Trauma Masa Anak Picu Halusinasi Skizofrenia

MEPNews.id – Para penderita skizofrenia (gila) dapat memperoleh manfaat dari perawatan lebih efektif dan sesuai serta mendapat pemberdayaan diri lebih baik. Itu berkat penelitian yang berhasil menemukan bukti hubungan antara trauma pada masa kanak-kanak dengan beberapa gejala skizofrenia paling umum.

EurekAlert! edisi 12 Maret 2018 mengabarkan, para peneliti dari Orygen, National Centre of Excellence for Youth Mental Health; Universitas Melbourne; Rumah Tahanan Port Phillip semuanya di Australia dan Rumah Sakit Universitas Gran Canaria Dr Negrin di Spanyol, mengungkapkan kasus-kasus pelecehan seksual, penggangguan fisik dan emosional pada masa anak ternyata terkait dengan halusinasi parah skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya.

Temuan terkuat dari penelitian tersebut adalah halusinasi pada penderita gangguan psikotik terkait dengan semua jenis trauma masa kecil, kata Dr Sarah Bendall penulis utama penelitian. “Ada sesuatu tentang trauma masa kanak-kanak yang menyebabkan beberapa orang mengalami halusinasi,” kata Dr Bendall, yang juga kepala penelitian trauma di Orygen.

Meta-analisis yang mengkaji 29 studi tentang trauma masa kanak-kanak dan gejala psikotik ini juga menemukan bahwa pelecehan seksual masa kecil terkait dengan delusi (waham). Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Schizophrenia Bulletin ini memberi penjelasan tentang missing link teori lama tentang hubungan antara trauma masa kanak-kanak dengan halusinasi dan delusi. Dr Bendall mengatakan, memberikan bukti ini adalah langkah awal penting dalam mengembangkan perawatan yang sesuai, sensitif dan efektif untuk gejala psikotik berbasis trauma.

Sekitar satu dari setiap 100 orang akan mengalami gangguan psikotik dalam kehidupan, dengan gejala berkembang pada usia 18-25 tahun. Gejala psikotik dapat mencakup kabur dari kenyataan, halusinasi, delusi, pemikiran yang tidak terorganisir, dan kurangnya motivasi atau emosi. Sampai saat ini, perawatan untuk trauma psikosis lebih berfokus pada gangguan stres pasca-trauma daripada pada gejala spesifik antara lain halusinasi dan delusi.

Dr Bendall mengatakan, penelitian baru ini tidak hanya membantu memperbaiki cara merawat pasien gangguan psikotik namun juga dapat membantu memberdayakan pasien lebih muda.

“Ketika anak muda datang ke layanan kesehatan mental remaja, kita harus menilai trauma dan gejala psikotik lebih dulu, lalu merawat segera setelah mereka muncul,” kata Dr Bendall. “Kita juga dapat mempersenjatai kaum muda dengan beberapa pengetahuan dari penelitian ini. Kemudian, mereka dapat membuat keputusan tentang faktor-faktor yang menyebabkan kondisi psikosis mereka sendiri. Sangat memberdayakan jika kita dapat memberi orang informasi yang tepat.”

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.