Mendidik Itu Lebih Kompleks

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —– Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pendidikan diartikan sangat luas. Pendidikan dijelaskan sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tentang pemerintahan, organisasi, dan sebagainya); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran.
Jadi, prosesnya sangat kompleks dan lebih konspetual. Dalam praktinya, tidak semudah seperti apa yang kita pikirkan tentang pekerjaan mendidik. Coba kita amati, selama ini jenjang sekolah atau kuliah dinamakan pendidikan. Misalnya, Pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan tinggi (untuk perguruan tinggi). Jadi, bukan pengajaran medasar dan menengah. Begitu juga bukan pengajaran tinggi (untuk perguruan tinggi).
Jadi, kembali ke istila pendidikan. Ada kata konsep aza yang menajdi garis besar dan dasar rencana pelaksanaan suatu pekerjaan. Di sini ada konsep manajemen dan kepemimpinan. Cara bertindak yang berarti berperilaku sebagai pendidik dan tidak sekadar pengajar. Di sini mengandung nilai-nilai pedagogis yang harus dan wajib dimiliki oleh siapa saja yang mempunyai profesi mendidik di sekolah jenjang apa saja.
Lebih dalam lagi, ada pernyataan cita-cita, tujuan, dan prinsip. Ini mengidikasikan bahwa siapa yang mendidik di sekolah wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan pedagogis. Pengetahuan dan keterampilan ini dipakai untuk mengantarkan anak didik agar mereka bisa mencapai cita-cita dari proses pendidikan itu. Intinya, proses pendidikan dikelola secara pedagogis untuk mengantarkan anak didik menjadi manusia dengan bakat dan minatnya.
Dengan mengetahui bakat dan minatnya itu, para pendidik bisa mengantarkan anak didiknya menjadi manusia yang baik dan berguna. Namun, selama ini, dalam proses di sekolah atau perguruan tinggi sekalipun, tampak cenderung kegiatan mengajarnya bukan mendidiknya. Mengapa demikian? Tidak lain memang konsep mendidik itu sangat kompleks.
Agar pendidikan itu sukses dalam mengantarkan anak-anak didiknya, maka para pelaku baik pengelola (school leaders) maupun gurunya (teachers) wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan mendidik. Dengan kata lain, mereka wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan pedagogis.
Menyampaikan materi itu mengajar. Atau, dalam istilah pengajaran itu dinamakan transfer of knowledge. Wujudnya hanya dalam bentuk ilmu pengetahuan. Dari tidak tahu menjadi tahu tentang apa yang diajarkan, yaitu materi. Dari tidak mengerti menjadi mengerti tentang apa yang disampaikan oleh guru-guru. Intinya, belum sampai pada karakter anak didik yang menggali sampai tahu bakat dan minatnya. Bahkan mnerawang cita-citanya sehingga dalam proses pendidikan anak didiknya bisa diantarkan untuk mencapai cita-citanya berdasarkan bakat dan minatnya.
Jadi, mendidik itu beda dan tidak sekadar mengajar. Pengajaran itu proses membentuk pemikiran dan tindakan seseorang dengan memberi instruksi. Mengajar bisa pula dalam bentuk melakukan praktik yang mengarah pada perilaku dan kapasitas baru. Pada akhirnya, pengajaran itu dapat dikerjakan dalam beberapa metode berdasarkan sifat subjek dan siswa.
Berbeda dengan mendidik. Seorang bisa dikatakan sebagai pendidik jika dia memiliki semua karakter dengan sifat-sifat yang sangat kompleks. Dia mampu mewakili dirinya, guru, sekolah atau institusi manapun. Dia sebagai pemimpin. Dia sebagai panutan. Dia sebagai figur model.
Segala tindakannya, di dalam interaksi, senantiasa menyinarkan nilai-nilai pedagogis. Intinya, mendidik itu lebih kompleks sehingga orang bisa dikatakan sebagai pendidik dengan sertifikat pendidik itu wajib memiliki sifat-sifat konsep untuk mendidik: pemimpin, model, panutan, dan bersinergi dengan nilai-nilai pedagogis. ***
Penulis: Pengamat Pendidikan dan Sosial,
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.