Anak Agresif Terkait Defisit Fungsi Eksekutif

MEPNews.id – Studi oleh peneliti dari Universität Postdam di Jerman menemukan, berkurangnya fungsi eksekutif –yakni, kemampuan kognitif yang memungkinkan mencapai tujuan dengan mengendalikan perilaku– bisa memprediksi perilaku agresif selanjutnya. Anak-anak usia sekolah dasar yang mengalami kekurangan ini lebih cenderung menunjukkan peningkatan perilaku agresif saat berusia agak besar.

ScienceDaily edisi 15 Maret 2018 mengabarkan, hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience. Penelitian menunjukkan, anak-anak ini cenderung menunjukkan agresi fisik, agresi relasional dan agresi reaktif di tahun-tahun berikutnya, namun bukan agresi proaktif.

Agresi yang meningkat ini tampak pada anak laki-laki maupun perempuan. Mungkin sebagian disebabkan oleh meningkatnya kecenderungan kemarahan pada mereka. Nah, membantu anak-anak meningkatkan fungsi eksekutif mereka dapat mengurangi perilaku agresif mereka.

Agresi masa kecil ini bisa menciptakan berbagai tantangan bagi anak itu sendiri, orang tua, saudara kandung dan teman sekelasnya. Maka, memahami dasar agresi –dan bagaimana perkembangannya di masa kecil– dapat membantu peneliti mengidentifikasi cara mengurangi perilaku agresif.

Fungsi eksekutif mencakup keterampilan untuk beradaptasi terhadap situasi dan perencanaan yang kompleks, antara lain mengendalikan diri dalam situasi yang menantang. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan, perilaku antisosial ini terkait dengan fungsi eksekutif yang rendah. Maka, tidak mengherankan jika memperbaiki fungsi eksekutif ini dapat membantu mengurangi agresi. Namun, tak banyak penelitian tentang hubungan antara fungsi eksekutif dan agresi anak-anak ini. Para peneliti belum sepenuhnya memahami hubungan antara fungsi eksekutif, jenis agresi tertentu, dan faktor pendukung lainnya termasuk betapa mudahnya seseorang menjadi marah.

Para peneliti dari Universität Potsdam menyelidiki hubungan antara fungsi eksekutif masa kecil dan berbagai jenis agresi untuk melihat apakah defisit fungsi eksekutif dapat memprediksi perilaku agresif di tahun-tahun berikutnya.

Tim peneliti menilai anak-anak SD di Jerman berusia 6 – 11 tahun dalam tiga poin waktu: awal penelitian, 1 tahun kemudian dan 3 tahun kemudian. Anak-anak mengisi kuisener perilaku untuk mengungkapkan berbagai aspek fungsi eksekutif mereka, termasuk memori, kemampuan perencanaan dan pengendalian diri. Para peneliti juga meminta guru untuk mencatat kecenderungan anak-anak terhadap berbagai jenis agresi, termasuk fisik, relasional (di mana anak secara sosial dikucilkan atau diancam mengakhiri pertemanan), agresi reaktif (di mana anak bereaksi agresif terhadap provokasi), dan agresi proaktif (di mana anak agresif begotu saja tanpa harus terprovokasi lebih dulu). Akhirnya, orang tua anak mengisi survei yang merinci bagaimana anak-anak cenderung marah.

“Kami menemukan, defisit dalam fungsi eksekutif mempengaruhi agresi fisik dan relasional di kemudian hari,” kata Helena Rohlf, penulis utama studi ini. “Semakin banyak defisit eksekutif yang ditunjukkan anak pada awal penelitian, semakin tinggi agresi mereka satu dan tiga tahun kemudian.”

Rohlf dan rekan-rekannya juga menemukan, semakin meningkatnya kemarahan pada anak-anak seiring dengan menurunnya fungsi eksekutif dapat menjelaskan tentang terjadinya peningkatan agresi mereka di tahun-tahun berikutnya.

Selanjutnya, defisit fungsi eksekutif juga terkait dengan meningkatnya agresi reaktif namun bukan agresi proaktif. “Ini terkait dengan gagasan agresi proaktif sebagai agresi ‘berdarah dingin’ atau agresi yang ‘terrencana,” kata Rohlf. “Fungsi eksekutif memungkinkan anak-anak berperilaku dengan mode yang direncanakan dan disengaja, yang merupakan ciri khas agresi proaktif.”

Tim peneliti juga menemukan, fungsi eksekutif memiliki efek yang sama terhadap agresi pada anak perempuan dan anak laki-laki. “Meski perilaku agresif lebih umum terjadi pada anak laki-laki, hubungan antara fungsi eksekutif, kemarahan, dan agresi tampaknya serupa untuk anak perempuan dan anak laki-laki,” kata Rohlf.

Hasilnya menunjukkan, program pelatihan untuk membantu meningkatkan fungsi eksekutif dan mengelola kemarahan, dapat mengurangi agresi mereka. Para periset berencana melakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah hasilnya juga berlaku pada anak-anak dengan tingkat agresi yang serius.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.