Maunya Sih Menjadi Orang yang Mempunyai Pegawai

Oleh: Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —-Alumni putra pesantren kita, pon pes Darul Istiqomah Bondowoso ini, termasuk santri tahun kedua berdirinya pesatren kita, saya masih ingat beberapa temannya waktu itu, ada Ahmad adik ustadz M Nasir Surabaya, ada Yusuf masih saudaranya dari Lumajang yg saat ini mengasuh panti asuhan wakaf dari orang tuanya, ada Rudi Chandra yg orang tuanya masih sepupu saya yg strata satunya di Al Azhar Kairo dan strata duanya di hubungan internasional gajah mada dan lain lain.

Saya masih ingat waktu itu, pesantren kita masih sangat sederhana, asrama dan kelas bahkan rumah saya masih terbuat dari bambu, gedek kata orang jawa atau tabing kata orang Madura. Saya masih ingat sekali ketika keluarganya mengantarnya dan kakeknya yg masih kakak kandung bapaknya ustadzah Nurul Khotimah bertanya kepada saya di emperan rumah saya yg masih gedek itu, ini anak anak santri nanti mau dijadikan apa ? Apa bisa menjadi pegawai atau bagaimana ?. Mendapat pertanyaan seperti itu saya jadi glagapan, saya bingung juga menjawabnya, akhirnya saya menjawab bahwa saya maunya nanti anak anak akan menciptakan pekerjaan sendiri sehingga tidak perlu menjadi pegawai. Rupanya kakeknya orang yg mempunyai pandangan hebat, beliau menimpali jawaban saya itu dengan mengatakan, oh bukan menjadi pegawai tetapi menjadi orang yg mempunyai pegawai. Dengan agak tersipu malu saya mengatakan, maunya sih begitu, maunya menjadi orang yg mempunyai pegawai bukan hanya pegawai.

Maka sang kakek semakin mantab cucunya mondok di pesantren kita, meskipun dengan fasilitas yang jauh dikatakan layak, bahkan saat itu boleh dikata semuanya harus berjibaku, hampir setiap hari anak anak saya ajak kerja bakti, baik menyirami tanaman melon, atau meratakan dan merapikan tanah yg kurang beraturan, maklum pesantren kita berada di dataran tinggi yg kontur tanahnya tidak rata, naik turun, menanam pepohonan untuk penghijauan dan keindahan pondok, atau lain lain, namun tentu setiap sore saya ajak mereka bermain sepak bola di lapangan mini pondok berbaur dengan masyarakat kampung, sebagai hiburan penghilang kejenuhan.

Selama di pondok kemampuan akademiknya cukup baik, atau boleh dikata baik sekali, hanya ketika klas lima dan klas enam saya kurang mengerti agak sering kabur kaburan, atau bahkan ketika adiknya yg putri mau dimasukkan ke pondok agak kurang setuju, untung orang tuanya tetap pada pendiriannya tetap memasukkan adiknya ke pondok.

Setelah tamat dari TMI (sltp dan slta) Darul Iatiqomah dan pengabdian membantu mengajar satu tahun, dia meneruskan kuliah di salah satu universitas suwasta terkenal di Malang, dia aktif di organesasi kemahasiswaan perguruan tinggi itu, bahkan pernah menjadi ketua bemnya.

Orang tuanya ketika itu senang dengan perkembangan putranya itu, beliau mengatakan kepada saya, alhamdulillah psk kyai, putra saya sekarang sudah kelihatan mandiri, solatnya juga sudah tidak perlu dikontrol lagi.

Hanya sayang agak lama menyelesaikan kuliah strata satunya, sekrepsinya tidak cepat diselesaikannya, saya kurang tahu apa karena terlalu asyik dengan aktifitas organesasi kemahasiswaannya, tetapi yg lucu meski skrepsinya sendiri belum diselesaikannya, namun dia banyak menolong menyelesaikan skrepsi teman temannya.

Setelah menyelesaikan strata satunya, dia pulang ke kampungnya mengajar di sekolah menengah kejuruan yg bernaung di yayasan sebuah pesantren dekat rumahnya, bahkan kemudian menjadi kepala sekolah tersebut, sambil setiap satu minggu dua hari, dia ke Surabaya untuk kuliah strata duanya di salah satu perguruan tinggi suwasta.

Saya tidak tahu persis apa sekarang sudah selesai strata duanya, mestinya sudah selesai, tetapi yg saya dengar dia sekarang tetap menjadi kepala sekolah, juga mempunyai usaha ekonomi yg dijalankan oleh teman kepercayaannya di kota, dan tentu yg saya harapkan aktif dalam gerakan dakwah.

Semoga bermanfaat dan berkah.

Daris, 14 J Akhirah 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.