Gabungan 3 Sifat Ini Bikin Kecanduan Medsos

MEPNews.id – Seiring semakin kencangnya perusahaan jejaring sosial menciptakan pengalaman positif bagi jutaan pengguna, penelitian baru dari Binghamton University dan State University of New York di Amerika Serikat mengeksplorasi bagaimana interaksi kepribadian mempengaruhi kemungkinan kecanduan jaringan sosial.

“Ada banyak penelitian tentang bagaimana interaksi ciri kepribadian tertentu mempengaruhi kecanduan alcohol, narkoba, dan sejenisnya,” kata asisten profesor sistem informasi di Binghamton University, Isaac Vaghefi, dikutip EurekAlert! edisi 12 Maret 2018. “Kami ingin menerapkan kerangka kerja serupa untuk meneliti kecanduan jejaring sosial.”

Vaghefi, dibantu Hamed Qahri-Saremi dari DePaul University, mengumpulkan data yang dilaporkan dari hampir 300 mahasiswa. Mereka menemukan, tiga ciri kepribadian pada khususnya, yakni neurotisme, conscientiousness (kesadaran) dan agreeableness (kesesuaian), sangat terkait dengan kecanduan jaringan medsos.

Ketiga ciri kepribadian ini bagian dari model kepribadian lima faktor, yakni kerangka mapan yang digunakan secara teoritis untuk memahami kepribadian manusia. Periset menemukan, dua ciri lain dalam model, yakni ekstraversi dan keterbukaan terhadap pengalaman, tidak banyak berperan dalam kemungkinan kecanduan jaringan sosial.

Selain menguji efek ciri kepribadian secara tunggal, peneliti menguji bagaimana sifat-sifat ini berinteraksi saat berhubungan dengan kecanduan jaringan sosial. “Ini topik yang rumit dan kompleks. Kita tidak bisa mengambil pendekatan yang sederhana,” kata Vaghefi.

Neurotisme dan conscientiousness

Secara individu, ciri kepribadian neurotisme dan conscientiousness memiliki efek negatif dan positif langsung pada kemungkinan kecanduan jaringan sosial. Neurotisme (yakni, sejauh mana orang mengalami emosi negatif antara lain stres dan kecemasan) tampaknya meningkatkan kemungkinan kecanduan terhadap situs jaringan sosial. Di sisi lain, conscientiousness lebih tinggi (yakni, memiliki kontrol impuls dan dorongan untuk mencapai tujuan tertentu) tampaknya mengurangi kemungkinan kecanduan jaringan sosial. Tapi, ketika diuji bersama, neurotisme tampaknya meringankan efek conscientiousness saat berhubungan dengan kecanduan jaringan sosial.

Karena seseorang secara bersamaan dapat sangat neurotik dan conscientious, para periset menemukan bahwa bahkan jika seseorang mampu melakukan disiplin diri dan secara teratur bertahan dalam mencapai tujuan, mereka mungkin juga menjadi orang yang penuh tekanan dan kecemasan, sehingga sering mengabaikan kontrol yang mungkin mereka miliki terhadap penggunaan jaringan sosial. Efek moderasi ini bisa menyebabkan orang yang teliti lebih cenderung kecanduan situs jejaring social tertentu.

Conscientiousness dan agreeableness

Peneliti menemukan, agreeableness (yakni, sejauh mana seseorang bisa ramah, berempati dan siap membantu), saja tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kecanduan jaringan social. Namun, ini berubah bila dikombinasikan dengan conscientiousness. Kombinasi tingkat rendah dari agreeableness dan conscientiousness (yakni, orang yang secara umum tidak terlalu simpatik dan tidak terlalu bertanggung jawab) sering dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi untuk kecanduan medsos. Namun, anehnya, begitu juga kombinasi tingkat tinggi dari agreeableness dan conscientiousness.

Vaghefi mengatakan, temuan tak terduga ini dapat dijelaskan dari perspektif ‘rational addiction’ (kecanduan rasional), yang berarti beberapa pengguna secara sengaja menggunakan lebih banyak jaringan sosial untuk memaksimalkan manfaat yang dirasakan. Misalnya, orang yang ramah dan gampang sependapat mungkin membuat keputusan sangat teliti untuk menggunakan lebih banyak jejaring sosial agar bisa berinteraksi dengan teman, karena menjadikan itu sebagai tujuan yang disengaja untuk mengembangkan hubungan melalui penggunaan jejaring media sosial. Kecanduan ini tidak akan menjadi hasil dari irasionalitas atau kurangnya kontrol rangsangan, seperti yang sering dikaitkan dengan kecanduan. Sebaliknya, orang ini mengalami kecanduan melalui proses yang rasional dan berarti.

Vaghefi berharap, berdasarkan penelitian ini maka orang akan melihat ‘gambaran keseluruhan’ ketika menyangkut bagaimana ciri-ciri kepribadian mempengaruhi kecanduan jejaring sosial. “Ini lebih merupakan pendekatan holistik untuk menemukan tipe orang yang cenderung mengalami kecanduan, daripada hanya berfokus pada satu ciri kepribadian. Ini memungkinkan Anda untuk melihat profil kepribadian yang keseluruhan dan inklusif.”

Kertas kerja Vaghefi berjudul “Personality Predictors of IT Addiction” ini dipresentasikan pada Konferensi Internasional Teknologi Sains Taiwan ke-51 pada Januari 2018.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.