Tikus Buta Bisa Melihat Berkat Emas Titanium

MEPNews.idMengembalikan penglihatan kepada orang-orang yang buta telah menjadi tujuan ilmuwan selama beberapa dekade. Tapi memperbaiki atau mengganti mesin internal rumit di mata manusia sejauh ini sangat sulit. Beberapa perangkat eksperimental memang berhasil memberikan penglihatan beresolusi rendah pada orang buta. Namun, sebagian besar memerlukan daya listrik besar eksternal.

fotoreseptorUntungnya, seperti dikabarkan Nathaniel Scharping lewat DiscoverMagazine edisi 6 Maret 2018, periset dari Universitas Fudan dan Universitas Sains dan Teknologi di Cina telah menemukan solusi lebih elegan untuk memulihkan beberapa bentuk kebutaan. Lewat tikus eksperimen, mereka mengganti fotoreseptor alami (batang dan kerucut di mata yang menghasilkan sinyal listrik saat terkena foton cahaya) dengan fotoreseptor buatan dari emas dan titanium oksida.

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications, para peneliti mengungkapkan fotoreseptor buatan ini berbentuk kawat nano bertatahkan serpihan emas kecil yang susunannya bisa disetel untuk merespons cahaya dalam jangkauan. Kabel itu lewat operasi pembedahan dipasang di ruang yang sama dengan yang ditempati pendeteksi fotoreseptor alami. Fotoreseptor itu selalu berada dalam kontak fisik dengan sel retina untuk menyalurkan impuls listrik ke korteks visual di otak.

Tikus eksperimen telah direkayasa secara genetis untuk mengalami degradasi progresif terhadap fotoreseptor mereka. Kondisi ini mirip yang terjadi pada manusia saat mengalami retinitis pigmentosa dan degenerasi makula. Keduanya mengganggu kemampuan mata untuk menyampaikan informasi sensorik ke otak, dan dapat menyebabkan kerusakan penglihatan permanen jika tidak ditangani dengan benar. Meski kena masalah itu, bagian lain dari mata dan sistem pengolah visual tetap utuh sehingga sinyal visual masih bisa diproses jika sampai di otak.

Fotoreseptor buatan ini cukup responsif terhadap cahaya dalam spektrum hijau, biru dan dekat ultraviolet, meskipun kabelnya tidak dapat memberi visi warna pada tikus. Penyempurnaan metode di masa depan mungkin bisa mereproduksi warna.

Para periset menguji sistem mereka apakah korteks visual tikus eksperimen bisa merespons saat cahaya menerpa mata. Mereka melaporkan, sel retina dan sistem pengolah visual mereka tampak normal. Pupil mulai bisa melebar lagi sebagai indikasi lain bahwa mata kembali sensitif terhadap cahaya. Peneliti juga berhasil menyambung kembali hubungan yang pernah hilang antara mata dan otak.

Dibandingkan dengan tikus normal, tikus eksperimen yang sebelumnya buta itu merespons cahaya dengan intensitas yang sebanding. Fotoreseptor buatan pada mata tikus eksperimen cukup sensitif terhadap titik cahaya kurang dari 100 mikrometer, atau kira-kira seukuran rambut manusia.

Namun, masih sulit untuk menentukan dengan tepat apa yang tikus-tikus itu lihat. Meski jelas sinyal cahaya bisa masuk ke korteks visual, gambaran persis apa yang ada otak tikus itu masih misteri. Peneliti, tentu saja, tidak bisa menanyai mereka. Gambarnya mungkin agak terbatas karena kawat nano itu hanya merespons beberapa panjang gelombang cahaya.

Hasil lainnya, setelah delapan minggu mata tikus yang telah ditanami kawat nano itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan atau luka. Meski demikian, desain kawat nano itu masih eksperimental. Untuk saat ini, para periset hanya berharap bisa menghasilkan perangkat yang lebih baik sehingga suatu saat nanti memungkinkan untuk pemulihan penglihatan manusia.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.