Berita Palsu Harus Ditangkal di Seluruh Dunia

MEPNews.id – Berita palsu menyebar cepat dan kuat sehingga bisa mempengaruhi opini publik. Sekarang, tinggal pihak mana yang membuat dan mengedarkan dan pihak mana yang jadi sasaran tembak. Bisa jadi pihak yang kontra, tapi juga pihak yang pro.

Di Amerika Serikat, ada surat dakwaan terhadap 13 orang Rusia dalam operasi ‘troll farm’ yang menyebarkan informasi palsu terkait pemilihan presiden 2016.  Tak pelak, sekelompok ilmuwan dan peneliti terkemuka membuat ‘ajakan bertindak’ secara global melawan penyebaran berita bohong.

ScienceDaily edisi 8 Maret 2018 mengabarkan, Profesor Filippo Menczer dari Fakultas Teknik, Informatika, dan Komputing mendukung makalah yang diterbitkan 8 Maret di jurnal Science. Kertas kerja itu menyerukan penyelidikan terkoordinasi terhadap kekuatan sosial, psikologis dan teknologi yang berada di balik pembuatan dan penyebaran berita palsu. Hal ini diperlukan untuk menangkal pengaruh negatif fenomena tersebut terhadap masyarakat.

“Yang kami paling ingin sampaikan adalah berita palsu itu masalah nyata, masalah sulit, dan masalah yang memerlukan penelitian serius untuk dipecahkan,” kata Menczer, yang juga anggota Pusat Penelitian Jaringan dan Sistem Kompleks di Indiana University dan pendiri Observatorium Social Media, platform yang menyediakan alat untuk mengidentifikasi akun media sosial secara otomatis dan menganalisis penyebaran informasi keliru di jejaring sosial.

Makalah ini mengungkap jumlah ‘bot’ otomatis mencapai 60 juta di Facebook dan 48 juta di Twitter; yang di Twitter ini didasarkan pada penelitian baru-baru ini oleh Menczer dan rekan. Makalah juga mengutip analisis yang menemukan rata-rata orang Amerika menghadapi satu sampai tiga berita palsu pada bulan-bulan menjelang pemilu 2016.

“Penyebar berita palsu menggunakan metode semakin canggih,” kata Menczer. “Jika tidak memiliki informasi kuantitatif yang cukup mengenai masalah ini, kita tidak akan pernah dapat merancang intervensi yang sesuai. Makalah di Science ini memanggil berbagai kelompok di seluruh dunia; akademisi, jurnalis dan industri swasta, untuk bekerja sama mengatasi masalah ini.”

Tentu saja panggilan ini juga ditujukan pada perusahaan-perusahaan teknologi yang membuat platform untuk memproduksi dan mengkonsumsi informasi, antara lain; Google, Facebook dan Twitter. Perusahaan-perusahaan ini memiliki tanggung jawab etis dan sosial yang melampaui kekuatan pasar untuk berkontribusi dalam penelitian ilmiah tentang berita palsu.

Selain itu, penulis makalah juga menekankan informasi bohong tidak hanya mempengaruhi bidang politik tetapi juga area yang sebelumnya tidak dianggap sebagai politik. Contohnya, topik kesehatan masyarakat, nutrisi, vaksinasi, hingga pasar saham. Beberapa penelitian telah menemukan, pengulang-ulangan kebohongan itu bisa benar-benar membuat orang awam mencatat informasi palsu ke dalam pikirannya dan dianggap sebagai informasi benar.

Salah satu solusi yang Menczer ajukan adalah penelitian ketat terhadap efektivitas wacana di sekolah menengah yang membantu siswa mengenali sumber-sumber berita yang tidak sah. Mereka juga mengusulkan perubahan spesifik algoritme canggih yang semakin mengontrol akses orang ke informasi secara online.

“Tantangannya adalah ada begitu banyak kerentanan yang belum kita pahami, dan ada begitu banyak serpihan berbeda untuk bisa dipecahkan atau dimanipulasi, saat berhubungan dengan berita palsu,” kata Menczer. “Ini masalah rumit sehingga harus diserang dari segala penjuru.”

Menczer adalah penyeru perang melawan berita palsu. Penelitiannya sering dikutip di media dan konferensi akademis. Penulis makalah di Science juga peneliti dari organisasi berprofil tinggi. Soroush Vosoughi, Deb Roy, dan Sinan Aral dari Media Lab di Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.