Menyetubuhi Bopda Dengan Memperkosa

Catatan Oase  :

MEPNews.id —–Pendidikan sejatinya sebuah perhelatan suci tempat menebar bau wangi budi pekerti. Disanalah sederet harapan ditambatkan demi meniti sebuah budi pekerti. Sekumpulan resi suci merenda bait bait lagu tentang harmoni keadaban diiringi dendang ” Akulah Pahlawan Tanda Jasa ”

Soreini, Minggu, 11 Maret 2018, saya kedatangan serombongan guru TK yang membawa cerita duka tentang sisi lain wajah pendidikan kota. Sisi lain dari bait pahlawan tanpa tanda jasa yang diangkat menjadi kepala sebuah TK. Dengan wajah gemetar dan suara datar sang guru merenda kata kata tentang keserakahan sang kepala. Terasa putus harapan menatap kehampaan. Mulailah salah seorang diantaranya berujar : ” Ah kalimat pahlawan tanpa tanda jasa hanya tinggal nama “, ungkapnya.

Saya berusaha menyimak bait bait rangkaian kata yang direnda. Berharap bisa memahami maksud ungkapan yang disampaikan. Sang guru melanjutkan lantunan kegelisahannya. ” Kasihan pemerintah kota yang berharap meringankan beban masyarakat dengan mengucurkan bopda, tapi bantuan itu disalah artikan sebagai tunjangan kesejateraan sang kepala “, begitu ucapnya.

Saya semakin tergoda menggali makna yang ada, ” Bagaimana anda bisa mengatakan telah terjadi penyalah gunaan anggaran negara melalui bopda? ” Tanya saya. ” Begini caranya, kepala sekolah menyusun besaran penerimaan bantuan, lalu dibuatlah daftar pembelanjaan yang dibolehkan, harapannya siswa mendapatkan bantuan dan orang tua teringankan “. Sang guru menghela nafas sejenak menahan sesak, lalu meneruskan ceritanya, ” Apakah kemudian masyarakat terbantukan? “. ” Ternyata tidak! Karena rencana pembelanjaan yang dibuat sekarang ini, ternyata pemberiannya diberikan kepada siswa baru yang akan dijaring pada tahun depan bukan kepada siswa yang ada saat ini “, urainya.

Sehingga dapat dimaknai telah terjadi manipulasi penggunaan anggaran bantuan bopda kepada anak anak yang belajar di tingkat TK. Siswa saat ini mendapatkan alat belajar yang anggarannya direncanakan pada tahun sebelumnya, sedang anggaran pemberian tahun ini dipergunakan untuk pembelian alat belajar siswa tahun selanjutnya. Lalu apakah mereka mendapatkan secara gratis? Ternyata juga tidak. Para orang tua harus membelinya melalui selebaran yang terinci sebagai beban pembayaran untuk siswa baru.

Apakah itu hanya dilakukan oleh satu sekolah TK?

kegelisahan itu ternyata tak hanya terjadi pada satu sekolah TK, para guru yang lainnya mengucapkan koor yang sama, telah terjadi perkosaan terhadap bantuan pendidikan pemerintah yang bernama bopda. Lalu salah seorang guru menjelaskan modusnya, Para kepala sekolah melakukan penyusunan rencana anggaran pendapatan dan pembelanjaan secara bersama sama, Mereka berdiskusi bagaimana merancang harga dan pada tempat mana yang bisa diajak untuk berselingkuh memanipulasi data dan rencana.

Para penilik sekolah seolah tak berdaya menghadapi tingkah pola para kepala sekolah, mereka pasrah dan hanya berujar: ” Tugas saya membina, kalau anda tak mau dibina, maka terserahlah “. Apakah kemudian para kepala sekolah itu gundah? Enggaklah, mereka malah berpesta pora, seolah tak ada yang menyela. Kalau ada guru yang bertanya, pastilah sumpah serapah dan angkara murka yang diterima.

Akankah Budi Pekerti Bisa Didapat?

Saya masih percaya bahwa manusia itu adalah mahluk berpikir dan berakal. Maling tak akan mengajari anaknya untuk menjadi maling. Begitu juga dengan sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah yang serakah. Masih ada guru guru yang berjiwa merdeka. Meski jiwa mereka lelah, masih ada harapan persemaian tata krama dari mereka yang mengabdi pada kebaikan budi pekerti.

Para kepala sekolah itu telah memerkosa pendidikan, mereka setubuhi pendidikan dengan cara cara yang tidak dihalalkan. Mereka setubuhi pendidikan dengan gairah kebinatangan, serakah tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang dibolehkan.

Masih ada harapan ketika pendidikan dijaga oleh guru guru yang punya kekuatan jiwa yang merdeka.

Lalu akankah terus dibiarkan keserakahan dan perkosaan itu?

Pendidikan tak bisa dibiarkan dijamah oleh tangan tangan serakah, dikelola oleh mereka yang mekacurkan raga untuk sebuah pesona, seolah berjiwa suci dan dihormati tapi tak ubahnya sebagai penyamun yang bertampang suci.

Dinas pendidikan tak boleh letih mendampingi anak anak menyemai diri. Hadir mengawasi rencana dan membimbing para kepala sekolah dan guru yang digugu dan ditiru. Kepala Sekolah sebagai tauladan harus steril dari hal centil yang berusaha mengutil anggaran.

Wajibkan kepada mereka kepala sekolah untuk mempublikasikan anggaran negara yang diterima dan penggunaanya untuk apa saja, sehingga masyarakat akan bisa melihat dan mengawasinya. Bukankah anggaran publik itu harus dipublikasikan? Dan bukankah anggaran publik harus dijelaskan bukan milik kepala sekolah? Sehingga warga sekolah dan masyarakat berhak mengetahuinya.

Masyarakat sebagai mitra sudah seharusnya berupaya menjaga, tak boleh lagi membiarkan keserakahan itu merajalela . Sehingga kita akan bisa menjaga pendidikan tidak dijamah dan diperkosa oleh siapapun termasuk kepala sekolah.

Saya percaya bahwa masih ada harapan di sekolah kita, karena kita masih punya guru dan kepala sekolah yang amanah, meski juga banyak yang sudah tergoda dan berjiwa serakah.

Selamatkan Anggaran Pendidikan Pemsrintah Kota Yang Bernama Bopda !

” Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

” Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Kawan… Hidup hanya sebentar, mengapa harus kita bekali dengan harta yang tak halal, akankah keluarga dan anak anak, kita bawa kepada kehinaan dengan membawa harta jarahan apalagi itu harta merupakan hak anak anak yang menjalani pendidikan

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat berkarya, semoga Allah menghindarkannya kita dari rezeki yang ternoda, semoga Allah memberkahi kita semua… Aamiien.

Surabaya, 12 Maret 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Pengajar di STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.