Pengencer Darah Bisa Bikin Stroke Manula

MEPNews.id – Jika usia sudah tua dan berrisiko, harap selalu berhati-hati menjaga kondisi diri. Hal-hal yang wajar untuk manusia pada umumnya, bisa berbahaya bagi manula. Salah satunya, antikoagulan alias pengencer darah. Orang berusia di atas 65 tahun dapat mengalami peningkatkan risiko stroke jika menggunakan antikoagulan untuk mengobati detak jantung yang tidak teratur. Apa lagi jika juga memiliki penyakit ginjal kronis.

Penelitian baru yang tim dari University College London (UCL), St George’s University of London dan University of Surrey di Inggris serta Guys and St Thomas’ Hospitals NHS Foundation Trust dan NYU School of Medicine yang dipublikasikan 14 Febebruari 2018 di BMJ, memperingatkan dokter harus lebih berhati-hati dalam meresepkan antikoagulan pada populasi di atas.

“Penyakit ginjal kronis sering terjadi pada manula. Satu dari tiga manula yang kena ginjal juga memiliki atrial fibrillation (detak jantung tidak teratur). Mereka biasanya mendapat resep pengencer darah untuk mengurangi risiko stroke. Namun, untuk kelompok ini, pengencer darah tampaknya menghasilkan kebalikan efek yang diinginkan,” kata penulis utama, Dr Shankar Kumar dari UCL Center for Medical Imaging.

Para peneliti memperkirakan hampir setengah juta orang di atas usia 65 di Inggris mengalami penyakit ginjal kronis dan atrial fibrillation.

“Orang-orang dengan ginjal kronis cenderung memiliki banyak komplikasi, termasuk penyakit kardiovaskular. Penggumpalan darah mereka lebih banyak, tetapi mereka juga lebih mudah pendarahan. Sangat sulit untuk menyeimbangkan perawatan antara dua kondisi berbeda ini,” kata penulis senior John Camm, profesor kardiologi klinis di St George’s, University of London.

“Kami menyerukan studi terkontrol secara acak untuk menguji nilai klinis dan keamanan dari terapi antikoagulan untuk orang-orang dengan atrial fibrillation dan penyakit ginjal kronis,” kata Dr Kumar.

Dalam studi kohort retrospektif berbasis populasi, para peneliti menggunakan database dari Royal College of General Practitioners untuk mengidentifikasi 4.848 orang berusia di atas 65 tahun dengan ginjal kronis dan atrial fibrillation yang baru didiagnosis. Separo dari mereka memakai antikoagulan, dan sisanya tidak. Peserta dipantau rata-rata 506 hari.

Selama masa studi, partisipan yang memakai antikoagulan ternyata 2,6 kali lebih mungkin kena stroke dan 2,4 kali lebih mungkin mengalami perdarahan dibanding yang tidak menggunakan antikoagulan. Tingkat kasar untuk kena stroke iskemik (tipe yang paling umum) adalah 4,6 per 100 orang per tahun untuk orang-orang yang memakai antikoagulan, dan 1,5 untuk yang tidak memakai antikoagulan. Dengan kata lain, jika peserta diamati tepat satu tahun, maka akan ada sekitar 4,6 kasus stroke iskemik per 100 orang pada kelompok yang memakai pengencer darah, dan 1,5 kasus stroke iskemik per 100 orang pada kelompok yang tidak mengencerkan darah.

Tingkat kematian pada kelompok antikoagulan sedikit lebih rendah. Para peneliti berspekulasi itu mungkin disebabkan pengurangan risiko stroke fatal atau serangan jantung. Namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan penyebabnya.

“Hasil kerja kami menunjukkan kekuatan besar data dalam memberikan bukti nyata untuk mempelajari skenario klinis penting. Hingga tersedia data lebih lanjut, kami sangat menyarankan dokter umum, nefrologis dan ahli jantung mempertimbangkan risiko dan manfaat pemberian antikoagulan atau membuat keputusan bersama pasien tentang penencer darah,” kata Profesor David Goldsmith dari St George’s, University of London. (*)

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.