Mendobrak Kasta Pendidikan Kita

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Siang tadi sebelum Sholat Jum’ah, saya bertemu seorang kawan yang anaknya minta diikutkan les. Dia bercerita : ” Yah…. Aku ikutkan les ya? Soalnya teman temanku yang ikut les itu nilainya bagus bagus “, Begitu kata anaknya. Lalu dia melanjutkan ceritanya bahwa untuk ikut les itu maka dia harus menyediakan uang sekitar 5 juta. ” Kalau sekolah nggak cukup, buat apa ya sekolah? Mending anaknya diikutkan langsung ke LBB “, Gerutunya. ” Padahal saya inginnya menyekolahkan anak di sekolah agar dia pinter dan tingkah lakunya baik, Kalau untuk pinter saja nggak mampu dan harus les, apalagi akan menjadikan anak berperilaku baik”, cetusnya.

Saya hanya diam dan mendengarkan ceritanya sambil sesekali menimpali memang sekolah saja nggak cukup kalau ingin pinter, karena tugas guru disekolah saat ini tidak hanya mengajar, tapi guru juga harus menyelesaikan pekerjaan pekerjaannya diluar mengajar. Sehingga agak sulit kalau berharap pintar dari sekolah. Jadi jangankan berharap pintar, berharap baik saja kepada sekolah itu nggak boleh. Untuk pintar butuh biaya tambahan, karena harus menambah jam belajar di LBB, untuk baik juga begitu, agak susah didapatkan, karena guru agak susah jadi tauladan, guru lebih sibuk dengan urusan administrasinya sendiri.

Sampai pada ucapan ini, saya mulai merenung, kalau sekolah sudah seperti ini, apa yang bisa kita harapkan? Sekolah ini sebenarnya untuk siapa? Akhirnya saya mencoba membuat peta tentang sekolah.

Tipologi Sekolah

Sekolah kita itu terdiri dari sekolah negeri dan swasta, baik itu sekolah yang umum maupun yang berdasar kelompok agama tertentu. Dalam kelompok sekolah negeripun akan terbagi menjadi dua, yaitu sekolah negeri yang banyak peminatnya dan dianggap favorit dan satunya sekolah negeri yang biasa biasa saja. Begitu juga di kelompok sekolah swasta, ada swasta yang berbayar mahal dan ada yang biasa biasa saja, tidak berbayar mahal.

Tipologi latar belakang ekonomi sosialnya berbeda dimasing masing strata sekolah tersebut, di Sekolah negeri favorit, biasanya yang bersekolah disana kebanyakan mereka yang nilainya memenuhi standar tinggi dan latar belakang sosial ekonominya berasal dari kalangan pejabat dan orang orang yang tergolong kaya. Mereka bisa ” pintar ” disatandar nilainya, karena memang mereka kebanyakan anak anak yang asupannya bergizi dan mempunyai kesempatan mengikuti pelajaran tambahan yang luar biasa mahalnya, Jadi kalau anda dari keluarga pas pasan, apalagi miskin, jangan berharap putra putri anda bisa bersekolah di sekolah negeri berkategori favorit.

Setingkat lebih bawah dari sekolah negeri favorit adalah sekolah swasta yang mapan. Sekolah ini tentu saja biayanya cukup mahal, karena memang fasilitas yang disediakan cukup baik. Disekolah ini model pembelajarannyapun, harus memenuhi standar yang diinginkan oleh keluarga keluarga yang berlatar belakang sosial ekonomi mapan juga. Bedanya murid yang sekolah ditempat ini adalah murid yang mungkin kemampuan akademisnya tidak memenuhi syarat untuk sekolah negeri favorit tersebut, tapi mereka berasal dari keluarga yang mapan secara ekonomi. Jadi kalau anda miskin jangan pernah bermimpi anda bisa menyekolahkan putra putrinya disekolah swasta seperti ini.

Setingkat lebih bawah atau kalau boleh dibilang agak sama dengan sekolah swasta favorit adalah sekolah negeri kebanyakan, sekolah seperti punya standard ukuran yang biasa biasa saja, nilai yang diinginkan juga tidak tinggi tinggi amat, secara sosial ekonomipun juga beragam, biasanya dari kelas menengah ke bawah. Nah kalau anda miskin, anda masih punya harapan menyekolahkan putra putri anda kesekolah seperti ini.

Pada strata bawahnya sekolah negeri yang biasa ini ada sekolah swasta biasa biasa saja, sekolah ini biasanya muridnya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Yang sekolah ditempat ini biasanya mereka dari kalangan menengah kebawah dan dari sisi akademis saya kira juga jauh dibawah rata rata sekolah negeri biasa. Nah ditempat inilah biasanya keluarga pas pasan berkumpul menyekolahkan putra putrinya.

