kawan kawan dari Komunitas Bambu Runcing Surabaya menemani dua orang ibu dengan membawa anaknya melaporkan kejadian ” perampokan ” sepedamotor yang dilakukan oleh para debt collector. Kejadian yang pertama sang ibu memarkir kendaraan di parkiran, ketika kembali sudah tidak ada dan dipaksa menandatangani surat penyitaan. Sedang kejadian kedua, si ibu bersama anaknya dipaksa turun ditengah jalan dihadang oleh 6 debt collector dan dipaksa menanda tangani surat penyitaan. Ketika dilaporkan kepada pihak finance, pihak finance seakan lepas tangan, padahal tidak mungkin debt collector bekerja tanpa ada perintah, kesepakatan tidak ditemukan, karena pihak finance tidak mau menyerahkan, kecuali pihak klien membayar cicilan dan biaya membuka segel penyitaan untuk melepaskan kendaraan dengan biaya Rp. 1.500.000.

Betapa kejamnya pihak leasing terhadap rakyat kecil dan berlaku semena mena dengan melibatkan preman bayaran, tanpa memperhatikan perasaan dan keadaan mereka setelah perampasan. Tak punya hati atau bekerja tanpa hati.

Halalkah yang mereka makan dengan cara begitu? Padahal hasilnya dibawah untuk menafkahi anak istrinya. Mau jadi apa keluarganya kalau dinafkahi dengan hasil menyakiti orang apalagi menyakiti orang miskin, padahal kata Nabi doa orang teraniaya tak akan ditolak oleh Allah. Tidak adakah sedikit perasaan takut akan azab Tuhan terhadap diri dan keluarganya.

Negara Membiarkan

Setelah tak ditemui titik tengah penyelesaian, kami menuju Polrestabes Surabaya untuk melaporkan kejadian perampasannya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ditemui seorang petugas yang menjelaskan panjang lebar tentang perampasan dan bukti yang dibawah. Dalam surat penyerahan menurut pihak debt collector tetapi dilakukan dengan cara paksa, saya lebih tepatnya menyebut dengan ” perampasan “, petugas tidak bisa memberikan surat keterangan, karena didalam surat perampasan itu tertera tanda tangan bukti perampasan. Saya mencoba menjelaskan bahwa memang ada bukti tanda tangan, tapi apakah tidak bisa dipetakan proses penyerahan sepeda kepada debt collector situasinya seperti apa? Petugas tetap bertahan dengan pendapatnya, akhirnya kami diantar menghadap ke reskrim.

Yang ingin saya uraikan mengapa negara memberikan legalitas kepada lembaga keuangan yang masih menggunakan jasa debt collector? Mungkinkah negara tidak tahu? Bukankah sebagai tugas pengayoman dan perlindungan masayarakat, mengapa polisi tidak sigap menerima informasi dan laporan dari masyarakat? Akankah menunggu hukum rakyat terhadap para debt collector baru polisi bertindak?

Bukankah kita tahu bahwa didalam konstitusi negara disebutkan negara berkewajiban melindungi rakyatnya. Apakah rakyat itu harus dipilahkan dulu sehingga negara bisa hadir, kalau begitu betapa susahnya menjadi rakyat miskin yang hidup negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kartaraharjo.

Salahkah kalau kemudian rakyat mempunyai prasangka, bahwa disana ada sesuatu yang tersembunyi yang sengaja dipelihara? Hukum ternyata tumpul keatas dan yang berduit, tapi tajam kerakyat kecil dan orang miskin. Rasanya susah mencari keadilan di negeri yang katany berketuhanan dan berkeadilan sosial ini.

Perjalanan kami mendampingi kedua orang ibu itu terhenti, ketika kami diberi solusi bahwa pihak leasing dimibta untuk melepaskan kembali kendaraan, tanpa membayar biaya pembukaan segel pelepasan dan hanya diwajibkan membayar tubggakan yang belum terbayarkan. Lalu kami jadi bertanya? Jadi perbuatan perampasannya, menghentikan ibu dan anaknya berhenti dijalan dan merampas sepeda motornya bukan suatu kejahatan? Bagaimana kalau itu terjadi pada keluarga mereka, anak dan istri mereka, apakah mereka juga memberlakukan perlakuan yang sama kepada perampasnya? Padahal jelas jelas itu perbuatan kriminal dan melukai rasa? Pak polisi gunakan hati nurani anda ketika memeriksa sebuah perkara, jangan hanya menggunakan dalih alat bukti, padahal ada bukti lain yang perlu dikaji yaitu proses perampasan kendaraan dari pemilik ditengah jalan yang merupakan perbuatan kriminal, apalagi mereka seorang ibu dan anaknya. yang membedakan kalau perampok tanpa surat ” perintah “, sementara debt collector menggunakan ” surat perintah “.

