Mewujudkan Lembaga Diklat Prestisius

Diklat Berbasis Kelitbangan dan Litbang Berbasis Kediklatan: Sebuah Keniscayaan dalam Mewujudkan Lembaga Diklat Prestisius
Oleh: Sholehuddin*

MEPNews.id —-Saat ini lembaga diklat di bawah Kementerian Agama menunjukkan komitmennya sebagai lembaga diklat yang prestisius. Paling tidak hal itu dibuktikan dengan concernnya tiga petinggi penting di Kementerian Agama, dan khususnya di Balitbang dan Diklat serta Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan. Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin (LHS) memberikan spirit pada acara Rakor Widyaiswara baik di Surabaya (2017) yang dihadiri langsung maupun di Bogor (2018) yang diwakili Sekjen Kememenag Prof. Dr. H. Nur Syam.

Dalam sambutannya, LHS mengibaratkan widyaiswara seperti chef yang meramu masakan yang akan dikonsumsi pelanggan. Artinya, enak dan tidaknya sebuah diklat, bergantung pada widyaiswaranya dalam meramu diklat. Selain itu, widyaiswara juga diibaratkan seprti charger yang memberikan energi. Maka, widyaiswara selain mencharger peserta diklat, ia juga dituntut mencharger dirinya sendiri.

Gayung bersambut, Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag RI Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. tidak ingin ketinggalan moment. Ketika menutup kegiatan Pengembangan Desain Kirikulum Diklat di Batam (15/2), Prof. Abdurrahman mengungkapkan pentingnya sistem diiklat. Kurikulum adalah bagian dari sistem diklat. Kurikulum dengan demikian haris menenuhi prinsip fleksibility dan utility. Artinya kurikulum diklat harus berbasis kompetensi dan sesuai kebutuhan stakeholder. Karena itu, tahun ini menurutnya, litbang dalam melakukan risetnya berbasis kediklatan. Tema-tema penelitian sejauh mana diarahkan pada kebutuhan diklat. Jika hal ini bisa terwujud, lembaga diklat akan terbantu dalam menentukan jenis diklatnya betdasarkan kebutuhan pengguna, bukan kebutuhan lembaga diklat (Pusdiklat dan Balai Diklat). Ini sekaligus akan menjadi penyeimbang dalam Analisis Kebutuhan Diklat (AKD). Karena itu, menurut saya, proses dan hasil riset litbang harus disinergikan dengan proses dan hasil AKD yang juga menjadi tuntutan lembaga diklat.

Kedua harapan itu, diterjemahkan oleh Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Dr. H. Mahsusi. Mantan Kepala Biro Kepegawaian ini, menemukan format berupa Diklat Prestisius. Artinya, diklat yang unggul, berwibawa, dan memiliki kebanggaan. Karena itu upaya yang dilakukan saat ini antara lain, pertama, membangun produk sistem berupa kurikulum diklat. Kurikulum terus dibenahi dari struktur kurikulum, desain program, indikator ketercapaian yang sudah dibuat jukinisnya, hingg pada akhirnya berbuah modul diklat.

Kedua, penguatan SDM. Berkali-kali ia sampaikan bahwa, sebuah lembaga apapun, yang menjadi ujung tombaknya adalah tenaga pengajarnya. Ini sejalan dengan harapan Menag LHS, Widyaiswara harus diberdayakan. Saat ini sudah dilakukan revisi Keputusan Kepala Badan tentang Spesialisasi widyaiswara. Selain itu, widyaiswara juga akan menerima diklat substansi berdasarkan spesialisasinya, yakni Training of Trainer yang akan berlangsung pada bulan Maret mendatang. Inilah bentuk chargernya bagi widyaiswara.

Ketiga, saat ini sudah terbentuk agen perubahan pada seluruh lembaga diklat. Hal ini tidak lain dalam rangka memperkuat lembaga diklat dalam mewujudkan diklat prestisius. Agen ini menjadi ‘dewan kehormatan’ pada tataran lembaga diklat.

Apa yang dilakukan lembaga diklat Kemenag ini, tidak lain agar menjadikan diklat menjadi diklat prestisius. Inilah buah dan esensi dari Litbang Berbasis Kediklatan, dan DIklat Berbasis Kelitbangan.
* Dr. Sholehuddin, M.Pd.I. adalah widyaiswara pada Balai Diklat Keaganaan.Surabaya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.