Wisuda di SMP Hiyodoridai, Kobe, Catatan Menarik Seorang Ibu Asal indonesia

MEPNews.id —-Saya ingin berbagi kebahagiaan teman yang tengah berada di Jepang. Semoga bisa menjadi inspirasi buat teman-teman pendidik di Indonesia. (Dewi Utama Faiza)

Wisuda di SMP Hiyodoridai, Kobe

Alhamdulillah Kakak Najmi sudah menamatkan SMP-nya di Hiyodoridai Kobe, Jumat 9 Maret 2018. Jumlah wisudawan terdiri dari 58, kelas 3-1 sebanyak 28 orang dan kelas 3-2 sebanyak 30 orang. SMP Hiyodoridai adalah SMP negri di daerah Hiyodoridai, Kobe, yang hanya menerima murid tamatan dari SD Hiyodoridai saja. Jadi tidak terlalu banyak total murid dari kelas 1-3 di SMP ini.

Dari sekian banyak rombongan orangtua peserta wisuda, maka kami merupakan rombongan paling besar. Ada Mami-Papi, Om Cik-Tante dan Assyifa. Adek Aqeela dan Abang Rais sekolah seperti biasa.

Acara tepat dimulai jam 10 teng. Peserta wisuda pada deretan paling depan. Para guru duduk berjejer rapi di sebelah kiri panggung, tamu undangan meliputi Kepala SD Hiyodoridai, PTA, dan persatuan senior (nenek kakek) serta tamu dari bagian pendidikan dari city office duduk di deretan depan (samping kanan). Dua group di tengah adalah para orangtua wisudawan/wisudawati. Sementara murid kelas dua perempuan di sebelah kiri dan group murid laki-laki duduk di sebelah kanan group orangtua wisudawan.

FB_IMG_1520806752133 FB_IMG_1520806760494

Seperti biasa, tatanan ruangan apik dan bersih. Acara juga sangat kidmat. Para murid memberikan hormat dengan serentak, padahal tanpa komando. Subhanallah, mereka terlihat khusuk dan fokus semuanya. Tidak ada suara gaduh dan panggilan HP. Suasana benar benar khidmat.

Tidak ada pula yang berdiri ke sana ke mari untuk mengambil foto. Fotografer yang disewa oleh sekolah menancapkan tiang untuk kamera dan vidio kamera di lantai 2. Betul betul semua apik dan berjalan sangat baik.

Cara murid mengambil ijazah semua sama. Tidak ada gerakan yang salah. Ketua PTA (parent teacher association, yang diketuai orangtua murid, juga apik dan lancar menyampaikan pidato untuk para wisudawan.

Semua rangkaian acara berjalan apik, memukau perhatian semua makhlukNya yang berada di aula sekolah.

Hal yang penting dari pidato pelepasan wisudawan oleh Kepala sekolah sbb,

“Sotsugyou omedetou gozaimasu! Selamat wisuda! Waktu berjalan cepat, 3 tahun tidak terasa. Sekarang kalian semuanya sudah menyelesaikan pendidikan wajib 9 tahun. Selanjutnya kalian akan berpisah menuju jalan masing-masing yang sudah dipilih. Mulai sekarang jangan buang waktu, jangan bermain lagi. Kalian yang menentukan masa depan kalian, bukan orang lain!”

Bagi kami yang mengikuti pendidikan anak di Jepang sejak anak anak bersekolah mulai dari usia nol tahun, baru kali ini mendengarkan pidato Kepala sekolah untuk meminta anak anak tidak membuang waktu dan bermain. Biasanya pada saat upacara masuk SD maka hampir semua Kepala TK atau hoikuen menyampaikan pesan untuk murid-muridnya yang masuk SD,

“Banyaklah bermain dan membuat pertemanan. Dan tidak pernah ada yang menyampaikan rajin-rajinlah belajar agar menjadi dokter dan insinyur.”

Suatu hal yang berbeda dengan pendidikan di negara kita, dan pengalaman yang saya alami. Waktu saya SD, setiap Hari ada PR membuat tulisan bersambung, bahkan hingga 10 halaman, belum lagi PR matematika, dan pelajaran lainnya. Bagi saya yang tidak masuk TK memang tidak masalah bahkan senang sekali bisa menulis dan belajar. Tapi bagi mereka yang senang bermain, sering mendapatkan hukuman, berdiri dengan kaki sebelah di depan kelas. Para guru selalu mengingatkan kami untuk rajin belajar agar bisa jadi dokter dan insinyur.

