Diterima dan Berangkat ke Al Azhar Mesir Disangka Mau Menjadi TKI

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —-Alumni putra pesantren kita, Pon Pes Darul Istiqomah Bondowoso ini, berasal dari satu desa di kecamatan timur selatan kota Jember, teman satu desa alumni yg pernah saya ceritakan yg kemudian ke Akper di Jombang. Dia kulitnya putih, tetapi tidak tinggi dan mancung beda dengan temannya yg tinggi dan mancung, hanya hitam manis, pokoknya sama tidak berpenampilan desa, putra seorang kiyai kampung, alumni pesantren salaf terkenal di kecamatan sebelah desanya, sehingga tradisi ta’dzim kepada kyai sangat tinggi termasuk sifat itu menurun pada dia sbg anak.

Dia masuk pesantren kita setelah tamat MTs sehingga masuk di klas intensif, program 4 tahun. Dia rajin dalam belajar, juga sedikit cerdas, hanya tetap saja tidak bisa mengalahkan salah satu temannya saat pembagian raport baik saat pertengahan atau akhir tahun, saya sudah mati matian belajar ustadz tetapi tetap saja tidak bisa mengalahkan yg dari Kalimantan. Begitu yang diakatakan setiap saya menanyakan hasil raporannya.

Ada sesuatu yg lucu menurut saya di pesantren kita pada awal awal tahun ajaran baru. Saya suka ikut main bola di lapangan pondok bersama para santri, yg lucu di antara mereka yg bermain itu ada santri baru kalau saya memegang bola berhadapan dengannya dia tidak mau menghadang atau merebut bola saya seakan saya dibiarkan membawa bola dan sampai kadang kadang saya dengan memudah menceploskan bola ke gawang goal…hahaha. Yg begitu itu biasanya santri yg berasal dari keluarga berlatar belakang pesantren salaf dari etnis Madura.

Dia, alumni yg saya ceritakan ini, termasuk yg seperti di atas. Yg seperti itu biasanya hanya pada awal tahun ajaran baru, kalau sdh lama di pondok, ya sudah tidak seperti itu lagi, kalau perlu dia tebas atau takling yg ditebas dan ditekling saja, namun ketaatan dan sami’na waato’nanya pada kyai masih tetap kental tetapi proporsional, sebagai contoh saat pesantren kita dulu mempunyai proyek peternakan sapi yg cukup banyak, dia lah salah satu yg saya tugasi untuk merawat dan memberikan makan sapi, saya lihat tiap hari dia berjibaku merawat sapi sapi itu dan mencari pakan sapi sampai ke tempat tempat yg jauh kurang lebih 20 km dari pondok, di daerah Mayang Jember dengan mengendarai detdet, semacam mobil pikup hasil rekayasa sendiri yg terdiri dari bekas sasis mobil yg digerakkan dengan mesin dinamo tempel.

Bacaan dan hafalan alqur’annya cukup baik, sehingga ketika menjadi guru pengabdian di pondok, dia sering saya suruh mewakili saya dalam mengimami shalat tarweh di bulan romadlan yg sayalah mestinya imamnya.

Cita citanya waktu itu setamat dari pondok ingin meneruskan ke Mesir, maka saya memberi tahunya cara cara bisa mendapatkan peluang dan pergi studi di sana, termasuk dana yg harus disiapkan, karena ke Mesir itu biarpun sudah ada tiket atau beasiswa, namun masih perlu ada tambahan dana, karena biasanya di kemenag atau agen yg memberangkatkannya masih ada beaya lagi, selain ketika di Mesir beasiswanya kecil sehingga tidak mencukupi.

Untuk pendaftaran di Surabaya dan test di UIN Malang, saya sendiri mengantarkan karena bersama anak saya sendiri (putri) yg juga ingin ke Mesir (insyaallah akan saya ceritakan tersendiri ttg anak saya ini).

Alhamdulillah testnya dinyatakan lulus. Saya salut melihat semangat dan kesungguhannya tolabul ilmi ke Mesir, untuk beayanya dia rela tanah sawah yg disiapkan untuknya oleh orabg tuanya dijual (orang desa biasanya menyiapkan lahan tanah sawah anak anak yg nanti diberikan ketika anaknya sdh dewasa atau berkeluarga), sementara ketika di Mesir dia hidup hemat dan mencari uang tambahan sendiri, yg saya dengar dengan dia menjadi imam atau marbot di salah satu mesjid kecil di sana sambil menyelesaikan hafalan qur’annya.

Sayang setelah lulus test dan segala urusan persiapan berangkat diurus, mulai beaya, tiket, paspor dan lain lain, semuanya bisa diselesaikan kecuali visa, karena waktu itu ada kesalahpahaman antara kedutaan Mesir dengan pemerintahan Indonesia, dalam hal ini kemenag indonesia, sehingga tidak keluar keluar.

Cukup lama dia menunggu, hampir satu tahunan, dan akhirnya berangkat juga. Ada sesuatu yg kurang mengenakkan hati saya, ketika saya datang untuk menghadiri tasyakuran menjelang keberangkatannya ke Mesir, saya mendengar kasak kusuk masyarakat apa mau jadi TKI, maklum di kampung asal ke Timur Tengah pasti TKI.

Kira kira satu tahun di Mesir terjadi huru hara yg sering disebut orang sebagai arab sepring yg berujung pada turunnya Husni Mubarok dari kursi kepresidenan dan naiknya Mursyi, presiden yg hafidz,setelah itu melalui kemenangan ikhwanul muslimin dalam pemilihan umum yg dimokratis, namun kemudian dikupdeta secara dzalim oleh Sisi sang komandan angkatan bersenjata Mesir.

Saat itu, Orang tua dan keluarganya gelisah mengkhawatirkan keselamatannya datang ke rumah saya. Saya pun menenangkan mereka, saya katakan itu seperti ketika pak Harto turun, kerusuhan yg terjadi hanya di Jakarta, daerah yg lain ya tidak ada apa apa, tidak masalah, kalau beritanya di luar negri kayak seluruh Indonesia bergejolak pada hal ya tidak, sama yg di Mesir juga seperti itu, yg kita dengar Mesir semuanya gonjang gonjing, pada hal yg terjadi paling hanya Tahrir saja yg bergejolak. Sudah tenang saja, bilang kalau telpon tidak usah pulang ke Indonesia.

Betul saja sesudah itu dia telpon saya, dan saya menanyainya bagaimana keadaannya dan kondisi Mesir saat itu. Dia menceritakan hampir seperti yg saya prediksi, dan ketika dia mau pulang karena ada perpulangan gratis, saya bilang tidak usah pulang, nanti kamu tidak bisa kembali lagi ke Mesir, ia kalau ada gratisan lagi.

Dia mengikuti nasehat saya, tidak pulang waktu itu, dan alhamdulillah sampai menyelesaikan pendidikan S1 (lc)nya dan pulang ke Indonesia.

Saya tidak tahu persis apa kegiatan dan aktifitasnya, yg saya dengar dari temannya yg mengelola pesantren tahfidz dia ikut membina pesantren di tempatnya, selain juga mengajar di salah satu pesantren alumni Darul Istiqomah di Pakusari Jember, selain aktifitas lain ceramah dan mengisi kajian kajian.

Pernah saya mengundangnya ceramah mengisi pengajian umum bulanan di pondok kita. Alhamdulillah ceramahnya baik, isinya runtun. Saya sarankan sebaiknya dia meneruskan S2nya sambil tentu tetap bergiat dalam aktifitas dakwah.

Semoga berhasil dan berkah

Daris, 10 J Akhiroh 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.