Selamatkan Nyawa Global dengan Susu Platipus

MEPNews.id – Jagad sains dan kesehatan diresahkan oleh fenomena ‘Superbugs’. Ini adalah bibit penyakit yang kebal terhadap antibiotik. Resistensi ini terjadi ketika ada jasad renik yang bertahan terhadap pengobatan antimikroba lalu berkembang menghasilkan keturunan yang sudah membawa kekebalan bawaan. Resistensi ini menyebabkan bibit penyakit pada manusia jadi kebal terhadap pengobatan yang dulu manjur.

Para ilmuwan di seluruh dunia mencoba menemukan sesuatu yang bisa menembus benteng resistensi superbugs ini. Untungnya, seperti dalam rilis yang disampaikan EurekAlert! edisi 14 Maret 2018, para ilmuwan Australia menawarkan terobosan dengan mengajukan calon pahlawan di jagad perang global melawan resistensi antibiotik. Calon superhero itu adalah platipus.

Platipus ini hewan aneh dan pemalu. Aneh karena punya ciri khas bersudu seperti bebek, bertubuh seperti berang-berang, menyusui tapi bertelur, dan punya bisa yang cukup beracun. Platipus lama menjadi daya tarik para ilmuwan sebagai subjek penting dalam studi biologi evolusioner. Namun, pada 2010, ilmuwan juga menemukan susu platipus mengandung sifat antibakteri unik yang bisa digunakan untuk melawan superbug.

Sekarang, tim peneliti di lembaga penelitian nasional Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Oganisation (CSIRO), dan Deakin University memecahkan teka-teki yang membantu menjelaskan mengapa susu platipus sangat manjur. Penemuan ini dibuat dengan mereplikasi protein khusus yang terkandung dalam susu platipus di laboratorium. Temuan ini membuat satu langkah lebih dekat untuk menggunakan susu platipus bagi penyelamatan nyawa manusia.

“Platipus itu binatang aneh sehingga masuk akal jika juga memiliki biokimia aneh,” kata Dr Janet Newman, ilmuwan di CSIRO dan penulis utama penelitian yang diterbitkan dalam Structural Biology Communications. “Platipus termasuk dalam keluarga monotreme, sekelompok kecil mamalia yang bisa bertelur dan menghasilkan susu untuk memberi makan anak-anak mereka. Dengan meneliti susu mereka, kami menandai protein baru yang memiliki sifat antibakteri unik dengan potensi untuk menyelamatkan nyawa.”

Karena tidak memiliki puting susu, platipus menunjukkan susu ke perut agar anak mereka bisa menyusu. Dengan memaparkan susu sangat bergizi ke lingkungan terbuka, bayi platipus seharusnya rentan terhadap bahaya bakteri dan bibit penyakit lainnya. Kenyataannya, bayi-bayi platipus itu umumnya sehat.

Dr Julie Sharp dari Deakin University mengatakan, para periset percaya susu platipus mengandung protein dengan karakteristik antibakteri yang luar biasa dan protektif. “Kami tertarik memeriksa struktur dan karakteristik protein itu untuk mengetahui secara tepat bagian mana dan fungsinya apa,” katanya.

Struktur unik protein susu platipus yang berbentuk melingkar seperti cincin. Credit: CSIRO.

Struktur unik protein susu platipus yang berbentuk melingkar seperti cincin.
Credit: CSIRO.

Maka, dengan menggunakan keajaiban biologi molekuler Synchrotron, dan Collaborative Crystallisation Center (C3) canggih milik CSIRO, tim peneliti berhasil membuat protein itu dan kemudian menguraikan strukturnya untuk mengkajinya dengan lebih baik.

Mereka menemukan lipatan 3D yang unik dan belum pernah dilihat sebelumnya. Karena formasinya seperti cincin, para peneliti menamai protein yang baru ditemukan itu ‘Shirley Temple’. Nama ini sebagai penghormatan kepada rambut keriting bintang film Shirley Temple yang terkenal pada 1960-an.

Dr Newman mengatakan, menemukan lipatan protein baru itu sangat istimewa. “Kami telah mengidentifikasi protein yang sangat tidak biasa ini hanya ada dalam monotrema. Namun, penemuan baru ini meningkatkan pengetahuan kami tentang struktur protein pada umumnya. Kami akan terus menginformasikan penemuan obat lain yang dilakukan di Center.”

Pada 2014, Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan laporan yang menyoroti skala ancaman global akibat resistensi antibiotik. Lembaga PBB itu meminta tindakan segera untuk menghindari era ‘pasca antibiotik’, saat mana infeksi umum dan luka ringan yang telah teratasi selama beberapa dekade tiba-tiba jadi kembali mematikan.

Maka, para ilmuwan kini mencari kolaborator untuk melakukan penelitian terhadap platipus yang berpotensi menyelamatkan nyawa.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.