Bunda, Iming-Iming Hadiah Tak Berpengaruh bagi Anak Rewel Makan

MEPNews.id – Menghadapi anak yang rewel makan memang repot. Tidak diberi makan, nanti kelaparan atau kurang gizi. Diberi makan, sering tidak dihabiskan atau dipilih-pilih. Biasanya, lauk habis tapi sayurnya tidak dimakan. Masih ada bayam, masih tersisa kecambah, atau lainnya.

Tentu saja, orang tua yang bertanggung jawab bakal melakukan berbagai cara agar anak makan sesuai kebutuhan. Salah satu caranya adalah membujuk dengin iming-iming sesuatu pada anak agar menghabiskan makanan.

Sayangnya, menurut penelitian ilmiah mutakhir, iming-iming hadiah ini tidak memberi cukup pengaruh efektif. Lalu bagaimana? Sodorkan terus makanan yang tidak dipilih itu sampai si anak akhirnya mau memakannya.

Victoria Allen, koresponden The Daily Mail edisi 21 Februari 2018, mengabarkan penelitian oleh tim dari Universitas Ghent di Belgia terhadap 154 anak-anak tempat pendidikan pra-PAUD. Peneliti menemukan, dalam sampel umum anak-anak prasekolah, iming-iming hadiah bukan menjadi efek penolak maupun tambahan pendorong bagi tindakan netral berupa berulang kali menawarkan makanan.

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Food Quality and Preference, lebih dari 95 persen anak mau makan sayuran yang tidak mereka sukai setelah diberi waktu empat minggu. Sementara, rayuan berupa hadiah stiker dan mainan bagi yang bersedia melahap sayuran hanya meningkatkan proporsi dua persen.

“Pendeknya, hasil penelitian terakhir ini mengkonfirmasi kesimpulan sejumlah penelitian sebelumnya. Membuat anak menyukai dan mengkonsumsi sayuran yang awalnya tidak disukai hanya dapat ditingkatkan dengan cara eksposur rasa berulang-ulang,” begitu laporan penelitian itu.

Sayuran untuk penelitian ini adalah chicory (sawi putih) –yang dipilih ibu-ibu tapi termasuk sayuran yang paling tidak disukai anak. Sayuran lain yang tidak disukai termasuk kecambah, kacang polong, bayam dan courgettes.

Salad chicory yang rasanya agak pahit disajikan di kantin sekolah pra-PAUD saat istirahat. Anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama, hanya diminta memakan tanpa dorongan lebih jauh. Kelompok kedua, diberi hadiah stiker dan iming-iming jika stikernya cukup banyak maka mereka bisa memenangkan hadiah mainan. Kelompok ketiga diberi pujian lisan.

Dalam uji coba pertama, hasilnya tak tampak beda. Kelompok ketiga hanya beda sedikit dalam menghabiskan makanan daripada kelompok kedua. Yang tidak menghabiskan makanan tercatat, kurang dari 85 persen dari kelompok pertama, 85 persen dari kelompok kedua, dan 90 persen dari kelompok ketiga.

Tapi, setelah diberi salad sawi putih delapan kali dalam sebulan, ada sedikit perbedaan. Semuanya bisa menghabiskan makanan. Namun, lebih banyak anak yang mau menikmati salad itu saat diminta melakukannya daripada yang dipuji secara aktif karena melakukannya. Bahkan, anak yang diberi stiker dan iming-iming hadiah mainan malah lebih jarang memakan sampai habis.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.