Peran Orangtua dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Anak

hilda mulianaOleh: Hilda Muliana, motivator parenting

MEPNews.id – Mengapa, dalam menstimulasi dan mengoptimalkan kecerdasan otak anak, peranan orangtua diperlukan? Apakah peranan sekolah tidaklah cukup?

Yang menentukan kecerdasan otak anak adalah orangtua. Yang paling mengerti kebutuhan anak ya orangtua. Maka, orangtua lah yang dapat menggiring anak ke arah stimulasi knowledge, skill ataukah ke pembentukan moral yang baik.

Stimulasi sejak dalam kandungan dan usia emas anak bisa diberikan keseluruhan. Stimulasi bidang knowledge, skill, berbahasa, softskill, ketrampilan matematika, maupun penanaman karakter dan moral yang baik kepada anak.

Shafa, gadis kecil kami yang sekarang menginjak usia 9 tahun, kami stimulasi sejak bayi. Stimulasi yang kami berikan adalah mengajaknya berbicara, membacakan buku bergizi dan berkualitas, memberikan nutrisi terbaik, membacakan Al Quran, mengenalkan matematika sejak dini, mengenalkan Bahasa Indonesia dan Bahasa English sejak dini, merangsang motoriknya dan menanamkan karakter moral yang baik kepadanya.

Di usia 3 tahun, Shafa dapat membaca Bahasa Indonesia dengan lancar, sehingga dapat membaca buku-bukunya sendiri dan tidak lagi meminta dibacakan. Kosakata dan perbendaharaan kata Shafa lebih menonjol dibandingkan anak-anak seusianya. Shafa juga mengenal matematika dengan baik. Tidak hanya mengenal angka, tapi sudah sampai pada materi penjumlahan dan pengurangan.

Di usia 4 tahun, Shafa dapat membaca bacaan English dengan lancar, dapat bercakap-cakap dan berkomunikasi dengan kawan sekolahnya memakai English. Shafa juga sudah bisa membaca Al Quran dan mulai menghafalkan surat-surat pendek.

Motorik tangan Shafa kami latih dengan cara memegang pensil atau pena dengan baik, menulis angka 0 sampai 200 dengan lancar, mewarnai dan menggambar dengan baik, memegang gunting dan menggunting kertas dengan baik, serta dapat menulis kata-kata dan kalimat sederhana dengan baik.

Progress pada Shafa di usianya 3 – 5 tahun memberikan kebanggaan dan kebahagiaan luar biasa kepada kami sebagai orangtua. Itu karena Shafa dapat kami pintarkan dan kami stimulasi dengan tangan sendiri, tidak bergantung kepada guru di sekolah atau di tempat lesnya. Kebanggaan dan kebahagiaan kami sebagai orangtua tidak dapat diukur.

Shafa, di usia 5 tahun saat duduk di Taman Kanak-kanak, sering mengikuti perlombaan dan olimpiade tingkat sekolah, kecamatan sampai ke tingkat nasional. Shafa mengikuti olimpiade Sains Kuark, olimpiade Sakamoto, olimpiade English dan lomba lomba mewarnai atau menggambar.

Softskill Shafa mulai terasah di usia 7 tahun. Shafa menyukai seni musik, suka memainkan alat musik dan menyanyi. Shafa juga menyukai kegiatan menggambar dan mewarnai, serta menulis. Softskill ini kami kembangkan dan kami berusaha memfasilitasinya dengan baik.

Di usia 6 tahun, saat menginjak bangku Sekolah Dasar, Shafa mulai mengenal dan belajar Bahasa Mandarin. Di usianya 8 tahun, Shafa mulai mengenal dan belajar Bahasa Arab. Pengenalan Bahasa seharusnya dikenalkan sejak dini sebanyak mungkin atau semampu kita sebagai orangtua.

Stimulasi ke Shafa seharusnya dilakukan sejak dalam kandungan, namun kami baru lakukan saat usia bayi. Namun, sudah dapat dilihat kemajuannya dan progresnya.

Apabila diberi amanah anak lagi oleh Allah SWT, kami akan menstimulasinya sejak dalam kandungan dan lebih optimal daripada yang kami berikan kepada Shafa.

Sejak dini

Stimulasi harus dilakukan orangtua kepada anak, sehingga hasil yang dicapai pun dapat optimal dan proses peningkatan kecerdasannya semaksimal mungkin.

Mengenalkan anak pada buku dapat dimulai sejak dalam kandungan. Bagaimana cara? Apakah dapat mengenal isi buku, sedangkan si jabang bayi belum lahir?

Janin mulai bisa mendengar karena inderanya mulai berfungsi pada usia kehamilan 5 bulan. Pada saat ini lah mulai kenalkan buku dengan cara membacakannya setiap hari sambil memberikan belaian pada perut. Janin dalam perut akan mendengarkan sama seperti saat kita membacakan buku pada bayi. Bacakan buku buku yang berkualitas, seperti tentang sains, pengetahuan agama, teknologi, tentang wawasan yang dapat membangun dan memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya.