Semoga saat ini sudah tidak demikian lagi. Saat anak anak berada pada usia TK dan SD adalah saatnya anak banyak bermain, membuat pertemanan, mengekspresikan potensi diri, dan yang paling utama menanamkan ajaran moral dengan metode action dan teladan pada mereka setiap saat setiap hari, tanpa membuat mereka merasa jenuh dan bosan.

Kembali pada topik wisuda di SMP Hiyodoridai, cara mereka membubarkan hadirin di dalam aula, juga sangat apik. Wisudawan meningalkan ruangan usai persembahan paduan suara. Kemudian tamu tamu dan para guru dipersilahkan dengan satu kali komando. Selanjutnya murid kelas 2 dan terakhir kami para orangtua wisudawan, setelah kami diinfokan untuk berbaris di sepanjang jalan yang akan dilalui wisudawan saat mereka usai dari kelas dan mengambil semua barang bawaannya. Karena mereka terakhir hadir di sekolah.

Murid kelas dua, dan semua hadirin yang tadinya berada di ruangan aula, menjadi pagar di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh para wisudawan, menuju aula kedua khusus untuk ruang berfoto ria.

Di ruangan aula kedua para wisudawan asyik berfoto, karena seterusnya mereka akan berpisah. Untuk sekolah SMA perempuan yang akan dituju oleh Najmi, hanya ada 3 alumni SMP Hiyodoridai. Dan setiap mereka berbeda course. Satu mengambil course food processing, satu lagi nurse, dan Najmi mengambil Economic. Satu diantara sekian murid memilih sekolah SMA punya NHK, TV Jepang, sekolah khusus untuk jalur artis, pemain drama, pembawa berita dan semua hal yang berhubungan dengan media TV.

Hal yang menjadi pengamatan saya, umumnya wisudawan perempuan berfoto dengan perempuan dan laki laki dengan laki laki. Sangat jarang ada laki-laki dan perempuan berselang seling. Seperti mana paduan suara, tempat duduk saat berada diaula dan dilapangan, dan beragam kegiatan lainnya, mereka benar-benar memisahkan group laki laki dan group perempuan. “Islami sekali bukan?” (Silahkan lihat di foto).

Demikian info dan pengalaman pertama kami mengikuti wisuda anak kami, Najmi Azizah Prihardi.

To Kakak anakku:

Perjuangan Kakak Najmi masih panjang, semoga Kakak makin semangat untuk bergiat belajar. Semoga Allah memudahkan Kakak dalam meraih cita-cita Kakak. Mami dan Papi akan support jalan yang Kakak pilih, meskipun Mami inginnya Kakak menjadi peneliti di bidang bioteknologi dan bioengineering seperti jalur Papi dan Mami. Kakak yang akan menjalani, pilihan Kakak adalah yang terbaik buat Kakak! Aamiin YRA

“Selamat dan tetap semangat buat Kakak! Semoga Allah meridhoi perjuangan Kakak. Aamiin YRA.”

Jumiarti Agus
Pendiri dan Ketua Int.ACIKITA

Terima kasih yang sama sama Uni Dewi, kami benar benar suka dengan sajian dan desain acara mereka. Tidak ada acara makan-makan apapun, memang bukan jam makan (karena acara mulai jam 10).

Acara efektif, khidmat, sederhana dan berkesan. Membuat para ortu haru. Air Mata mengalir secara alami. Saya selalu terbayang dg acara wisuda anak anak di Indonesia. Mulai dari TK dstnya, wajah anak penuh make up (ini belum pantas), acara sewa gedung, dipungut bayaran ini itu. Sekolah anak saya mengadakan acara di aula sekolah. Tanpa bayaran, bahkan anak dibuatkan sertifikat mewah, inkan (cap pengganti tanda tangan), dan album kenangan mereka sejak kelas 1 SMP. InsyaAllah nanti di sekolah ACIKITA hal-hal baik ini akan kami terapkan. ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.