Bergurulah Pendidikan Karakter, Walau Sampai ke Negeri KAI

Oleh Marsum Kasim

 

MEPNews.idSetiap kali naik kereta api, rasa malu selalu mennyelimuti perasaan ini. Terasa tebal dan tidak bisa ditolak jika dikatakan terlalu bebal telinga ini. Marah, benci, menangis, galau, kacau, dan linglung bingung, bergulung menyelubung.

Sebuah stasiun kecil, yang sebulan lalu, masih berlantai keramik biasa, sekarang sudah terpasang keramik yang benar-benar dapat dikatakan fasilitas umum yang kinclong. Kemudian, selalu tersungging senyum dan sapa menawan dari semua personel mulai dari level jabatan tertinggi hingga paling rendah.

Kepala stasiun, masinis, polsuska, pramusaji, pelayan loket, satpam/PKD, semua melayani dengan SOP yang terdidik, terlalih dan sudah terbentuk menjadi karakter.

Bukti yang sempat berkembang secara viral di medsos, masih ingat bagaimana berita seorang tenaga cleaning service yang menyerahkan segebok uang ratusan juta, milik penumpang yang tertinggal?

Selanjutnya, silakan mengingat kembali bagaimana kondisi PT KAI, satu atau dua dasa warsa yang lalu. Luar biasa, sebuah lompatan evoluasi manajemen, dan bukti nyata revolusi mental.

Terus kita tengok diri ini, atribut ini, sebagai satu unsur pelaku dan warga pendidikan. Adakah yang salah dengan apa yang saya, kami dan kita lakukan? Keluarga saya, lingkup kerja saya, masyarakat dan bangsa saya? Sampai-sampai pemimpin kita bertekat merevolusi mental bangsa ini? Sedemikian parahkah sakitnya karakter kita? Pertanyaan terakhir, bisakah kita ubah dengan cepat, secepat pimpinan PT KAI melakukannya?

Karakter, Bukan Lagi Teori.

Sengaja, tulisan ini tidak mengutip teori karakter apa pun, karena kita sudah tahu sama tahu. Negeri ini sudah penuh dengan aturan, norma, etika, estetika, bahkan dengan bangganya kita selalu mengagung-agungkan kata-kata “nilai-nilai luhur” bangsa ini.

Kita sudah tahu dan lebih dari sekadar mengerti dan memahami. Apalagi didukung dengan satu pondasi kehidupan yang kokoh: agama. Maka seharusnya tidak ada kekhawatiran, robohnya karakter bangsa.

Karakter, adalah hasil pembiasaan nilai-nilai tatanan masyarakat dan bangsa, baik sebagi makhluk individu (hamba Allah), maupun sebagai makhluk sosial, yang telah membudaya pada setiap pikiran, perasaan, ucapan, serta perbuatan dalam kesehariannya ketika bersama-sama memerankan fungsinya, yang dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan.

Oleh sebab itu, jika ingin mengubah karakter, mulailah dengan meniru contoh nyata yang sudah terjadi dan dilaksanakan di lingkungan sekitar. Janganlah tekat dan semangat pimpinan bangsa ini yang sedemikian mulia, justru dijadikan ajang memperbesar permasalahan, dengan kebiasaan yang selama ini terjadi. Sibuk melakukan kajian teori yang bak menara gading, perencanaan yang melebar, pelaksanan yang berantai memanjang, dan evaluasi yang berbelit, serta tindak lanjut yang semakin samar.

Mengapa tidak langsung saja, meng- copy paste apa yang telah dilakukan PT KAI? Kita yakin mereka pasti telah memiliki sistem dan manajemen yang dilaksanakan oleh SDM dengan komitmen, dedikasi dan loyalitas yang berkelas. Kita yakin, untuk mencapai kondisi sekarang, KAI tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ada rintangan, tantangan, hambatan, bahkan ancaman. Asalnya, bisa dari intern (yang menolak perubahan dari zona nyaman) dan ekstern (yang menolak perubahan dari pihak zona aman). Selain itu perlu proses dan waktu, serta kesungguhan pimpinan manajemen dalam pelaksanaan perubahan.Kesimpulannya, perubahan karakter, saat ini bukan sibuk mencari teori, tetapi kesungguhan dalam mewujudkan bukti.

Start Implementasi

Mengutip lagi dari tulisan sebelumnya “Pendidikan Karakter, Tanggung Jawab Siapa”? maka dapat dipaparkan uraian singkat berikut.

1. Pilar-pilar pendidikan karakter

a. Pemerintah

Pemerintah yang selama ini selalu diarahkan dan dibebankan kepada Kementerian yang membidangi pendidikan (Kemdikbud). Oleh sebab itu, seluruh program pendidikan karakter berujung di lembaga pendidikan/satuan pendidikan. guru, menjadi ujung tombaknya.