Apakah si jabang bayi memahami apa yang dibacakan orangtuanya?

Ada cerita menarik tentang Mayumi, lulusan Sastra English di Jepang, yang dicuplik dari berita H. Witdarmono wartawan Kompas di buku berjudul Rahasia Kecerdasan Anak.  Mayumi mendidik anaknya sejak dalam kandungan. Gagasan ini berawal dari tayangan program pendidikan anak yang disiarkan TV lokal Jepang. Pada janinnya, Mayumi hampir setiap hari bercerita tentang apa pekerjaannya, tentang perasaannya dan cerita lainnya. Mayumi juga menyanyikan lagu-lagu English pada janinnya, seperti lagu Twinkle-twinkle Little Star. Maka, ketika Ryunosukekun (nama bayi tersebut) berusia 1,5 tahun, ia dapat menyanyikan Twinkle-twinkle Little Star dari awal sampai akhir, dan membuat Mayumi terkagum-kagum.

Ada kisah lain, beberapa tahun lalu, saat media massa memberitakan wanita Jepang bernama Jitsuke dengan suaminya dari Amerika melahirkan 4 anak jenius. Anak pertama, bernama Susan, memiliki IQ di atas 170 dan pada usia 5 tahun diperbolehkan masuk SMA khusus anak berbakat. Ketiga adik Susan juga memiliki IQ di atas 160. Berdasarkan cerita tersebut, Jitsuke mengenalkan angka dan alphabet kepada anak-anaknya sejak kandungan berusia 5 bulan (Witdarmono, 2010).

Ibu-ibu hamil di Jepang beranggapan, pendidikan anak sejak dalam kandungan merupakan alternatif baru. Program pendidikan anak dalam kandungan itu menjadikan suami tergugah bila diajak bicara masa depan (pekerjaan dan statusnya kelak) dan anaknya. Menurut Kiyoshi Oshima, ahli dalam bidang penelitian “awal kehidupan manusia”, tujuan dari pendidikan anak sejak dalam kandungan, harus ada kerjasama suami dan istri untuk membentuk lingkungan hubungan bathin orangtua bayi. Lingkungan itu lah yang menggerakkan kemampuan anak secara optimal (Witdarmono, 2010).

Ibu perokok dan peminum alkohol dapat mempengaruhi kecerdasan anak. Kebiasaan itu dapat menurunkan kadar EFA (asam lemak esensial). Padahal, dalam kandungan, janin sangat membutuhkan EFA ibunya. Antara lain buruh DHA (docosa-hexaenoic acid) untuk pertumbuhan saraf. Bila kebutuhan DHA tidak terpenuhi, anak akan terhambat pertumbuhan sarafnya. Bila janin terjadi retardasi pertumbuhan, maka terjadi penurunan daya pikir anak pada usia 9-11 tahun.

Anak yang mendapatkan ASI memiliki IQ lebih tinggi pada usia 7,5-8 tahun daripada yang tidak diberi ASI. Pada wanita pencandu alkohol, anak yang dikandungnya akan mengalami gangguan perkembangan mental bertahun-tahun. Menurut para peneliti di Chicago, anak yang ibunya perokok rata-rata lebih gelisah, nakal dan susah diatur, dibandingkan dengan anak-anak yang ibunya bukan perokok. Anak-anak yang ibunya merokok lagi sesudah melahirkan, ternyata kejadian tersebut juga dapat terjadi pada anaknya (Witdarmono, 2010)

Beberapa penelitian di negara-negara maju, timah hitam dari asap kendaraan berbahan bakar bensin dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak dan mengurangi asupan sel darah merah pada orang dewasa. Timah hitam masuk ke dalam tubuh melalui udara maupun makanan yang terkontaminasi bahan ini. Timah hitam yang masuk melalui paru-paru dapat menurunkan IQ dan jumlah hemoglobin. Penelitian di Australia menunjukkan, anak yang terkontaminasi timah hitam kehilangan 8 point IQ. Penelitian lain di Meksiko menunjukkan, udara tercemar mengakibatkan 41% dari 240 bayi dan balita terinfeksi setelah terkontaminasi timah hitam di atas 10 mikrogram per sepersepuluh liter darah. Di Malaysia, Singapura dan Thailand, terdapat larangan penggunaan timah hitam untuk mengolah bahan bakar. Untuk mereduksi bahan berbahaya beracun dari asap kendaraan, negara-negara itu memakai bahan bakar ethanol, methanol atau bensin dengan pengolah tambahan non timah hitam (Simanungkalit, 2010).

 

Cuplikan dari buku ‘Rahasia Kecerdasan Anak Usia Emas’ oleh Hilda Muliana

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.