Merawat Kekerasan di Dunia Pendidikan

Catatan Oase 56 :

MEPNews.id —- Ketika tabuhan miris didendang, lagu tentang gugurnya seorang guru bernama budi, bait bait lara dan serapah menggema diseantero negeri, kutukan bertalu talu memburu sang murid yang terlanjur distigma sebagai pembunuh. Bunga duka terpampang di Sampang, gelar pahlawan disematkan, doa dan pujian dihadirkan … Kita semua mengutuk tragedi itu sebagai kebiadaban, sebagai air susu dibalas dengan air tuba. Selebrasi media membuncah, memanggungi suara para pemburu citra, semua seolah berduka.

Hidup memang harus seolah olah…. Seolah olah peduli kalau kita tak mau dianggap lalai. Seolah olah suci kalau kita tak mau dijuluki tak tahu diri. Parade kata duka cita terangkai menghiasi karangan bunga…kita sematkan kata ” pahlawan ” agar kita dianggap dermawan.

Hidup memang harus memilih….

Kalimat hidup harus memilih adalah sebuah rangkaian kata yang menunjukkan sebuah perilaku dan sifat dari seseorang. Sebuah pilihan akan dilakukan tentu tidak akan datang dengan sendirinya seperti datangnya wahyu kepada para nabi. Sebuah pilihan akan dipengaruhi oleh pengalaman yang tersimpan di alam bawah sadar. Begitulah Freud mengistilahkannya. Merawat pengalaman dialam bawah sadar dan kemudian secara tak sadar kita munculkan, sejatinya merupakan potret siapa kita.

Pendidikan adalah sebuah diskripsi tentang sebuah proses suci yang berisi sebuah harapan tentang kesalehan, kesalehan sikap, kesalehan berpikir dan kesalehan berperilaku. Sehingga pendidikan itu diharapkan akan menghasilkan perilaku berbudi. Sayangnya didalam perjalanan proses sikap luhur kita sebagai pendidik luntur, pendidik tak lagi bisa bersikap tanggap ketika harus memilih sikap.

Tragedi kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya, seperti kasus di Jombang, Sutubondo, Surabaya dan beberapa daerah lainnya, tak ada koor kutukan kepada pelaku, semua menjadi bisu, tak mampu merangkai kata-kata serapah, sebagaimana lantunan bait duka yang kita dendangkan ketika guru budi menjadi mengalami tragedi. Ketika bait kalimat perih 25 anak dicabuli oleh seorang guru di Jombang belum lekang, menyeruak keperihan lagi, 65 siswa di sebuah SD di Surabaya menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik yang bernama guru. Kemana kita, ketika para murid menjadi korban atas ketidak salehan kita? Ya kita tak ada, kita bersembunyi, karena memang kita adalah pelakunya.

Parade keangkuhan atas nama kuasa sekolah juga sering ditampakkan, murid dibully habis habisan, distigma tak sopan, hanya karena murid tidak bersepakat atas sikap dan pendapat guru. Kuasa takdir disematkan, murid tak dinaikkan dan diasingkan dari murid yang lainnya hanya karena guru tak kuasa memilah rasa dan logika. Pernahkah guru mampu merasakan pedinya perasaan orang tua ketika anaknya dinista?

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Merawat kesalehan dalam menjalankan proses pendidikan adalah sebuah keharusan. Memulainya harus dengan sebuah sikap yang saleh juga. Sikap saleh adalah sikap yang mampu menempatkan diri berpihak. Berpihak pada kebenaran yang kita rawat. Sehingga sikap guru harus adil, tidak memilih hanya pada apa yang disukai dan apa yang menjadi kelompoknya. Guru adalah profesi kenabian, sehingga siapapun yang mentasbihkan dirinya sebagai guru adalah ” mahluk suci ” yang diharapkan menebar kesalehan, kesalehan sikap, kesalehan perilaku dan kesalehan pikir. Perlakukan orang lain sebagaimana kalian memperlakukan diri sendiri, sehingga kalian menjadi peka dan berhati hati dalam bersikap, apalagi yang menyangkut takdir orang lain.

Nah ketika guru tak mampu berbuat adil dalam bersikap, dan hanya memilih pada apa yang disukai…. Saat itulah pendidikan kita telah ditasbihkan sebagai tempat merawat kekerasan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Semoga Allah menghindarkan kita dari sikap yang tak adil…. Aamien

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat bersama keluarga dan menjadi hamba hamba Allah yang selalu dirahmati… Aamiien

Surabaya, 25 Pebruari 2018

M. Isa Ansori

Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Facebook Comments

POST A COMMENT.