Awas, Stres Bisa Menular!

MEPNews.id – Tidak hanya menular, stres bahkan mengubah otak pada tingkat sel!

Science Daily edisi 8 Maret 2018 mengabarkan studi baru di Nature Neuroscience yang ditulis Jaideep Bains, PhD, bersama timnya dari Institut Otak Hotchkiss, Fakultas Kedokteran Cumming (HBI), di University of Calgary di Kanada. Mereka menemukan, stres yang ditularkan dapat mengubah otak dengan cara seperti stres yang sebenarnya. Studi pada tikus tersebut juga menunjukkan, efek stres terhadap otak adalah terbalik pada tikus betina setelah terjadi interaksi sosial. Tapi ini tidak berlaku untuk tikus jantan.

Profesor Jaideep Bains bersama mitra peneliti Toni-Lee Sterley.

Profesor Jaideep Bains bersama mitra peneliti Toni-Lee Sterley.

“Perubahan dalam otak yang terkait stres menopang banyak penyakit jiwa, antara lain PTSD, gangguan kecemasan, dan depresi,” kata Bains, profesor di Departemen Fisiologi dan Farmakologi yang juga anggota HBI. “Beberapa studi terbaru menunjukkan, stres dan emosi bisa ‘menular’. Tapi, masih belum diketahui apakah ini memiliki konsekuensi jangka panjang pada otak.”

Maka, tim peneliti mempelajari efek stres pada pasangan tikus jantan atau pasangan tikus betina. Mereka melepaskan satu tikus dari masing-masing pasangan, lalu memaparkannya pada stres ringan, dan kemudian mengembalikannya ke pasangannya. Para peneliti kemudian memeriksa respons populasi sel tertentu, khususnya neuron CRH yang mengendalikan respons otak terhadap stres, pada setiap tikus. Hasilnya, jaringan di otak pasangan yang stres dan pasangan yang naif berubah dengan cara yang sama.

Penulis utama studi ini, Toni-Lee Sterley, mitra postdoctoral di laboratorium Bains, mengatakan, “Yang luar biasa adalah neuron CRH dari pasangan, yang tidak terpapar stres aktual, juga menunjukkan perubahan yang sama dengan tikus yang stres.”

Selanjutnya, tim menggunakan pendekatan optogenetik untuk merekayasa neuron ini sehingga bisa diaktifkan atau ditenangkan dengan menggunakan cahaya. Ketika tim menenangkan neuron ini selama stres, neuron-neuron ini mencegah perubahan pada otak yang biasanya terjadi setelah stres. Ketika peneliti menenangkan neuron pada pasangan selama interaksi dengan individu yang stres, ternyata stres tidak menular ke pasangan. Yang menarik, ketika peneliti mengaktifkan neuron ini dengan menggunakan cahaya pada satu tikus, bahkan meski tidak ada stress nyata, otak tikus yang menerima cahaya dan pasangannya berubah seperti keadaan setelah mengalami stress yang nyata.

Tim peneliti menemukan, aktivasi neuron CRH ini menyebabkan pelepasan sinyal kimiawi, ‘feromon alarm’, dari tikus yang memberi tanda pada pasangannya. Pasangannya, yang mendeteksi sinyal ini, pada gilirannya menampaikan tanda pada anggota tambahan grup tersebut. Perpindahan sinyal stres ini menunjukkan mekanisme kunci untuk transmisi informasi yang mungkin penting dalam pembentukan jejaring sosial di berbagai spesies.

Keuntungan lain dari jejaring sosial adalah kemampuan mereka untuk menyangga efek dari saat-saat buruk. Tim Bains menemukan bukti adanya penyangga stres, tapi ini selektif. Mereka mengamati, pada tikus betina, efek residu dari stres pada neuron CRH terpangkas hampir setengah kali dengan pasangan tanpa tekanan. Hal yang sama tidak berlaku untuk tikus jantan.

Bains mengungkapkan, temuan tentang menularnya stres hingga tingkat sel otak ini mungkin berlaku pada manusia. “Kita dengan mudah mengkomunikasikan stres kepada orang lain, terkadang tanpa kita menyadarinya. Bahkan, ada bukti bahwa beberapa gejala stres dapat terjadi pada keluarga dan orang-orang tercinta akibat ada orang yang mengalami PTSD. Di sisi lain, kemampuan untuk turut merasakan keadaan emosional orang lain adalah bagian penting dalam menciptakan dan membangun ikatan sosial.”

Penelitian dari lab Bains ini menunjukkan, interaksi stres dan interaksi sosial saling terkait secara rumit. Konsekuensi dari interaksi ini dapat berlangsung lama dan dapat mempengaruhi perilaku di lain waktu.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.