Tumbuh dalam Keluarga Broken Home Tak Berarti Gagal Mendidik Anak dan Istri

Oleh Astatik Bestari

Mepnews.id – Siapapun pasti menginginkan bahagia dengan keberadaan orang tua yang lengkap, ada ayah dan ibu kandung yang mendampingi kita sampai kita dewasa bahkan seumur hidup kita. Ketiadaan salah satu dari mereka rasanya ada hal penting yang hilang, bahkan adakalanya menjadi alasan untuk tidak semangat menjalani hidup. Oleh sebagian orang, kondisi ini mengundang keprihatinan, akhirnya ada hal-hal yang terkadang disikapi tak positif. Lebih tidak nyaman lagi jika orang tua kandung tersebut bercerai, salah satu orang tua meninggal dan menikah lagi atau mungkin kehidupan poligami yang sulit diterima anak dan istri. Anak-anak yang hidup dalam keluarga seperti ini, ada saja yang melanggar aturan- aturan sosial sebagai ungkapan batin yang memberontak, atau karena kurangnya pembinaan dari orang tua, ketiadaan orang tua membuatnya kurang memahami aturan-aturan sosial.

Sebagai pendidik, beberapa kali saya menjumpai anak-anak yang bertingkah tidak santun, melanggar aturan sekolah ( bolos, pakaian seragam tidak rapi, terlibat tawuran) adalah anak-anak yang jauh dari kedua orang tuanya, ia berada dalam keluarga broken home: ibu meninggal, ayah menikah lagi dan ayah mendampingi ibu barunya, mengesampingkan dirinya; ayah berpoligami; orang tua bercerai dan lain sebagainya. Anda bisa membaca sumber informasi apa saja, berada pada kesimpulan bahwa keluarga broken home sering mendapat pelabelan mengalami kegagalan dalam mendidik anak, meskipun pada kenyataannya kesimpulan tersebut tak dapat digeneralisasi.

IMG-20180307-WA0030 IMG-20180307-WA0032

Saya punya cerita, sebulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 2 -4 Pebruari 2018 saya berjumpa dengan seorang ibu yang hebat dalan mendidik anak-anaknya padahal dirinya dulu tumbuh dalam keluarga broken home. Orang tua bercerai saat ia masih kecil, dan hidup bersama ayah dan ibu barunya. Tiga hari bersamanya sekamar di Vila daerah Bogor Jawa Barat dalam kegiatan Jambore Santri Talents Mapping ini menambah referensi saya tentang mendidik anak terutama cara mengenalkan aktivitas ekonomi kepada anak. Bu Citra, saya memangilnya memiliki nama lengkap Citra Laksmi yang saya ceritakan ini, adalah dosen Perbanas Surabaya. Suaminya pengusaha mebelair dengan produk-produk yang sudah masuk di sektor pariwisata seperti perhotelan.

Dalam jeda istirahat kegiatan kami selama tiga hari itu, Bu Citra menceritakan pengalamannya memodali kedua anaknya untuk berkegiatan ekonomi.Masing-masing diberi modal Rp 1.000.000 untuk dikembangkan dan menghasilkan keuntungan. Jika dalam waktu sebulan, anaknya mampu menghasilkan keuntungan, maka uang satu juta tersebut boleh mereka ambil. Namun, bila mereka mengalami kegagalan usaha, maka wajib mengembalikan uang satu juta tersebut dengan cara uang jajannya dipotong untuk mengangsur sampai lunas satu juta.

IMG-20180307-WA0031

Cerita lainnya pula, Bu Citra menerapkan pembagian kerja kepada seisi rumah ( Bu Citra, suami dan ketiga anaknya) ketika mereka melakukan perjalanan ke luar kota dan ke luar negeri. Salah satu anak diberi dana secukupnya untuk mengurusi penginapan dan konsumsi, yang lainnya diberi dana untuk mengurus kebutuhan transportasi ( bensin, parkir). Sementara anak bungsunya tidak diberi tugas karena masih kecil ( kedua kakaknya sudah kuliah).Pernah suatu kali, dana untuk makan menipis, anak yang kebagian tugas konsumsi, memutuskan untuk makan dan minum sederhana, intinya semua anggota keluarga harus menekan keinginan untuk makan sesuai selera, padahal mereka mampu untuk membelinya. Pada lain kesempatan juga , budget untuk menginap tidak cukup, maka mereka harus mengikuti keputusan anak yang kebagian mengurus penginapan
“Kita nanti tidur di mobil , uangnya tidak cukup… ” Cerita Bu Citra menirukan anaknya mengutarakan keputusannya ini. Maka merekapun tidur di mobil, padahal saya yakin menginap di hotel berbintangpun mereka mampu.

