Sang Bupati Bersenjata Cemeti Sakti

magetan sukarjanOleh: Sukarjan, Kepala SDN Plaosan 1, Magetan

MEPNews.id – Nama resminya R.M.A. Kartohadinegoro. Namun, orang biasa memanggilnya Gusti Lider. Bahkan, sebelumnya berjuluk Ki Ageng Gumbolo Cemeti Sakti. Semua nama itu merujuk pada pemimpin legendaris Magetan pada peralihan abad 19 ke 20.

Tahun 1887, R.M.A. Kartohadinegoro ada di antara sederetan nama-nama bupati Magetan di papan marmer bertuliskan tinta kuning emas. Pada masa pemerintahannya, Magetan aman dan tenteram. Bupati memerintah dengan arif dan bijaksana. Ia sangat disegani kawan-kawannya, para nayaka beserta kerabatnya, apalagi rakyatnya. Ia terkenal sebagai bupati yang merakyat karena sering mengadakan sidak sampai di pelosok-pelosok desa.

Perjalanannya blusukan ke desa-desa sering tidak diketahui rakyat maupun punggawa. Bahkan, ia lebih sering jalan sendiri daripada dikawal bawahannya/asistennya. Ini sering membuat para nayoko dan punggawa kebingungan.

Suatu ketika, terdengar kabar Sang Bupati berada jauh di pelosok desa karena terjadi sesuatu yang aneh. Bupati mendatangi bekel (lurah) Desa Widorokandang di barat laut pusat kota di kaki gunung Lawu. Ada perselisihan dengan bekel tentang pohon beringin di desa itu. Pohon beringin itu tumbuh subur hampir menyamai pohon beringin yang ada di tengah Alun-alun Magetan.

Sang Bupati berkehendak pohon itu dipindah ke Alun-Alun Magetan, agar menjadi sepasang pohon beringin. Hal itu dikandung maksud agar Alun-alun Magetan sama dengan Alun-alun Kraton Jogjakarta.

Dengan pembicaraan dan perdebatan panjang, akhirnya bekel Widorokandang mengijinkan beringin itu dipindah ke Alun-alun Magetan. Maka, Sang Bupati melaksanakan semedi untuk berkomunikasi dengan ruh gaib pohon beringin itu. Ternyata, ruh gaib tidak berkehendak pohon beringin di pindah ke Magetan.

Sang Bupati menjadi murka. Sambil menuding pohon beringin itu, ia berucap, “Dipindah wae digawe kembaran, kok ora gelem. Saiki matia!” (Dipindah untuk dipakai sebagai pohon kembar, kau tidak mau. Sekarang matilah saja). Dengan kekuasaan Allah, pada saat itu juga pohon beringin subur itu menjadi layu bagaikan terbakar. Lama kelamaan mati.

Suatu ketika, di tempat lain, Sang Bupati mengadakan blusukan ke Daerah Takeran di Desa Nguntoronadi. Karena bekel jarang sekali pisowanan (menghadap) di Kabupaten, Sang Bupati menemuinya di sawah. Ditegurnya bekel itu. “Kenapa kau selalu tidak hadir di pisowanan?”

Bekel itu menjawab dengan kata-kata yang tidak enak. Sang Bupati menjadi murka, dan menyumpah, “Hei Lurah. Sak anak turunmu lan wong-wong dusun Toro, nganti sesuk ora biso dadi lurah.” Maka, hingga saat ini, belum pernah ada lurah dari Desa Nguntoronadi yang berasal dari dusun Toro.

Masih banyak keajaiban yang terjadi pada bupati semasa hidupnya. Hingga sekarang, ada beberapa peninggalannya. Pohon belimbing, yang dulu ditanam di halaman rumahnya, hingga kini masih ada, walau sekarang rumah itu sudah menjadi bangunan lain. Rumah Bupati itu sekarang menjadi gedung Perpustakaan Magetan. Sebelumnya pernah menjadi gedung DPRD Magetan dan digunakan sebagai gedung SMEA. Pohon belimbing itu masih ada. Pohon asem di pojok alun-alun juga ditanam olehnya.

