Koyo Ini Bisa Awasi Pasien Stroke di Rumah

MEPNews.id – Begitu kena serangan stroke, seseorang harus mendapatkan perawatan cepat darurat dan perawatan jangka panjang. Perawatan cepat darurat dilakukan di rumah sakit dengan perlengkapan medis untuk menyelamatkan nyawa atau memperkecil peluang kematian jaringan. Perawatan jangka panjang untuk memastikan kemajuan kondisi atau mencegah kena stroke lagi.

Untuk perawatan jangka panjang di rumah, ada teknologi baru yang diproyeksikan sangat membantu. Seperti dikabarkan Maria Temming di ScienceNews edisi 17 Februari 2018, ada sensor yang bisa meregang yang ditempelkan di tenggorokan untuk melacak pemulihan jangka panjang penderita stroke.

Perangkat berbentuk koyo Band-Aid ini berisi sensor yang bisa mendeteksi pergerakan otot dan getaran pita suara. Data sensor tersebut dapat membantu dokter mendiagnosis dan memantau keefektifan perawatan tertentu untuk kondisi pasca-stroke, antara lain kesulitan menelan atau berbicara.

Para peneliti melaporkan, dalam konferensi pers pertemuan tahunan Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan di Austin, Texas, pada 17 Februari, sekitar 65 persen penderita stroke mengalami kesulitan menelan dan sekitar sepertiga kesulitan melakukan percakapan.

“Koyo ini dapat memantau pola bicara lebih terandalkan daripada mikrofon, karena langsung bisa merasakan gerakan jaringan daripada sekadar merekam hasil suaranya,” kata penulis studi John Rogers, ilmuwan material dan bioengineer dari Northwestern University di Evanston, Illinois. “Orang tidak bisa mengambil data apa pun dari suara bising. Dengan koyo ini, Anda bisa berada di sebelah mesin jet pesawat terbang dan tetap bisa memantau gerakan jaringan pembentuk suara. Anda bisa melihat sinyal sensornya.”

Dikembangkan oleh tim yang dipimpin Rogers, koyo sensor ini memiliki baterai berketahanan 12-jam yang dapat diisi ulang dan terus melakukan streaming data ke smartphone. Para periset kini menguji sensor itu pada pasien stroke betulan untuk melihat bagaimana perangkat itu bisa dibuat lebih ramah pengguna.

Misalnya, tim peneliti ini menyadari pasien mungkin tidak terlalu nyaman memakai sensor yang mudah terlihat orang lain. Maka, jika dilengkapi dengan sensor gerak lebih peka, koyo ini bisa dikenakan lebih rendah di leher seseorang atau tersembunyi di balik kemeja, dan masih bisa memantau gerakan tenggorokan.

Jenis sensor ini juga bisa melacak pemulihan pasien kanker leher, yang biasanya punya masalah menelan dan berbicara akibat terapi radiasi dan pembedahan. Perangkat ini juga dapat mengukur tingkat pernapasan dan detak jantung untuk memantau kualitas tidur dan membantu mendiagnosis apnea. Rogers mengharapkan, teknologi yang dapat dikenakan ini siap digunakan secara luas dalam satu atau dua tahun ke depan. (*)

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.