Berikutnya yang bisa dijadikan bahan renungan dalam menapaki hidup yang tak sempurna di pandang dari idealitas keluarga bahagia adalah perjalanan hidup keponakan saya sendiri. Persamaannya dengan Bu Citra adalah tumbuh dalam keluarga broken home dan tertarik pada kosentrasi studi ekonomi. Namanya Faiz Afandi, sarjana ekonomi Universitas Jember. Ibunya, kakak saya meninggal pada saat ia masih kelas 6 SD. Sebelum meninggal ibunya ini menjalani istri dalam pernikahan poligami. Sepeninggal ibunya , saya lebih intens memperhatian dia walaupun mungkin ia tak menyadarinya. Kekhawatiran akan kegagalan hidup karena tak didampingi ibu kandungnya terbersit dalam pikiran saya. Kekhawatiran itupun selalu terjawab sejalan dengan perkembangan hidupnya dan perjalanan pendidikannya hingga ia berhasil mencapai gelar sarjana ekonomi dan bekerja di perusahaan Astra. Pernah ia butuh uang untuk biaya kuliah, dan ia tidak meminta uang kepada saya, ia mengambil inisiatif meminjam kepada saya, dan akan dikembalikan jika bea siswanya terrealisasi. Seperti mahasiswa lainnya, ia juga aktif di kegiatan kemahasiswaan.

Sejalan dengan usianya yang sudah dewasa, saya mulai memikirkan jodohnya. Waktu itu tahun 2013, saya terkesan dengan kinerja pengurus PKBM BESTARI ( nama lembaga nonformal yang saya kelola) yang juga bekerja di CV yang bergerak di bidang instalasi listrik . Selain kerjanya bagus, ahlaqnya baik, paras wajahnya pun good looking ia seorang gadis yang pemberani ( karena ia pernah berhadapan dengan perampok saat mendampingi bosnya mengambil uang di bank hingga terjadi peristiwa berdarah, dan ia berhasil menyelamatkan uang perusahaan). Kesan baik saya kepada Dwi ini, nama panggil gadis tersebut saya utarakan kepada suami saya.Akhirnya saya kenalkan Dwi ini kepada Faiz, nama panggilan keponakan saya. Dalam masa perkenalannya ini, Faiz mulai menunjukkan caranya mendidik keluarga . Meskipun ia memiliki kendaraan honda Byson, saat berkunjung ke rumah Dwi, ia mengendarai honda GL Max.
“Ning, jangan cerita ke Dwi kalau saya punya motor ini”. Suatu kali ia melarang saya untuk tidak menceritakan motor barunya itu. Di saat banyak jejaka yang senang membawa motor keluaran baru, membawa mobil orang tuanya untuk berkunjung ke keluarga calon istri, ia justru kebalikannya.

Sampai kinipun, Faiz yang akhirnya beristri dengan Dwi mendidik istrinya begitu. Sederhana dalam berkendaraan dan berbelanja. Meskipun ia diberi kuasa untuk membawa Taft untuk bepergian oleh bapaknya, Faiz tidak menggunakannya dan Dwipun memahami keputusan Faiz jika sekiranya bermotor masih bisa mengatasi kebutuhannya. Dwi juga begitu, tetap santai dan tanpa beban mengendarai Astrea Grand saat mengajar dan aktivitas mobilisasi lainnya di jaman yang banyak orang sulit meletakkan gengsinya untuk tampil terpandang walau dengan pembayaran barang mewah secara leasing.

Saat saya sarankan agar ia bersedia bayar biaya sekolah adik iparnya, ia bercerita kalau sudah menaggung jaminan asuransi kesehatan mandiri ( BPJS) keluarga istrinya. Spontan saya terkejut campur bangga, lebih yang saya perkirakan. Faiz yang kini tulang punggung keluarga, ayahnya sudah tidak dapat bekerja lagi, dan kakaknya yang selalu dalam perwatan medis semenjak menderita sakit karena gegar otak yang bertumpu pada perhatian dirinya, masih mampu membantu memenuhi jaminan kesehatan keluarga mertuanya. Faiz juga menawarkan memberi modal mertuanya untuk mengembangkan usahanya agar lebih merdeka dalam berkegiatan ekonomi.
O ya, Dwi istrinya Faiz ini semasa kecilnya juga bukan anak yang menemui kebahagiaan seperti anak kecil lainnya; ketika ia masih dalam kandungan ibunya, bapaknya merantau dan tidak pulang, sekalipun itu sangat dibutuhkan untuk menjadi wali nikah anaknya. Namun demikian saya tidak mendengar ungkapan kebencian dari Dwi kepada bapaknya ini, saya yakin karena ibu dan keluarganya tidak mengajarinya begitu, sebaliknya tetap menghormatinya karena bagaimanapun juga ia tetap orang tuanya.

Tumbuh dalam keluarga broken home memang tak nyaman, tapi kehidupan tak pernah kompromi dengan hal itu. Keluarga broken home atau keluarga bahagia semua berhak sukses dan menyukseskan orang lain. @@@

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.