Kangen Purnama

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —-Kehadiran bulan purnama yang senantiasa muncul di setiap tanggal 15 penanggalan Jawa seakan selalu nampak begitu sempurna. Sekian tahun yang lalu Pak Guru Agama menjelaskan kepada para murid-murid SMA-nya bahwa kangennya manusia kepada kesempurnaan merupakan wujud atau tanda yang samar kepada kangennya manusia kepada kampung halaman sejatinya sendiri karena sebelum hadir lahir di kehidupan dunia ini ia singgah di kampung kesempurnaan yang sejati itu.

Keinginan manusia untuk sempurna pada hakekatnya merupakan keinginan mereka untuk kembali mencari kampung halaman yang sempurna sebelum ia lahir dulu dan hendaknya setelah kematiannya kelak pun, manusia pulang kembali ke kampung halamannya yang sejati dulu itu.

“Ketika manusia ingin kaya,” kata Pak Guru Agama, “sesungguhnya dia sedang menerka-nerka: jangan-jangan kekayaan ini kampung halaman saya dulu. Sehingga manusia pun berebut mengejarnya. Terhadap gemerlap kemewahan pun juga begitu, sesungguhnya manusia tengah mengira-ngira: kemewahan ini kok seperti kampung halaman saya dulu, benarkah ini kampung halaman saya yang dulu, yang sekarang ini harus saya tuju?”

“Bahkan naluri menang sendiri,” lanjut Pak Guru Agama, “merupakan sangkaan: bukankah saya dulu selalu sempurna, jadi kenapa sekarang saya harus kalah?”

Karena saat itu lagi ngetop-ngetopnya lagu dangdut Alamat Palsu, Pak Guru Agama melanjutkan lagi bahwa menurut Al-Quran semua gemerlap kekayaan kemegahaan hidup di dunia ini merupakan mata’ul gurur alias alamat palsu belaka. Semuanya semu dan fatamorgana. Lahwun wa la’ibun. Hanya permainan dan senda gurau. Kullu man alaiha fan. Hanya kehidupan yang fana.

“Alamat sejati kita bukan di dunia ini. Tapi di akhirat setelah kita mati. Menuju perjumpaan dengan Allah-lah disitu kampung halaman sejati kita,” urai Pak Guru Agama.

Anak-anak SMA tentunya sudah faham kalau yang dimaksud kampung sejati itu ialah surga, karena toh Nabi Adam dulu pernah singgah disana, kemudian diusir dan mengembaralah di bumi. Sehingga urain Pak Guru Agama tersebut dianggapnya kurang menarik dan didengarkan sajalah sambil lalu, toh soal surga neraka mereka sudah sangat merasa hafal dan paham.

Pak Guru Agama juga rupanya tidak terlalu berambisi apa-apa kecuali mereka yang penting pernah dengar terlebih dahulu. Mengenai faham hingga menemukan pemahaman yang sejati biarlah mereka berproses sendiri-sendiri.

Kenangan singkatnya itu kini telah ditulis kembali oleh Pak Guru Agama dengan judul Kangen Purnama, dengan maksud menggambarkan bahwa kangennya manusia kepada purnama kesempurnaan kehidupan ini, merupakan wujud kangennya manusia kepada kehidupan yang sejati, yang pernah ia uraikan sekian tahun yang lalu. (Banyuwangi, 7 Maret 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.