Bersanding Tanpa Tanding

Catatan Oase :

MEPNews.id —– Pada tulisan ini saya hanya berupaya menuliskan kembali apa yang sudah saya tulis kemarin ” Bertanding Tanpa Sanding “. Tulisan ini hanya ingin melihat dari sisi lain dari judul terdahulu. Pada tulisan ini penekannya lebih pada bagaimana seseorang mampu mengelola keragaman dan diubah menjadi energi perubahan yang dahsyat.

Bersanding tanpa tanding bisa bermakna dua pemahaman, yang pertama, kemampuan bersanding yang tiada tandingannya , dan yang kedua bermakna semangat bersinergi tanpa harus disisipi niat bertanding untuk saling mengalahkan dan melemahkan.

Terus terang saya sangat terusik dengan sebuah tulisan jujur yang bercerita tentang sebuah kegelisahan dan kekawatiran. Bagi suara kejujuran yang tak pada tempatnya justru berpotensi sebagai sebuah prasangka dan menjadi fitnah. Kalau sudah begini yang ada adalah menjauhkan diri pada persandingan dan menempatkan diri pada pertandingan. Tentu disana ada luka dan sumpah serapah, Kepekaan rasa ternista oleh raga yang angkara. Lalu apa bedanya kita dengan mereka. Kalau sama sama hanya mengandalkan praduga untuk menista sejumput jiwa yang terpelihara.

Luka itu menganga, terbawa perjalanan diatas rel kereta antara Surabaya dan Jogjakarta. Kota dimana keluhuran budaya tercipta. Dimana rekonsiliasi sejarah luka di balut derma. ” peri sampai ke ulu hati, pilu sampai menista dan menyayat sembilu “. ” Saya tak seperti itu “, ” tak ada dalam sejarah saya mereggang rasa dan jiwa saudara “. Deru kereta membawa asa berharap kesadaran raga atas salah tersuara. Ah … tapi biarlah, Tuhan Maha Tahu atas segala kuasa, ketika jiwa berada dalam genggamannya.

Sayup terdengar lantunan ayat suci yang mengatakan ” Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Saya terkesiap tentang pentingnya bersandingan. Disimbolkan dalam diksi istri yang bermakna sahabat, teman dan saudara yang saling bisa mengingatkan dan menyelamatkan. Sehingga bersinergi bersama sahabat dan teman atau saudara akan menghasilkan sebuah keauksesan yang dirahmati. Bersandingan tanpa prasangka disertai ketulusan akan menghasilkan karya besar yang dinukil dengan kata ” Mawaddah wa rahmah “.

Bersandingan, menunjuk pada sebuah makna bisa saling menerima dan menghormati serta melengkapi. Sehingga kata ” bersandingan ” akan menggambarkan sebuah proses panjang yang dilalui sebelum mereka bisa bersanding.

Dalam persandingan akan menuai perjalanan kualitas diri, yang kata Allah disebutkan sebagai ummat yang terbaik, yaitu ummat yang bisa bersinergi mencegah keburukan. Dalam rangka mencapai kemenangan.

Bersandingan tanpa tanding menandakan sebuah ketulusan dan kebesaran hati untuk tidak merasa paling menonjol, paling berhak, paling berjasa dan paling hebat. Sehingga dalam kebersandingan setiap insan menempatkan dirinya pada ” fana ” dan ” tidak ada “, yang ada yaitu ada itu sendiri. Wihdatul wujud, manunggaling kawulanlan gusti. Sehingga setiap diri yang bersanding akan lebur dening pangestuti.

Bagaimana dengan Musa yang diperintahkan oleh Allah untuk mendatangi bukit dan melebur menjadi dengan melepaskan atribut Atributnya. ” Wahai Musa.–sesungguhnya aku Inilah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua sandalmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci; Thuwa.– Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).–Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.– Segungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.–Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu menjadi binasa.” (QS. Thaahaa: 11-16)

Bagaiman juga ketika Allah mau mengangkat derajat Muhammad menerima wahyu, Allah kemudian membersihkan isi hati Nabi, dari atribut atribut kesombongan, yang ada hanyalah ketulusan dalam mengabdi.

Allah itu suci dan hanya bisa ditemui oleh mereka yang suci, begitu juga kemerdekaan, akan hanya diperjuangkan oleh mereka yang jiwanya merdeka, jiwa yang tulus yang tak lagi mempersoalkan simbol dan atribut.

Bersanding tanpa tanding adalah kematangan diri dalam berinteraksi, karena jiwa yang bersanding akan selalu saling menebar kemanfaatan, jiwa bersanding merupakan sebuah rangkaian potensi yang bersinergi, jiwa bersanding adalah batin yang tercerahkan.

Mendidik Diri Menjadi Bersanding

Bersanding adalah sebuah rasa berempati, sehingga didalam bersanding bermuatan kecerdasan memperlakukan diri dan memperlakukan orang lain. Proses proses menuji bersanding tak bisa hanya diajarkan, tapi harus dibiasakan dan ditauladankan. Lihatlah bagaimana nabi mencontohkan dirinya sebagai negarawan yang cerdas. Dalam tarikh pasebaran islam yang ditolak oleh kaum jahiliyah Quraysi, itu artinya selama dakwah ini ditolak, maka akan sangat sulit ajaran kebenaran ini akan berkembang. Melalui perjanjian Hudaibiyyah, Nabi bersinergi dalam melindungi ummatnya yang selama ini dinista. Melalui perjanjian inilah positioning nabi terangkat, Nabi harus menandatangani perjanjian bersama para tokoh Quraysi saat itu. Nabi diakui sebagai pemimpin. Kebersandingan mesti harus dtauladankan dan dibiasakan.

Kebersandingan merupakan potret kebesaran jiwa ketika kita pada pisisi yang dilebihkan, karena kita harus mensejajarkan diri dengan siapapun. Sehingga kebersandingan merupakan pengorbanan besar yang harus dihormati tanpa harus dicurigai.

Nah kawan… Membangun peradaban tak bisa dilakukan dengan cara cara yang biadab, menata hamparan kebudayaan dibutuhkan kerelaan untuk percaya dan saling percaya.

Menata diri mampu bersanding tanpa terbersit bertanding merupakan karya besar sebuah peradaban. Mulailah dari diri bisa percaya dan dipercaya, maka orang lain akan percay.

Siapapun anda…. Guru, aktifis, pejabat , pelajar biasakan berterima kasih kepada siapapun yang berjasa kepada kita, didalam makna ucapan terima kasih menggambarkan kita butuh orang lain, sehingga kebersandingan itu bermakna kecerdasan akan kemampuan menempatkan orang lain pada posisi yang tepat, serta kecerdasan menata laku diri dan ucap agar tidak memelukai rasa jiwa.

Kidung kebesaran jiwa menjadi penanda menempatkan diri pada kecerdasan bersanding, dan para Wali telah membuktikan bagaimana menyandingkan keragaman menjadi energi besar sebuah perubahan

Assallammualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat beraltifitas, semoga Allah selalu memberkahi jiwa kita dengan kesantunan dan keberadaban laku dan ucapan. Aamiien.

Surabaya, 18 Maret 2018

M. Isa Ansori

Pembelajar pada laku berbudaya, sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.