Sementara sungguh ironi dan memperihatinkan, saat ini terjadi berbagai peristiwa kekerasan dari yang ringan hingga penghilangan nyawa guru oleh pihak lain (masyarakat, ortu/wali dan anak didik), menjadi bahan perenungan tersendiri. Ada apa dengan guru?

b. Masyarakat

Masyarakat sebagai pihak yang bertanggung jawab pada upaya penciptaan kondisi yang kondusif agar pendidikan karakter bertumbuh dan berkembang.Anak tidak selamanya, di dalam keluarga. Seiring semakin besar dan bertambah usia, maka pengaruh masyarakat dalam pendidikan karakter, justru yang dominan.

c. Keluarga

Keluarga adalah pelaku pendidikan karakter yang pertama dan utama. Pertama yang memberikan pondasi nilai-nilai karakter kepada anak, sebelum mengenal pihak lain di luar anggota keluarganya.Utama, karena  pada awal pembentukan karakter, dari segi kuantitas kesempatan, orangtua yang paing berpeluang memberi pengaruh. Karaktar anak, merepresentasikan karakter keluarga.

d. Peserta Didik/Anak

Hampir dilupakan, dalam setiap kajian karakter, bahwa anak hanya sebagai objek, bukan subjek. Oleh sebab itu, sering dikesampingkan, penanaman karakter tidak mempertimbangkan perkembangan psikologi anak. Anak memiliki kebutuhan suapan pendidikan karakter sesuai dengan apa yang dia hadapi dan dia alami, dengan kekinian, bukan dengan dogma-dogma dan contoh yang kedaluwarsa.

e. Lembaga Tinggi Negara

Ada tiga lembaga tinggi, eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Semua memiliki tanggung jawab yang sama, jika mindset revolusi mental disepakati bersama. Pendidikan karakter yang jelas dan terukur dan implementasi regulasi dengan sanksi sebagai konsekuensi penegakkan hukum yang teguh, harus dipatuhi oleh lembaga tinggi negara.

2. Keteladanan

Faktor ini yang paling menentukan. Keteladanan, keteladanan, sekali lagi keteladanan. Seberapa mantapnya sebuah program, dukungan dana yang besar, waktu yang panjang, semua akan sia-sia. Jika keteladanan dari pihak-pihak terkait bertolak belakang dengan apa yang dislogankan, diiklankan, dimasyarakatkan, maka akhirnya, akan menjadi sebuah tontonan, bukan tuntunan.

Pendidikan karakter, menjadi guyonan, dagelan, bukan menjadi cerminan, wayang/bayangan, dari sebuah petuah/ajaran yang seperti selalu kita agung-agungkan “nilai-nilai luhur bangsa”.Anak adalah peniru. Itu yang harus kita ingat. Kemudia seiring kedewasaan berpikir, anak akan memiliki jiwa kritis atas apa yang terjadi di sekitarnya.

Jika mereka menemukan hal yang kontradiktif, dari apa yang selama ini diterima dalam penanaman karakter, dengan apa yang dilakukan orang-orang dewasa, yang seharusnya menjadi teladan, maka pemberontakan adalah eksresinya. Apakah ini yang melandasi, berbagai kekerasan anak terhadap pendidik? Perlu kajian lebih lanjut.

3.Membangun Sistem

Hampir semua institusi, organisasi dan komunitas apa pun, pertama yang dipandang sebagai faktor utama menentukan bentuk dan gerak lembaga yang dipimpinnya, bergantung pada pemimpinnya.

Tidak salah, namun jika kita ingin membangun dan menata perikehidupan bangsa ini, maka ke depan, orientasi kelembagaan yang bergantung pada personal harus dialihkan kepada sistem. PT KAI, tetap berjalan dan berkembang sampai saat ini, walaupun telah berganti pimpinan. Mengapa?

Hal ini disebabkan oleh telah terlembaganya sistem yang sudah dibangun “mendarah daging” pada semua lini manajemen dan pelakunya. Berbeda yang akan terjadi, jika suatu lembaga bergantung kepada personal. Maka besar kemungkinan lembaga akan berbelok arah dan menuju jurang kehancuran jika penggantinya, tidak berkomitmen melanjutkan kesepakatan dan program pimpinan sebelumnya.

Bukan berarti, argumen ini dapat disimpulkan sebagai rekomendasi didirikannya Departemen Pendidikan Karakter. Kalaupun memang dirasakan perlu, maka diusulkan, pimpinan PT KAI yang mengawali sebagai inisiator dan eksekutor, layak menjadi Menteri Departemn Pendidikan Karater yang pertama. (*)

 

Tulungagung, 22 Februari 2018

 

*) Penulis adalah Ketua Asosiasi Penilik Indonesia (IPI) Kab. Tulungagung; Sekretaris IPI Jatim.

Facebook Comments

POST A COMMENT.