Makanan Ultra-Olahan Mungkin Terkait Kanker

MEPNews.id – Hati-hati mengkonsumsi makanan olahan tingkat tinggi. Hasil penelitian yang diterbitkan The BMJ edisi 14 Februari 2018 mengungkap hubungan antara asupan makanan ‘ultra-olahan’ dengan kanker. Meski masih diperlukan eksplorasi lebih lanjut, hasil ini memperingatkan kita bahwa konsumsi makanan olahan ultra cepat saji bisa mendorong peningkatan beban kanker pada dekade berikutnya.

Makanan ‘ultra-olahan’ adalah yang beberapa kali diproses dari bahan mentah dan bisa langsung disantap atau diproses lagi setelah keluar dari pabrik. Antara lain; makanan panggang dalam kemasan, makanan ringan dalam kemasan, minuman bersoda, sereal manis, makanan siap saji, hingga produk daging yang dilarutkan. Makanan ini sering mengandung kadar gula, lemak, dan garam cukup tinggi, namun kurang vitamin dan serat. Di beberapa negara maju, makanan demikian diperkirakan menyumbang 50% dari total asupan energi harian.

Beberapa penelitian telah menghubungkan antara makanan ultra-olahan dengan risiko obesitas, tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi. Namun bukti kuat yang menghubungkan makanan itu terhadap risiko kanker masih langka. Maka, tim peneliti di Prancis dan Brasil, mengevaluasi hubungan potensial antara asupan makanan ultra-olahan dan risiko kanker secara keseluruhan, serta kanker payudara, prostat, dan usus (kolorektal).

Temuan mereka didasarkan pada 104.980 responden orang dewasa Prancis yang sehat (22% pria; 78% wanita) dengan usia rata-rata 43 tahun. Para responden diminta mengisi dua kuesioner diet online 24 jam yang dirancang untuk mengukur asupan khas 3.300 item makanan berbeda (NutriNet – studi kohort Santé).

tokoMakanan dikelompokkan menurut tingkat pengolahan dari yang sangat sederhana sekali proses hingga yang rumit beberapa kali proses. Kasus kanker diidentifikasi dari pernyataan peserta yang divalidasi oleh catatan medis dan database nasional rata-rata selama lima tahun. Beberapa faktor risiko kanker, antara lain usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat kanker dalam keluarga, status merokok dan tingkat aktivitas fisik, turut diperhitungkan.

Hasilnya menunjukkan, peningkatan 10% proporsi makanan ultra-olahan dalam diet terkait dengan peningkatan 12% risiko kanker secara keseluruhan dan 11% risiko kanker payudara. Namun, tidak ada hubungan signifikan dengan kanker prostat dan kolorektal. Tidak ada hubungan signifikan antara makanan olahan yang diproses sederhana (misalnya, sayuran dalam kaleng, keju dan roti tawar yang baru dikemas) dengan risiko kanker. Namun, konsumsi makanan segar atau makanan olahan minimal (buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, nasi, pasta, telur, daging , ikan dan susu) terkait dengan sedikit risiko kanker keseluruhan dan kanker payudara.

Penelitian ini bersifat observasional. Jadi, tidak dapat ditarik kesimpulan tegas tentang sebab dan akibat. Para peneliti juga menunjukkan beberapa keterbatasan, antara lain tidak mengesampingkan beberapa kesalahan klasifikasi makanan atau deteksi setiap kasus kanker baru. Meski demikian, sampel penelitiannya besar dan dapat menyesuaikan berbagai faktor potensial berpengaruh. “Sepengetahuan kami, ini penelitian pertama yang menyoroti peningkatan risiko keseluruhan –khususnya kanker payudara, terkait dengan asupan makanan ultra-olahan,” tulis para peneliti. “Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami dampak dari berbagai tahap pemrosesan.”

Dalam editorial di penerbitan terkait, Martin Lajous dan Adriana Monge dari National Institute of Public Health di Meksiko, mengulas, “Studi ini memberikan wawasan awal tentang kemungkinan hubungan antara makanan ultra-olahan dengan kanker. Namun, kita masih belum seutuhnya memahami implikasi penuh dari pengolahan makanan terhadap kesehatan.”

Kedua penilai menunjukkan beberapa tantangan, antara lain mengidentifikasi unsur-unsur yang tepat dalam makanan ultra-olahan yang dapat menyebabkan kanker, dan dampak potensial faktor tak terukur terhadap hasilnya. “Perhatian harus diberikan pada mentransmisikan kekuatan dan keterbatasan analisis terbaru ini kepada masyarakat umum dan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kompleksitas yang terkait dengan penelitian nutrisi pada populasi.”

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.