Keajaiban lain terjadi ketika ada pertemuan antara pejabat dan penguasa dari Gupermen Belanda. Kebiasaan dalam pertemuan pesta seperti ini, para tokoh terkemuka dan pejabat unjuk kebolehan; saling adu ilmu atau tenaga dalam. Ada bupati menerima selendang untuk mbekso (menari). Dengan tanaga dalam, manakala ujung sampur selendang dilempar ke atas, maka lampu-lampu padam. Jika ujung selendang dilempar ke belakang, lampu hidup kembali. Hal itu dilakukan berulang kali sambil menari. Bupati lain, unjuk kebolehan dengan cara berbeda.

Giliran selendang tiba pada Kertohadinegoro Bupati Magetan, para nayaga (penabuh gamelan) disuruh menyingkir ke luar arena. Saat mulai mbekso dengan mengibaskan selendang, gamelan langsung berbunyi sendiri tanpa ada yang menabuh. Semua hadirin tertegun dan heran, namun Sang Bupati tetap menari dengan anggunnya.

Keajaiban lain terjadi saat Bupati melakukan blusukan ke desa-desa terpencil. Konon, untuk memasak, beliau tak perlu repot-repot. Makanan cukup dimasukkan ke dalam blangkon, langsung matang, dan bisa dimakan.

R.M.A Kertohadinegoro juga terkenal anti-penjajah dan tidak mau bekerja sama dengan Gupermen, meski di sikap lahirnya tidak ditampakkan begitu. Diam-diam ia mendukung dan memberi bantuan pada pemuda maupun pejuang anti penjajah Belanda. Bantuan itu berupa material maupun spiritual. Bahkan terkadang diam-diam ikut mengangkat senjata bergabung dengan kaum pemberontak.

Ia juga mendapat julukan Ki Ageng Gumbolo Cemeti Sakti. Senjata andalannya cemeti (cambuk) dari penjalin bungkus. Cemeti ini punya keajaiban. Bila disabetkan, mendatangkan suara menggelegar laksana halilintar. Mendengar suara itu saja, musuh ngeri hingga lari berceria-berai karena dianggap dentuman meriam. Dalam pertempuran dengan Belanda, cemeti itu digunakan untuk menakut-nakuti lawan.

Masa kanak-kanak

R.M.A Kertohadinegoro terlahir dengan nama Raden Mas Munjahid, putra dari R.M.A Surohadiningrat III Bupati Magetan dan cucu dari R.M.A Surohadiningrat II Bupati Ponorogo. Munjahid kecil sudah memiliki keistimewaan dalam perilaku dibanding dengan anak sebayanya. Ia tergolong anak sangat cerdas.

Para kerabatnya sangat menyayanginya, terlebih lagi kakek dan neneknya termasuk R.M.A Surohadiningrat II. Masa kecilnya, beliau diasuh kakeknya di Ponorogo, menimba ilmu agama dan kenegaraan. Segala ilmu dari gurunya di Ponorogo diterimanya begitu sempurna. R.M. Munjahid diasuh kakeknya di Ponorogo hingga usia remaja. Lalu ia diberi tugas menyempurnakan ilmunya dengan mencari guru sambil mengembara dan menanamkan kebajikan.

Pada 1852, R.M.A Surohadiningrat III di angkat menjadi Bupati Magetan menggantikan mertuanya yang semakin tua. Ketika itu R.M Munjahid berusia 22 tahun. Di usia ini ia mulai menapakkan kaki mencari guru guna menyempurnakan ilmu yang telah dimilikinya.

