Resonansi : Memaknai Betis Kendedes

Catatan Oase :

MEPNees.id —– Setiap Senin saya mempunyai agenda rutin setiap siang berangkat ke Malang untuk berbagi pengalaman bersama mahasiswa saya. Hal rutin sebelum sampai ke terminal Arjosari, bus yang saya tumpangi selalu melewati patung besar , patung Ken Dedes, wanita tercantik dan bahkan seksi pada zamannya, sehingga menorehkan sebuah sejarah berupa kisah asmara dan tragedi pembunuhan suksesi pemimpin kerajaan Singhasari. Patung itu sebagai penanda bahwa perjalanan kita sudah hampir sampai memasuki terminal dan akan memasuki kota malang. Siang ini, Senin ( 12 Maret 2018 ) tiba tiba saja saya tertarik dengan postur patung Kendedes yang berdiri kokoh di sebuah taman disebelah jalan layang jalan Ahmad Yani.

Saya mencoba membangunkan kembali ingatan tentang kerajaan Singhasari. Sebelum berdiri kerajaan Singhasari, Tunggul Amautung merupakan tokoh masyarakat yang menjabat sebagai akuwu (pejabat kadipaten) pada zaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Kertajaya (1185 -1222).

Suatu saat Tunggul Ametung singgah di desa Panawijen dan disanalah ia bertemu dengan seorang gadis nan cantik rupawan. Tunggul Ametung terpikat hatinya dan berusaha mencari tahu siapakah gadis nan elok yang telah mempesonanya. Dialah Ken Dedes, putri seorang pendeta Buddha bernama Mpu Purw. Singkat kata karena kecantikannya itu, Tunggul Amaetung tak sabar untuk mempermaisuri Ken Dedes dengan cara menculiknya.

Mendengar perlakuan anaknya diculik, Sang Empu bersumpah, bahwa siapapun yang menculik anaknya, pasti akan mati terbunuh ditangan seseorang melalui keris. Kecantikan Ken Dedes teenyata juga mengusik perasaan seorang pengawal kerajaan yaitu Ken Arok, Putra Ken Endok. Ken Arok yang sejak kecil dididik sangat keras, menyimpan gelora cinta yang sangat dalam. Lalu disusunlah tipu muslihat.

Ken Arok memesan sebilah keris kepada Empu Gandring, lalu ditunjukkanlah keris kepada Kebo Ijo. Karena wataknya yang sukua narsis, maka Kebo Ijo menunjukkan kepada seluruh khalayak bahwa dia memiliki keris yang sakti mandraguna. Karean hasrat memiliki yang menggebu, suatu malam diambilah keris secara sembunyi sembunyi oleh Ken Arok. Begitu terambil, Ken Arok menyelinap kedalam istana dan kemudian membunuh sang adipati, Tunggul Amaetung. Ken Dedes mengetahui itu, lalu dia menyimpan dendam, meski akhirnya dia juga terpaksa harus menikah dengan Ken Arok.

Nah kawan sejarah kekuasaan bangsa Indonesia sejatinya banyak diwarnai dengan darah dan wanita. Pada zaman kerajaan Tumapel, Betis Ken Dedes menjadi pemicu seorang pengawal raja membunuh raja, demi menguasai betis sang wanita. Ada apa dibalik betis Ken Dedes ?

Saya mencoba memaknai ” betis Ken Dedes ” dalam perspektif simbol sebagai sebuah hal yang tak mempunyai arti, bila tidak ada hasrat yang dibangun oleh Ken Arok. Words doesn, ‘t mean, People mean. Kata kata tak akan pernah punya arti, manusialah yang membangun arti. Nah dalam kaitan kebutuhan, setidaknya setiap orang mempunyai kebutuhan, dan kebutuhan yang paling didambakan oleh manusia adalah kebutuhan untuk memuaskan hasrat kesenangan dirinya. Aksi terhadap penuasan kebutuhan merupakan response atas cara pemenuhan kebutuhan. Nah cara pemenuhan itulah yang kadang abai terhadap norma norma yang ada.

Apa Yang Membedakan Manusia Dengan Binatang?

Freud dalam pandangannya bahwa manusia dalam bertindak dipengaruhi tiga hal faktor. Faktor yang pertama adalah id, yang merupakan faktor alam bawah sadar manusia. Dalam Id yang dibicarakan adalah bagaimana tubuh harus selalu senang. Nah inilah yang disebut sifat kebinatangan kita. Selalu ingin senang dan terpuaskan.

Sebagai mahluk yang bersosial, manusia juga memiliki ego. Yaitu suatu sikap yang muncul secara rasional untuk menentukan cara bertindak. Biasanya jalan dipilih dalam memenuhi kesenangan ditentukan oleh cara yang dipilih. Ketika cara yang dipilih itu tak baik, maka saat itulah superego menjadi alarm, mengingatkan bahwa cara yang kita lakukan harus sesuai dengan norma yang ada.

Bagaimana Memaknai Simbol atau Gagasan?

Manusia sebagai mahluk yang selalu berpikir, maka dia akan selalu menyebarkan informasi agar apa yang dia pikirkan bisa dilakukan oleh orang lain. Dalam komunikasi kemampuan menyebarkan gagasan atau simbol dalam sebuah peristiwa disebut dengan ” encoding “. Dari gagasan dan simbol yang ditulis lalu diharapkan akan mendapatkan respon. Respon yang diharapkan sudah selayaknya adalah respon dalam bentuk perilaku, yang disebut dengan ” decoding “. Menterjemahkan tulisan dalam bentuk perbuatan.

Betis Ken Dedes adalah makna simbol yang bercerita tentang gagasan keindahan dan dituangkan dalam diskripsi dengan narasi tentang suasana yang indah damai dan tenteram. Gagasan itu tak akan punya arti kalau masyrakatnya tidak terlihat melakukan keindahan, baik itu keindahan dalam arti kesejahteraannya, perilakunya atau ucapan yang dikeluarkannya. Kemampuan menyelaraskan antara simbol dan perilaku, disebut dengan resonansi.

Kawan.. Kemampuan kita memunculkan superego dalam setiap aktifitas, ini menunjukkan bahwa kita adalah manusia dan mahluk veradap. Ketidak mampuan menyebarkan virus kebaikan maka disebutlah dengan disonansi kepribadian.

Sebagai mahluk yang beragama, kemampuan superego adalah kemampuan menghadirkan Tuhan dalam kehidupan. Sehingga kalau kehidupan itu selalu menghadirkan Tuhan dalam pemikirannya, maka sikapnya pasti merupakan sikap ketuhanan. Sikap ketuhanan itu seperti apa? Setiap orang pasti punya makna, dan makna yang didapatkan, akan membimbing interpretasi manusia. Manusia yang dibesarkan dalam lingkungan yang baik, maka akan ada kecenderungan menjadi baik, begitu juga sebaliknya. Resonansi yang baik akan lahir dari orang orang baik yang dibesarkan dalam situasi yang baik pula. Lalu apa ukuran kebaikan itu? Kebaikan itu adalah sesuatu yang dirasakan baik oleh orang lain ketika kita melakukannya. Allah sebagai sandaran menentukannya.

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” ( HR Buchari nomor 1296 )

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga Allah memberi kita pikiran yang penuh hidayah… Aamiien

Surabaya, 13 Maret 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan memanusiakan, Sekretris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan, Pengajar pada STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.