Saya mencoba kembali membuka buku buku lama tentang peradilan semu, dimana disana seolah olah ada keadilan, tapi itu hanyalah fatamorgana. Rakyat hanya bisa terkesima dan berharap kelak suatu saat keadilan itu benar benar ada. Lalu saya teringat bagaimana Freud dalam perspektif analisisnya bahwa jiwa manusia terstruktur menjadi 3 bagian, yang pertama, id, alam bawah sadar yang selalu memproduksi keinginan, sebagai gambaran hasrat kesenangan yang harus selalu dipuaskan tanpa mau tahu dengan apa dan bagaiman cara memuaskannya, inilah yang disebut dengan nafsu hewaniah. Kedua ego, alam sadar, merupakan penanda rasionalitas, yang akan memilihkan cara memenuhi hasrat pemuasan dan dengan cara apa. Melalui ego inilah cara pemuasan dilakukan. Ketiga adalah Superego, Freud menyebutnya sebagai nurani manusia, fungsinya akan menjadi alarm bagi manusia dalam memenuhi pemuasan, Superego akan menjadi polisi moral manusia dalam hal mengingatkan cara pemuasan.

Ditengah kegelisahan saya ketika melihat potret layanan peradilan, saya mencoba menangkap sebuah makna, bahwa yang terjadi didepan mata kita semua adalah pentas ” pembenaran ” bukan pentas ” kebenaran “. Mestinya kalau hati nurani yang bicara maka perampasan dan pewajaran dalam perampasan oleh aparat kepolisian merupakan tindakan memenuhi hasrat Pemuasan saja dan itu menjauhi nilai moral, sehingga akan menjadi tidak salah negeri diurus oleh orang orang yang tidak menggunakan alam sadarnya, mereka menggunakan alam bawah sadarnya, mereka mabuk dan tanpa nurani dan inilah yang diindikasikan sebagai negeri dengan nafsu kebinatangan.

Akhirnya kembali kepada semua, sebagai orang yang sadar, maka kita mesti berjalan diatas jalan kesadaran yang kita miliki, sehingga kalau kita menjumpai perampasan lagi, maka sejatinya kita boleh menggunakan hukum massa kesadaran karena aparat kita masih diduga menangani perkara dengan ketidak sadaran. Tapi sayangnya kita masih punya nurani, sehingga kita masih bisa menghargai aparat negeri. Kalau sudah begini masihkah kita punya harapan?

Beginilah hidup dinegeri yang terjarah, rakyat tak punya asa, rakyat hanya boleh nestapa, tanpa boleh berbuat apa apa. Sehingga betullah apa yang dikatakan oleh hasil penelitian Indeks bahwa 74 % tanah dinegeri ini dikuasai oleh asing, rakyat akhirnya menjadi tamu dinegeri sendiri. Narkoba merajalela memasuki negeri tanpa henti, kemanakah para petinggi negeri dan aparat, sehingga para perusak generasi bebas berbagi racun bagi generasi negeri. Apakah ibu pertiwi sudah habis terbeli sehingga mereka bisa semaunya sendiri?

Kalau sudah begini, tak ada pilihan kecuali bangkit melawan, karena penjarahan sudah tak bisa ditoleransi, tibalah kemudian terdengar bait bait Bung Tomo bertakbir membakar semangat perlawanan penjajahan negeri :

Bismillahirrohmaanirrohiim… Merdeka!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara inggris telah menyebarkan pamplet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan menyrahkan senjata –senjata yang telah kita rebut dari tangan nya tentara jepang mereka telah minta supaya datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan .

mereka telah meminta supaya kita semua datangpada mereka itu dengan membawa berndera merah putih tanda bahwa kita telah menyerah.

Saudara-saudara

Di dalam pertempuran –pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya pemuda –pemuda yang berasal dari Maluku pemuda –pemuda yang berasal dari Sulawesi pemuda –pemuda yang berasal pulau bali pemuda –pemuda yang berasal dari Kalimantan . pemuda-pemuda dari seluruh sumatera. Pemuda Aceh ,pemuda tapanuli ,dan seluruh pemuda Indonesia yang ada ini di dalam pasukan –pasukan mereka masing-masing dengan pasukan –pasukan rakyat yang di bentuk di kampung-kampung telah menunjukkan satu kekuatan sehinggga mereka itu terjepit di mana-mana

Hanya karena taktik yang licik dari pada mereka itu saudara-saudara dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini , maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pertempuran tetepi pada masa itu mereka telah memperkuat diri dan setelah kuat sekarang inilah keadaanya .

Saudara-saudara kita semuanya kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara inggris itu dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia,ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini dengarkanlah tentara inggris ini jawaban kita ini jawaban rakyat surabaya ini jawaban pemuda Indonesia kapada kau sekalian

Hai tentara inggris kau mengkehendaki bahwa kita ini akan membawa bendera merah putih untuk takluk kepadamu ,kau menyuruh kita mengangkat tangan kepada mu ,kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu,tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada .

tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.

Saudara –saudara rakyat Surabaya ,siaplah!keadaan genting!tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak baru kalau kita ditembak maka kita akan danti menyerang mereka itu kita tunjukkan bahwa kita ini benar –benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saidaralebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka semboyan kita tetap merdeka atau mati.
Dan kita yakin saudara-saudara pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar percayalah saudara-saudara tuhan akan melindungi kita sekalian

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Merdeka

Assalammualaikum wr wb… Assalammualaikum wr wb… Merdeka, selamat pagi, selamat beraktifitas, selamat berbagi kebaikan dalam membangun negeri

Surabaya, 24 Maret 2018

M. Isa Ansori
Pegiat pendidikan yang memanusiakan, pegiat kebudayaan bersama Komunitas Bambu Runcing Surabaya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.