Sebagai pemuda, R.M. Munjahid gagah perkasa, pendiam, namun menunjang tinggi adab sopan santun. Ia pandai bergaul dan berteman. Di mana berada, ia menebar kebaikan dan membantu yang lemah.

Pengembaraan dimulai ke wilayah kulon, hingga daerah Tegal dan berguru ke Ki Ageng Gede Ireng. Menimba ilmu beberapa tahun lamanya, setelah dirasa cukup, ia mendapat tugas membantu saudara-saudaranya untuk berontak melawan Belanda di Jawa Barat. Dari Ki Gede Ireng, ia mendapat senjata cemeti.

Tugas itu tidak di sia-siakan oleh R.M. Munjahid. Di samping bergabung pemberontak melawan Belanda, ia juga mencari guru sejati dari Banten dan Cirebon. Dalam perang melawan Belanda, ia berada di barisan terdepan. Saat hampir mendekati musuh, cambuknya dikeluarkan dan dibunyikan. Suara yang bagai dentuman Meriam membuat musuh lari tunggang langgang. Para prajurit dan kaum pemberontak menjadi  terheran-heran. Oleh sebab itu, R.M. Munjahid mendapat sebutan Gumbala Cemeti Sakti.

Hampir lima tahun lebih R.M. Munjahid meninggalkan orang tuanya. Ia malang melintang di dunia nyata, di kehidupan yang menempa diri menjadi semakin kuat dan tegar. Berbagai ilmu kanuragan, dan ilmu agama telah dituntaskan sempurna. Berjuang mengabdikan diri pada negara telah ia lakukan di usia muda. Namun ia tetap merasa belum cukup mencari ilmu-ilmu kanuragan yang lebih tinggi tingakatannya.

R.M. Mujahid dipanggil pulang ayahnya R.M.A. Surohadiningrat III, lewat gurunya Ki Ageng Gede Ireng, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Pulanglah R.M. Munjahid ke Kabupaten Magetan. Ia dikabari kakeknya telah meninggal dunia setahun setelah ia berkelana mencari ilmu.

Kondisi Kabupaten Magetanpun kala itu sedang labil dan semakin kacau. Magetan digunakan untuk penggemblengan para pengikut perusuh. Selain itu, perekonomian dan pertanian semakin terpuruk karena hama dan kekeringan. Kekacauan dan kerusuhan merajalela. Maka, R.M Munjahid ditugasi mengatasi masalah tersebut.

Pergilah ia ke tempat gurunya di Jawa Tengah untuk berkonsultasi. R.M Munjahid diberi tugas mengambil pusaka andalan dari Magetan. Pusaka bernama ‘Tombak Tunggul Wulung’ saat itu berada di kawah Gunung Slamet.  Pusaka tersebut senjata andalan sejak Jaman Majapahit, ketika daerah Magetan masih bernama Magehan yang pusatnya di daerah Giri Purno Gorang-Gareng. Tunggul Wulung lenyap bersama lenyapnya Majapahit dan Magehan.

Tugas mengambil pusaka itu tidak mudah, karena kawah Gunung Slamet ditunggui mahluk halus Ki Poleng dan istrinya Nyi Poleng. Kedua makhluk halus itu amat ganas.

Meski ada ancaman, R.M. Mujahid menyanggupi tugas gurunya. Berangkatlah ia ke Gunung Slamet. Sesampai di kawah, ia melakukan semedi. Dalam semedi, ia bertemu makhluk halus penunggu pusaka tersebut. Terjadilah pertempuran sengit antara mereka.

Awalnya, R.M Mujahid hampir kalah. Serangan-serangannya bisa dipatahkan. Namun, beberapa kali cemetinya dibunyikan. Ternyata, Ki Poleng dan Nyi Poleng terkulai lemas. Tunggul Wulung pun diberikan ke R.M. Mujahid. Dengan permintaan, Ki Poleng dan Nyi Poleng mengikuti pusaka itu di mana pun berada.

