Induk Elang

ihsanudinOleh: Ihsanudin (Trainer/Motivator)

MEPNews.id – Wahai Ibu…… tentu Anda menyayangi anak Anda, bukan? Bahkan Anda teramat cinta kepadanya, sehingga Anda tidak rela bila dia bersusah payah. Anda berusaha memenuhi semua yang diperlukannya. Bahkan, Anda memberikan semua yang diinginkannya. Anda tidak rela dia menangis. Anda pun tidak ingin dia menderita atau merasa kekurangan. Anda tidak rela dia sengsara sedikitpun. Seakan Anda tidak tega sesuatu yang buruk terjadi padanya. Anda sediakan semua fasilitas yang diperlukannya, sehingga Anda memanjakannya. Semua itu Anda lakukan sebagai wujud cinta pada anak Anda.

Tetapi, cobalah Anda pikirkan lebih dalam. Apakah itu benar-benar yang terbaik untuknya?

Sejenak, mari kita belajar pada induk elang. Sesuatu paling berharga yang diberikan induk elang kepada anaknya bukanlah suapan makanan setiap hari, bukan pula eraman hangat setiap malam, juga bukan perlindungan tatkala musuh datang. Tetapi, sesuatu paling berharga yang diberikan seekor induk elang kepada anaknya adalah tega melemparkan si anak dari tempat yang tinggi, membiarkannya terjatuh, tapi terus waspada berjaga-jaga.

Seketika si anak elang merasa ketakutan. Dia terkejut mengira ibunya tega membunuhnya. Namun, ketakutan itulah yang membuatnya secara insting mengepakkan sayapnya, memaksanya berusaha dalam keterpaksaan dan ketakutan. Sejenak kemudian si anak elang baru menyadari bahwa ternyata dia bisa terbang.

Bisa terbng itu lah sebenarnya modal terbesar yang diperlukannya sebagai seekor elang, yang akan membuatnya bisa hidup tanpa bergantung pada induknya. Ketakutan telah membuat si anak elang menumbuhkan kekuatannya. Keterbatasan melatihnya menjadi hebat.

Ibu, benarkah fasilitas yang Anda berikan kepada anak selama ini telah mendidiknya menjadi pribadi yang hebat?  Menjadikannya mandiri? Memiliki modal yang kuat untuk mengarungi hidupnya? Siap menjalani hidup tanpa bergantung pada orang lain?

Keterbatasan dan kekurangan akan membentuk pribadi menjadi kuat dan tangguh. Itu yang lebih diperlukan anak daripada kemewahan yang justru melenakannya.

Menyayangi anak dengan cara memanjakannya, memenuhi semua keperluannya sehingga dia tidak perlu bersusah payah, adalah cara mendidik yang keliru. Bagaimanapun, anak perlu dilatih untuk kuat, perlu dilatih untuk berupaya. Semua latihan itu bisa dilakukan dengan keterbatsan-keterbatasan, bukan dengan tersedianya semua fasilitas.

Orang-orang yang meraih sukses saat ini rata-rata adalah orang yang ditempa kekurangan dan keterpaksaan pada masa lalu. Mereka dihadapkan pada permasalahan dan tantangan yang memaksanya untuk mencari solusi, dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah. Itulah akhirnya yang melatih diri mereka sehingga menjadi tangguh dan siap menghadapi segala kondisi. Itu adalah modal berharga yang diperlukannya dalam mengarungi hidup sesungguhnya, hingga mampu meraik suksesnya.

Banyak terjadi saat ini, fasilitas yang didapat anak justru lebih banyak membuat mereka terlena. Anak cenderung menjadi konsumtif daripada produktif, cenderung menikmati daripada berkreasi, merasa enjoy meski tidak bisa mandiri. Bahkan, anak jadi lupa pada apa yang seharusnya mereka lakukan untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya karena semuanya serba tersedia. Tidak terasa, itu telah membentuk pribadi anak menjadi lemah, enggan untuk berusaha dan bersusah payah. Akhirnya, anak jadi mudah menyerah ketika menemui tantangan dalam hidupnya.

Kemajuan tehnologi saat ini menjadikan semua serba mudah dan instan. Kecanggihan gadget telah memanjakan anak dengan beragam kemudahan. Bermain game serta mengakses berbagai situs telah membuat anak betah berlama-lama berinteraksi dengan gadget sehingga lupa bahwa dia perlu berinteraksi dengan sesama manusia, lupa bahwa tubuh perlu digerakkan untuk membentuknya menjadi sehat dan kuat. Padahal, tubuh tubuh berkembang secara optimal sehingga bisa digunakan ketika tiba masanya kelak tatkala dewasa.

Terpenuhinya segala fasilitas yang diinginkan anak tidak serta merta menjadikan anak lebih maju dan lebih berkualitas. Sebaliknya, itu justru membuat anak terbuai dan terlena. Asyik menikmati yang serba ada, sehingga lupa bagaimana harus berusaha. Terlena dengan keadaan sekarang, sehingga lupa mempersiapkan bekal hidup di masa datang. Ketika waktu berlalu, barulah kita semua tersadar. Ternyata, yang selama ini diinginkan bukanlah yang sebenarnya dibutuhkan.

Adakalanya seorang ibu tidak tega melepas anaknya guna menuntut ilmu di tempat yang jauh, dengan alasan merasa sayang dan rindu. Namun, tanpa disadari, terobatinya rindu saat ini dan terlewatkannya waktu untuk menimba ilmu, berakibat pada hilangnya kesempatan anak untuk lebih maju dan terlewatkan peluang untuk menempa diri menjadi lebih kuat.

Induk elang telah mengajarkan bagaimana seharusnya memperlakukan anak sehingga bisa mandiri, percaya diri dan siap menatap masa depannya, meraih hidupnya, meraih  suksesnya.  Wahai Ibu….. bagaimana dengan anak Anda?

Facebook Comments

POST A COMMENT.