Pada strata paling bawah ada sekolah swasta yang hidup segan matipun tak mau, sekolah seperti ini biasanya mendapatkan muridnya dari proses terakhir setelah mereka yang berasal dari keluarga miskin, nilainya tidak memenuhi standar dan sudah tidak diterima dimana mana. Sekolah ini biasanya tempat berkumpulnya anak dari keluarga miskin.

Memaknai Tipologi Sekolah

Apa yang bisa kita serap dari tipologi sekolah diatas ? Tipologi sekolah itu secara tidak langsung juga menyeleksi proses berkumpulnya masyarakat menjadi satu kelompok tertentu berdasarkan latar belakang ekonominya. Sehingga kita bisa bayangkan pada sekolah tipe pertama dan kedua akan banyak berkumpul mereka yang berasal dari keluarga mapan dan anak anaknya juga cukup baik latar belakang akademisnya. Strata kelompok ini akan membangun pola pergaulan sendiri, sehingga kalau bergaul, berinteraksi atau bahkan kalau berjodoh ya dari strata ini. Dari sekolah seperti ini akan melahirkan masyarakat dengan kelompok sendiri. Kelompok ini mentasbihkan dirinya seperti kelompok brahma dalam tingkatan kasta kasta.

Pada tipe ketiga akan terlihat kelompok anak anak dari keluarga yang biasa biasa tapi secara akdemis masih cukup baik, mereka akan bergaul, berinteraksi atau bahkan kalau berjodoh juga berasal dari kelompok strata yang sama, pada kelompok ini juga bisa sebagian dari kelomopok tipe sekolah yang nomor empat. Kelompok ini ibaratnya adalah kelompok sudra.

Tipologi ke lima dan sebagian berasal dari kelompok nomor empat, akan berkumpul anak anak dari keluarga pas pasan bahkan cenderung miskin. Kelompok ini cenderung dianggap sebagai beban, sehingga pada kelomopok ini, anak anak sering dianggap sebelah mata. Kelompok ini adalah kelompok yang lemah daya belinya, sehingga mereka kebanyakan kemampuan daya belinya rendah. Karena daya belinya rendah, maka fasilitas yang didapatkanpun dalam belajar, juga seadanya. Anak anak dari kelompok ini cenderung terpinggirkan.bisa dibayangkan kalau mereka berkumpul, bergaul dan berjodohpun akan berasal dari kalangan ini.

Pesan Yang Terkandung

Dari memaknai tipologi sekola diatas, kita sejatinya mendapatkan gambaran bahwa, pendidikan kita ternyata berkontribusi terhadap hadirnya struktur masyarakat yang saling berjarak. Sistim pendidikan kita telah membangun kasta kasta. Lalu mungkinkah dari pendidikan yang seperti ini melahirkan masyarakat yang adil dan peduli?

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Dalam situasi sistim pendidikan seperti ini, sejatinya intervensi pemerintah sangat diharapkan. Pemerintah harus hadir sebagai pendobrak sistim pendidikan yang berkasta. Pemerintah bisa melakukan denga cara membuat aturan standar biaya dan mengintervensinya. Tawaran pendidikkan murah dan terjangkau serta pendidikan gratis adalah sebuah upaya, tapi juga harus diawasi mutu sekolahnya. Jangan sampai masyarakat menjadi korban oknum sekolah yang seenaknya sendiri. Sehingga menurut saya, pemerintah bisa memulainya dengan intervensi biaya dan membuat standarnya, serta menjamin kualitas pendidikannya.

Selain itu pemerintah juga harus memberi ruang bagi hadirnya sekolah sekolah swasta dengan pendidikan yang bermutu dan terjangkau masyarakat. Pemerintah harus membantu menguatkan dan mempertahankan, jangan dipersulit kehadirannya, sehingga sekolah sekolah seperti ini akan menjadi oase sekolah bermutu bagi kelompok kelompok yang selama ini rentan.

Akhirnya saya banyak mengapresiasi dan hormat kepada sahabat sahabat saya yang sudah berjibaku mewujudkan sekolah yang memanusiakan, karena dari sekolah seperti inilah akan melahirkan generasi yang peduli dan bertanggung jawab. Hormat saya untuk Pak Kentar Budhojo, Pak Totok Isnanto, Pak Nafik Naff, Mas Lukman Hakim, Bunda Agus Binti Psikolog, Bunda Ken, Kakak Rubi, Mep Yusron, Khosyi’in Koco Woro Brenggolo, dan lai lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu persatu, Kalian adalah ” Ibarat Tongkat Musa ” memecah lautan untuk meninggikan derajat orang orang yang dipinggirkan.

Semoga panjenengan semua hadir sebagai kelompok yang disinyalir Allah dalam Qur’an Surat Ali Imraan : 110

” Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah.”

Assalamualaikum wr wb, selamat pagi, selamat berakhir pekan dan bersama keluarga, semoga keluarga kita semua diholongkan menjadi manusia terbaik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar,…aamiien.

Surabaya, 10 Maret 2018

IMG-20180117-WA0004

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar pada STT Malang dan Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.