R.M. Munjahid menyetujuinya. Pusaka pun ditampakkan. Betapa terkejut R.M Munjahid melihat tombak hitam legam dengan ujung mata tiga itu. Gagangnya terbuat dari logam. Tombak itu terasa berat sekali.

Pusaka itu segera dibawa ke Magetan. Namun, karena beratnya, kereta yang digunakan untuk mengangkut pusaka itu terbelah dua dalam perjalanan pulang.

Sesampainya di Magetan, tombak itu diletakkan di Gedung Pusaka. Ki Poleng dan Nyi Poleng ikut bertempat di Pendopo Kabupaten Magetan tempat pusaka itu berada. Tak lama, Magetan kembali tentram. Para perampok dan perusuh menyingkir dari bumi Magetan. Perekonomian masyarakat kembali meningkat.

Mencuri calon istri

Saat Magetan semakin tentram dan damai, R.M Mujahid melakukan pengembaraan lagi. Kali ini ke timur. Ia kembali sejenak ke rumah kakeknya di Ponorogo. Tidak lama, ia berangkat ke Blitar menemui Ki Ageng Blitar di Lodoyo untuk menimba  beberapa ilmu.

Pengembaraan dilanjutkan ke Tuban. Dia menjadi murid dari pesantren yang didirikan Sunan Bonang. Di sini, R.M. Munjahid berjodoh. Dia mengenal gadis yang bernama Puspitawening, yang ternyata putri Adipati R.T. Citrosumo dari Tuban.

R.M. Munjahid diam-diam datang ke Tamansari Tuban. Ia mengutarakan niatnya pada gadis pujaan. Puspitowening mau dipersiteri. R.M. Munjahid pun melepas ikat kepalanya. Anehnya, ikat kepala itu bertambah lebar. Puspitowening disuruh duduk di atas ikat kepala yang sudah dijabarkan itu. R.M. Munjahid mengambil empat ujung ikat kepala tersebut dijadikan satu. Puspitowening terbugkus di dalamnya. Lalu, dipanggulnya bungkusan itu dan dibawa pulang ke Magetan.

Adipati Citrosumo marah mendengar putrinya tidak ada di Taman sari. Tuban geger. Karena kehilangan putrinya, Adipati Citrosumo gelisah. Lebih-lebih, putrinya telah dijodohkan degan putra Adipati Bojonegoro. Teleksandi segera disebar untuk mengetahui keberadaan Sang Putri.

Beberapa hari kemudian, tersiar kabar Putri Puspito wening berada di Kabupaten Magetan. Adipati Tuban lega walau masih menahan amarah, setelah mendengar keberadaan putrinya. Utusan dari Magetan datang untuk meminta sang putri dikawinkan dengan R.M. Munjahid. Pernikahanpun segera dilaksanakan.

Setelah menikah dengan Puspitowening, pengembaraan R.M. Munjahid berkurang. R.M. Munjahid mendapat kedudukan jadi wedana di Tuban. Tak lama kemudian, ia menjadi wedana di Bojonegoro. Kemudian, diangkat menjadi patih di Ngawi. Pada 1887, dalam usia 57 tahun, ia diangkat menjadi Bupati Magetan menggantikan ayahnya, R.M.A. Surohadiningrat III.

Setelah menjabat Bupati Magetan, namanya menjadi R.M.A.Kertohadinegoro. Beliau menjabat hingga tahun 1912. Selanjutnya, digantikan putra sulungnya R.M.A. Adiwinoto.

Keharuman, kemasyuran, dan keajaiban  R.M. Munjahid alias R.M.A. Kertohadinegoro serta semasa hidupnya, serta perjuangan melawan penjajah, masih diyakini dan melekat di hati masyarakat Magetan hingga kini.

 

Buku Sumber:  Magetan Dalam Panggung Sejarah Indonesia karya Drs. Sukarjan, M.Pd.

Facebook Comments

POST A COMMENT.